Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Terlihat beberapa wanita tampak duduk berjejer sambil tekun menyangrai biji melinjo di atas wajan panas.
Dengan gerakan terampil, mereka kemudian memukul-mukul biji melinjo tersebut hingga pipih untuk diolah menjadi emping.
Aktivitas ini berlangsung di rumah produksi emping melinjo Aulia Putri Tunggal yang berlokasi di Sukamaju, Kota Bandar Lampung, pada Jumat (3/4/2026).
Masruroh (45) selaku owner dari emping melinjo Aulia Putri Tunggal menceritakan awal mula usahanya berdiri, yakni meneruskan usaha sang ibu.
“Ibu saya dulunya juga usaha emping, jadi dari dulu saya sudah terbiasa untuk membuat emping,” ungkapnya Jumat (3/4/2026).
Baca Juga Awalnya Cuma Bantu Tante, Tara Hobi Bikin Kue Kini Jadi Bisnis Menguntungkan
Ia mengaku mulai belajar membuat emping dari orang tuanya saat usia 15 tahun.
Namun, secara serius mulai merinitis usaha beberapa sejak beberapa tahun terakhir, dan mulai berkembang pada 2022 dengan sistem penitipan di berbagai toko oleh-oleh di Bandar Lampung.
“Dulu hanya produksi saja, sekarang baru mulai dikenal karena dititipkan ke toko-toko,” ujarnya.
Dalam sebulan, ia mampu menjual sekitar 200 hingga 300 kemasan emping ukuran 250 gram dengan harga Rp 25.000.
Bahkan, pada momen tertentu seperti akhir tahun, permintaan bisa melonjak hingga 1.500 kemasan per bulan.
Produksi hariannya berkisar antara 5 hingga 10 kilogram, tergantung ketersediaan tenaga kerja.
Proses pembuatan masih dilakukan secara tradisional, mulai dari menyangrai melinjo menggunakan pasir laut dan memukulnya hingga pipih lalu dijemur di sinar matahari yang terik.
“Kualitas itu yang utama. Melinjo harus bersih dan bagus,” ucapnya.
Ia juga mengatakan, menggunakan pasir laut menjadi salah satu ciri khas dalam proses produksinya emping melinjo miliknya.
Menurutnya, pasir laut lebih bersih dan menghasilkan emping yang lebih baik dibanding pasir biasa.
“Kalau untuk menyangrai biji melinjo pasir laut lebih bersih, kalau pakai pasir biasa yang untuk pembangunan itu lebih kotor dan ada debunya saat menyangrai,” tuturnya.
Meski permintaan terus meningkat, usaha ini tidak lepas dari tantangan.
Salah satu kendala terbesar adalah ketersediaan bahan baku melinjo yang bersifat musiman dan kemampuan memproduksi dalam jumlah banyak.
“Semuanya masih dikerjakan dengan manual, jadi kalau banyak kita memerlukan beberapa waktu dan tidak bisa terburu-buru,” ucapnya.
“Melinjonya juga kalau lagi tidak musim, sulit dicari. Tapi kita siasati dengan stok,” tambahnya.
Cuaca juga menjadi tantangan dalam usaha yang ia tekuni, sebab cuaca sangat berperan penting dalam pengeringan emping.
“Kalau cuacanya bagus hanya memerlukan waktu 30 menit untuk menjemur, kalau musim hujan harus nunggu matahari dulu,” jelasnya.
Saat ini, emping melinjo Aulia hanya menjual produk emping mentah saja, namun jika ada permintaan ia juga bisa produksi emping yang digoreng dan siap santap.
Dalam kondisi normal, usaha ini mampu menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp 5 juta per bulan.
Meski masih mengandalkan sistem penitipan di toko dan belum merambah penjualan online secara maksimal, Masruroh memiliki harapan besar untuk mengembangkan usahanya ke pasar digital.
“Saya juga pengen jual di online, sudah pernah dapat pelatihan untuk jualan online, tapi saya gaptek jadi selesai pelatihan sudah lupa caranya,” tutupnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)