SRIPOKU.COM, BANYUASIN — Nelayan di wilayah Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, masih menghadapi kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk melaut akibat tidak adanya SPBU terapung di kawasan tersebut.
Kondisi ini memaksa nelayan mencari alternatif pasokan BBM dari sumber tidak resmi, seperti membeli dari tongkang atau kapal-kapal besar yang menjual sisa bahan bakar.
Seorang nelayan Sungsang yang enggan disebutkan namanya mengatakan, harga solar yang diperoleh dari jalur tersebut berkisar antara Rp9.000 hingga Rp10.000 per liter, yang dinilai cukup memberatkan.
“Dengan harga segitu memang mahal, tapi mau tidak mau tetap kami beli karena harus melaut untuk mencari nafkah keluarga,” ujarnya, Jumat (3/4).
Ia mengungkapkan, sulitnya mendapatkan solar kerap membuat nelayan mempertimbangkan untuk tidak melaut.
Namun, tuntutan ekonomi memaksa mereka tetap berangkat meski hasil tangkapan tidak selalu sebanding dengan biaya operasional.
“Kadang hasilnya tidak banyak dari modal yang dikeluarkan, tapi kami tetap bersyukur masih bisa mencari penghidupan,” katanya.
Para nelayan berharap pemerintah dapat menyediakan SPBU terapung di wilayah Sungsang untuk mempermudah akses BBM dan menekan biaya operasional melaut.
“Kami berharap ada SPBU terapung di Sungsang agar nelayan tidak kesulitan lagi mendapatkan minyak,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Banyuasin IV, Romi Chandra, mengatakan nelayan di wilayahnya tetap melaut meski menghadapi keterbatasan BBM.
Menurutnya, kondisi cuaca yang mulai membaik turut mendukung aktivitas nelayan.
“Tidak adanya SPBU terapung membuat harga BBM yang dibeli nelayan menjadi mahal. Jika ada SPBU terapung, tentu akan sangat membantu mereka,” ujarnya.