Momen Paskah di Kalteng, Jejak Sejarah GKE Maranatha Sampit Sebagai Gereja Tertua di Kotim
Nia Kurniawan April 03, 2026 05:50 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Suasana khidmat terasa di sejumlah gereja saat umat Kristiani memperingati Paskah pada Jumat (3/4/2026). 

Di tengah momentum sakral tersebut, tersimpan kisah panjang perjalanan iman yang membentuk salah satu pusat pelayanan gereja sekaligus gereja tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yakni GKE Maranatha Sampit.

Baca juga: Plt Sekda Kalteng Buka Bazar UMKM Paskah, Ajak Masyawakat Rayakan Sukacita dan Dukung UMKM Lokal

Gereja Maranatha Sampit sendiri terletak di Jalan Jenderal S Parman, Kelurahan MB Hulu, Kecamatan MB Ketapang, dan hingga kini menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan umat Kristiani di wilayah tersebut.

Pendeta GKE Maranatha Sampit, Medio Rapano, menuturkan bahwa sejarah masuknya kekristenan di wilayah Mentaya bermula sejak tahun 1924 di Desa Kandan. 

Saat itu, ajaran Injil dibawa oleh para pendatang dari Kapuas yang melakukan pelayanan sederhana dari rumah ke rumah.

“Awalnya pelayanan dilakukan secara sederhana oleh para pendatang, berpindah dari rumah ke rumah untuk menyampaikan kabar baik,” ungkap Medio saat ditemui. 

Perjalanan pelayanan tersebut sempat menyentuh wilayah Samuda. Namun, perkembangan yang lebih pesat justru terjadi di Sampit hingga menjadikannya pusat penyebaran jemaat.

Tonggak penting terjadi pada tahun 1937, ketika gereja pertama di Sampit mulai berdiri dengan bangunan berbahan kayu. 

Dua tahun berselang, tepatnya 1939, gereja tersebut resmi disahkan oleh tokoh asal Jerman.

“Tahun 1937 berdiri gereja pertama dari kayu. Lalu tahun 1939 disahkan oleh Tuan Becker dari Jerman. Pelayanan awal dilayani oleh badan sending dari klasis Belanda di Amsterdam,” jelasnya.

Menurut Medio, istilah klasis pada masa itu setara dengan resort dalam struktur gereja saat ini. Seiring waktu, Sampit berkembang menjadi salah satu resort penting dalam pelayanan gereja di wilayah tersebut.

Memasuki periode 1953 hingga awal 1960-an, pelayanan semakin kuat dengan hadirnya pendeta yang menetap, salah satunya Pendeta Benyamin Adam. 

Kehadiran mereka menjadi titik balik dalam penguatan organisasi dan pelayanan jemaat.

Seiring pertumbuhan jumlah jemaat dan kondisi ekonomi yang semakin membaik, Gereja Maranatha terus mengalami pembenahan. Bangunan yang awalnya sederhana perlahan berubah menjadi gereja permanen.

Dalam catatan sejarah internal gereja, pembangunan GKE Maranatha juga melalui sejumlah tahapan penting, di antaranya dipelopori oleh Set Saloh pada periode 1976–1979, kemudian dilanjutkan dengan rehabilitasi bangunan pada 1997 hingga 2000.

Dari pusat di Sampit, perkembangan jemaat meluas ke berbagai wilayah seperti Kandan, Bajarum, hingga Tumbang Kuling dan Mentaya Hulu.

Kini, perkembangan gereja di Kotim semakin pesat. Selain GKE Maranatha, berdiri pula gereja lainnya seperti Eklesia dan Gereja Parapah yang menjadi salah satu pusat pelayanan baru.

“Gereja Parapah itu yang paling baru, lokasinya di Jalan Sudirman kilometer 7, dengan luas lebih dari dua hektare. Pembentukan panitia dimulai tahun 2008 dan pentahbisan dilakukan pada 2018,” ujarnya.

Saat ini, GKE di Kotawaringin Timur memiliki empat resort definitif dan empat calon resort, dengan jumlah jemaat mencapai sekitar 1.158 kepala keluarga atau kurang lebih 5.500 jiwa.

Dalam momentum Paskah, Medio menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan inti dari iman Kristen.

“Hari Jumat Agung memperingati Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kemudian pada hari Minggu, Dia bangkit dari kematian. Itulah kemenangan atas maut dan dasar keselamatan bagi umat yang percaya,” jelasnya.

Antusiasme jemaat pun terlihat tinggi. Rangkaian ibadah digelar berkali-kali untuk menampung membludaknya kehadiran umat.

“Di Maranatha ada tiga kali ibadah, Eklesia tiga kali, dan Parapah dua kali. Jemaat sangat banyak, bahkan harus menambah kursi karena membludak,” tuturnya.

Bagi umat Kristiani, lanjut Medio, kebangkitan Kristus menjadi dasar pengharapan sekaligus alasan utama beribadah setiap hari Minggu.

“Paskah itu sangat penting, karena Yesus bangkit dan memberikan keselamatan bagi umat manusia. Itulah yang menjadi dasar iman dan pengharapan umat Kristen,” pungkasnya.

(Tribunkalteng.com/Herman) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.