TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyebut melakukan pengamatan secara terus menerus (surveilans) aktif untuk mendeteksi kasus suspek campak di masyarakat.
Dijelaskan, kegiatan ini dijalankan oleh puskesmas hingga tingkat kelurahan, sebagai bagian dari pemantauan dan penelusuran kasus.
Baca juga: Waspada! Ribuan Kasus Campak Tersebar di Jateng, Ini Daerah Paling Terdampak
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam menyebutkan, temuan kasus tidak hanya berasal dari pasien yang datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga dari hasil penelusuran langsung di lapangan.
"Jadi kawan-kawan Puskesmas itu melakukan kegiatannya tidak hanya kepada orang sakit kemudian datang ke Puskesmas lalu terdiagnosa, tapi memang ada suspek itu kemudian dilakukan surveilans oleh kawan-kawan," jelas Hakam, Jumat (3/4/2026).
Ia menambahkan, sebagian temuan berasal dari tindak lanjut terhadap data suspek yang telah diidentifikasi sebelumnya.
"Ada kasus tapi memang itu didapatkan dari hasil active test. Jadi tidak dari orang atau kita yang praktik tapi memang kita ada uapaya-upaya surveilans, itu kan pengamatan ya di masyarakat. Itu yang kita lakukan," katanya.
Selain itu, lanjutnya, Dinas Kesehatan melibatkan puskesmas dan rumah sakit dalam pelaksanaan pemantauan serta peningkatan cakupan vaksinasi campak.
Evaluasi capaian imunisasi dilakukan secara berkala untuk mengetahui wilayah dengan cakupan yang masih perlu ditingkatkan.
"Kami dengan 40 puskesmas yang kita punya, kemudian rumah sakit, meningkatkan cakupan vaksinasi untuk campak MR dan SPK. Nah, cakupannya kita pastikan setiap minggu itu kita pantau mana yang kira-kira kelurahan yang cakupannya masih rendah," terangnya.
Berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pada Triwulan I 2026 Kota Semarang mencatat 63 temuan suspek campak dan berada di urutan kesembilan di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Dari jumlah tersebut, dua kasus terkonfirmasi positif campak dan rubela berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Baca juga: Pati Masuk Tiga Besar KLB Campak di Jateng, DPRD Panggil Dinas Kesehatan
Secara keseluruhan, jumlah suspek campak di Jawa Tengah pada periode yang sama mencapai 1.490 kasus.
Temuan terbanyak tercatat di Kudus sebanyak 228 kasus, diikuti Brebes 126 kasus, dan Banyumas sebanyak 120 kasus.
Puncak kasus suspek campak ada pada bulan Januari 2026 dengan jumlah kasus 792 suspek. (idy)