SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC — Laporan intelijen terbaru Amerika Serikat mengungkap bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer signifikan, khususnya dalam peluncuran rudal dan penggunaan drone, meskipun telah digempur oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel selama lima minggu terakhir.
Menurut tiga sumber yang mengetahui isi laporan tersebut, sekitar 50 persen peluncur rudal Iran masih dalam kondisi utuh.
Selain itu, Iran juga dilaporkan masih menyimpan ribuan drone kamikaze yang siap digunakan.
Salah satu sumber intelijen memperingatkan bahwa kondisi ini tetap berbahaya bagi stabilitas kawasan.
“Mereka masih sangat siap untuk menciptakan kekacauan total di seluruh kawasan,” ujarnya, seperti dikutip dari CNN, Kamis (2/4/2026).
Selain peluncur rudal, sekitar separuh kemampuan drone Iran juga disebut masih bertahan.
Sementara itu, sebagian besar rudal jelajah pertahanan pesisir tidak tersentuh serangan karena tidak menjadi fokus utama kampanye udara AS.
Keberadaan jaringan terowongan dan gua bawah tanah yang luas menjadi salah satu faktor utama sulitnya menghancurkan aset militer Iran.
Banyak peluncur rudal disembunyikan di lokasi tersebut, sehingga tetap aman dari serangan udara.
Baca juga: 16 Drone MQ-9 Reaper AS Hancur Selama Perang Lawan Iran, Kerugian Capai Rp 8,4 Triliun
Bertolak Belakang dengan Klaim Gedung Putih
Temuan intelijen ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah hancur total.
Dalam pidatonya pada Rabu (1/4/2026), Trump menyebut kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal dan drone telah berkurang drastis. Ia juga mengklaim fasilitas produksi senjata Iran telah hancur.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, turut membela klaim tersebut. Ia menyatakan bahwa serangan Iran telah menurun hingga 90 persen, baik untuk rudal balistik maupun drone.
“Inilah faktanya: serangan rudal balistik dan drone Iran turun 90 persen, angkatan laut mereka tersapu bersih, dan dua pertiga fasilitas produksi mereka rusak atau hancur,” kata Kelly.
Ia menambahkan bahwa Iran saat ini berada dalam kondisi militer yang semakin melemah dan hanya memiliki satu pilihan, yakni melakukan kesepakatan dengan AS.
Perbedaan Data AS dan Israel
Meski intelijen AS menyebut sekitar 50 persen peluncur rudal masih utuh, militer Israel memiliki estimasi lebih rendah, yakni hanya sekitar 20 hingga 25 persen.
Perbedaan ini disebabkan metode perhitungan yang berbeda. Israel tidak memasukkan peluncur yang tersembunyi di dalam terowongan atau yang tidak dapat diakses sebagai aset yang masih aktif.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menekankan bahwa penurunan intensitas serangan Iran lebih penting dibandingkan jumlah aset yang dihancurkan.
“Serangan rudal balistik terhadap pasukan kami turun 90 persen sejak awal konflik, begitu pula dengan drone kamikaze,” ujarnya.
Namun, seorang sumber intelijen menilai target penyelesaian konflik dalam dua hingga tiga minggu, seperti yang diharapkan pemerintah AS, tidak realistis.
“Kita bisa terus menghajar mereka, tetapi Anda sudah gila jika berpikir ini akan selesai dalam dua minggu,” katanya.
Terowongan dan Ancaman di Selat Hormuz
Penggunaan taktik “tembak dan lari” serta fasilitas bawah tanah menjadi keunggulan Iran dalam mempertahankan kemampuan militernya.
Analis dari Critical Threats Project, Annika Ganzeveld, menyebut bahwa AS kini mulai menargetkan pintu masuk terowongan serta alat berat yang digunakan Iran untuk membuka akses ke fasilitas bawah tanah.
Di sektor maritim, kekuatan angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga masih cukup signifikan. Diperkirakan sekitar setengah dari kapasitasnya masih bertahan, termasuk ratusan hingga ribuan kapal kecil dan kendaraan tanpa awak.
Iran juga dinilai masih memiliki kemampuan untuk mengancam jalur pelayaran strategis, khususnya di Selat Hormuz.
“Masih ada banyak hal yang tersisa—termasuk proksi dan drone. Iran baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka tetap mampu menargetkan pelayaran di kawasan tersebut,” ujar Ganzeveld.