Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kenaikan harga plastik belakangan ini mulai dirasakan pelaku usaha, terutama di sektor makanan dan kemasan.
Kondisi tersebut dinilai tidak lepas dari ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor serta tekanan biaya energi dalam industri petrokimia.
Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menjelaskan bahwa mahalnya harga plastik saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, mulai dari bahan baku hingga energi produksi.
Baca juga: Harga Plastik di Bandung Melonjak Hampir 100 Persen, Pedagang Kaki Lima Terpaksa Tekan Keuntungan
“Plastik itu kan bahan bakunya sebagian impor. Kemudian produksinya juga menggunakan energi yang tidak sedikit, karena bagian dari industri petrokimia,” ujar Acuviarta, kepada Tribunjabar.id, Jumat (3/4/2026).
Ia menambahkan, ketergantungan impor terutama dari Tiongkok membuat harga plastik di dalam negeri sangat sensitif terhadap gangguan rantai pasok global.
Selain itu, lanjut dia, kenaikan harga di tingkat produksi dan impor turut mendorong lonjakan harga di pasar domestik.
“Kita tahu ada gangguan rantai pasok, kemudian ada kenaikan harga di tingkat produksi dan impor. Ditambah lagi ekspektasi kenaikan harga energi, itu semua mendorong harga plastik menjadi lebih mahal,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Acuviarta melihat adanya peluang dari sisi ekonomi, khususnya dalam pengembangan produk alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Dikatakannya, kenaikan harga plastik seharusnya bisa menjadi momentum untuk mendorong industri daur ulang dan penggunaan bahan alami.
“Ini seharusnya bisa mendorong penggunaan produk ramah lingkungan dan daur ulang. Itu justru bisa memunculkan pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.
Menurutnya, tren global juga mulai bergerak ke arah penggunaan bahan non-plastik.
Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat di luar negeri seperti di Australia yang mulai meninggalkan produk berbahan plastik.
“Di luar negeri, orang sudah tidak mau pakai sapu plastik. Mereka lebih memilih sapu dari bahan alami seperti injuk, karena lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Padahal, Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen bahan alami seperti injuk yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Baca juga: Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik Bikin Harga Tahu di Cibuntu Bandung Kompak Meroket
Selain itu, Acuviarta menilai berbagai bahan organik dari tanaman juga dinilai bisa menjadi alternatif pengganti plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Dia mencontohkan, masih maraknya penggunaan plastik sekali pakai, mulai dari sedotan hingga kemasan makanan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut perlu mulai diubah secara bertahap.
“Kita masih banyak menemukan sedotan plastik dan kemasan makanan berbahan plastik. Padahal bisa diganti dengan bahan yang bisa didaur ulang atau bahan alami,” katanya.
Ia juga mencontohkan inovasi yang mulai berkembang, seperti pemanfaatan pelepah pinang yang dapat diolah menjadi piring makan ramah lingkungan.
Dikatakan dia, penggunaan daun pisang sebagai pembungkus makanan juga dinilai sebagai solusi sederhana yang sudah lama dikenal di Indonesia.
“Pelepah pinang bisa dicetak jadi piring yang bagus. Atau daun pisang yang diproses, itu jauh lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Ke depan, ia mendorong adanya perubahan perilaku konsumen sebagai bagian dari solusi.
Salah satunya dengan membawa wadah sendiri saat membeli makanan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Bisa juga kita kampanyekan, kalau beli makanan bawa tempat sendiri. Itu membangun kesadaran dari awal,” kata Acuviarta.
Baca juga: Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik Bikin Harga Tahu di Cibuntu Bandung Kompak Meroket
Dia menambahkan, dengan berbagai potensi yang dimiliki, ia optimistis industri dalam negeri bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga plastik ini untuk memperkuat industri berbasis bahan alami sekaligus mendorong ekonomi yang lebih berkelanjutan. (*)