SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, membeberkan strategi Jatim dalam menghadapi dinamika global.
Hal itu disampaikan dalam seminar Jatim Talk bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur, yang digelar Bank Indonesia.
Khofifah mengatakan dinamika geopolitik global yang semakin meningkat, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, memerlukan sinergi dan kolaborasi.
Langkah adaptif sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas dan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
Kinerja ekonomi Jawa Timur sendiri, saat ini tetap solid dengan pertumbuhan mencapai angka 5,33 persen (yoy) pada tahun 2025.
“Hal itu menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada,” kata Khofifah, Jumat (3/4/2026).
Khofifah menegaskan, ketahanan ekonomi Jawa Timur harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor.
Selain itu, adaptasi diperlukan untuk menghadapi tantangan serta menangkap peluang di tengah situasi global saat ini.
Khofifah menekankan pentingnya peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Peran ini diwujudkan melalui sejumlah langkah strategis demi menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi daerah, antara lain:
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Khofifah menyebut Jawa Timur juga memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan.
“Upaya tersebut didukung melalui hilirisasi lanjutan dari bahan baku olahan, penguatan distribusi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.
Lebih lanjut Khofifah menekankan bahwa pangan menjadi salah satu kunci menghadapi situasi global yang tidak menentu.
Jawa Timur saat ini menjadi provinsi dengan ketahanan pangan terbaik dan menyuplai berbagai bahan pokok di berbagai wilayah di Indonesia bahkan pasar ekspor.
“Kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah tentu harus terus diperkuat. Kemudian percepatan hilirisasi komoditas strategis dan penciptaan iklim investasi kondusif itu juga sangat penting,” terangnya.
“Dan yang utama adalah Jawa Timur harus terus melakukan penguatan di sektor pangan. Kuncinya lahan di sektor pangan kita pastikan memadai, kemudian penguatan distribusi serta penguatan SDM,” tambahnya.
Khofifah membeberkan kondisi global saat ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional termasuk di Jawa Timur.
“Tekanan tentu ada, tapi kita juga harus tetap melihat peluang. Bahwa peluang tetap terbuka melalui pemanfaatan sumber pertumbuhan baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan strategis yang terarah,” jelasnya.
Khofifah berharap forum Jatim Talk ini bisa menjadi titik temu antar pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi.
Hal ini penting dalam merespons dinamika ekonomi global dan dampak konflik geopolitik yang tengah terjadi.
Dalam seminar ini, Bank Indonesia Jawa Timur turut menyerahkan buku LPP kepada Gubernur Jawa Timur.
Buku tersebut memuat sejumlah rekomendasi kebijakan utama, mulai dari pembangunan dan integrasi distribusi barang hingga percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri.
Rekomendasi lain mencakup penguatan ketahanan pangan dan agribisnis dalam pengendalian inflasi, pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, dan UMKM.
Dibahas pula mengenai optimalisasi kredit produktif serta optimalisasi pendapatan asli daerah pasca-opsen.
Selain itu, terdapat poin percepatan dan perluasan digitalisasi fiskal serta sistem pembayaran, hingga peningkatan produktivitas tenaga kerja serta kesejahteraan perdesaan.
Seluruh rekomendasi tersebut merupakan hasil kajian berbasis riset yang disusun melalui karya tulis dalam rangkaian East Java Economic Forum (EJAVEC).