Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG---Ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru di wilayah Kota Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai [adati alias tumpah ruah di Taman Kota Natas Labar untuk mengikuti doa Lamentasi dan mengikuti kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus dalam prosesi jalan Salib, Jumat 3 April 2026 pagi.
Sejak pukul 05.30 Wita, umat mayoritas mengenakan baju merah itu mulai datang berkumpul di lapangan Natas Labar. Umat datang di Natas Labar tanpa menggunakan kendaraan. Mereka datang dengan berjalan kaki.
Kota Ruteng benar-benar jadi 'Kota Mati' dari biasa hiruk pikuk di kota. Suasana pusat Ibu Kota Kabupaten itu benar-benar hening.
Prosesi Jumat Agung mulai pukul 07.00 Wita diawali dengan ibadat lamentasi yang dipimpin langsung oleh Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Pr didampingi sejumlah Imam Katolik.
Baca juga: Nazar Pendayung Berok Tuan Meninu dalam Prosesi Laut Semana Santa di Larantuka NTT
Pasca Ibadat Lamentasi dilanjutkan dengan prosesi jalan salib hidup atau tablo tentang kisah sengsara Yesus Kristus hingga wafat di kayu salib yang dibawakan oleh umat dari Paroki Cewo Nikit Ruteng dan diikuti oleh ribuan umat dari tujuh paroki di dalam Kota Ruteng yakni Paroki Katedral, Cewonikit, Golo Dukal, Kumba, Kristus Raja, Karot, dan Paroki Redong.
Prosesi Jumat Agung tentang kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus ini berjalan dengan aman dan lancar. Selama prosesi dijaga ketat oleh aparat keamanan yakni dari kepolisian, TNI, Pol PP, dan Dinas Perhubungan. Menariknya para pelajar muslim dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Manggarai juga ikut terlibat dalam pengamanan demi kelancaran prosesi ini.
Usai mengikuti prosesi ini, umat kemudian kembali pulang ke rumah masing-masing dengan berjalan kaki.
Uskup Ruteng Mgr. Siprianus mengaku bangga atas keterlibatan umatnya dalam kegiatan prosesi agung kisah sengsara dan wafatnya Yesus Kristus.
Karena itu, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih karena menurutnya hal yang sungguh indah karena dimana ketika umat Allah memilih untuk berhenti sejenak dari kesibukan harian, lalu bersama-sama melangkah dalam diam mengikuti jejak Tuhan memanggul salib pada jalan yang sama.
Uskup Mgr Siprianus juga menyampaikan terima kasih kepada para imam dari tujuh paroki di Kota Ruteng, panitia, pemeran tablo, seluruh umat dan aparat kemanan yang mendukung untuk kelancaran dalam kegiatan yang sakral itu.
Menurut Uskup Siprianus, dengan latihan pengorbanan hidup dan mati, tentu menghadirkan kembali jalan sengsara Tuhan secara hidup dan menyentuh. Kehadiran semua umat adalah kesaksian iman yang paling dalam karena kegiatan ini adalah sebuah ziarah batin bersama.
Masih menurut Uskup Siprianus, ada suatu yang sangat kuat dari pilihan untuk berjalan kaki dalam diam. Berjalan bersama-sama sebagai umat Allah. Hari ini semua memilih untuk berhenti merenung dan berjalan untuk belajar, bahwa mengikuti Kristus memang menuntut langkah, kesetian dan menuntut pengorbanan.
Uskup Siprianus kemudian memberikan pesan dan harapanya agar semua umat yang hadir dan kembali ke paroki dan rumah masing-masing tidak dengan tangan kosong, namun menjadikan keheningan hari ini, bukan hanya suasana lahir, tapi jalan agar hati lebih peka mendengarkan suara Tuhan.
"berziarah itu bukan selesai ketika upacara di Natas Labar itu berakhir, tapi ziarah itu sesungguhnya dimulai saat pulang. Semoga melalui kegiatan itu, iman semua semakin diteguhkan dan salib Kristus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-sehari," pungkasnya. (rob)