Nazar Pendayung Berok Tuan Meninu dalam Prosesi Laut Semana Santa di Larantuka NTT
Hilarius Ninu April 03, 2026 10:47 PM

 

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Cristin Adal


​TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA –Tepat pukul 12.00 WITA, Jumat (3/4/2026), berok Tuan Meninu atau sampan dayung tradisional  perlahan menyentuh permukaan Selat Gonsalu, Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT. 

Perahu dayung itu ditolak dari pelataran Taman Doa Tuhan Meninu oleh sekelompok pria. Ini Menandai prosesi bahari pengantaran arca Tuhan Yesus Tersalib  dari pantai Kota depan Kapela Tuan Meninu, Kelurahan Sarotari menuju Pantai Uce di Kelurahan Larantuka.

​Nazar di Balik Dayung

Di atas perahu kayu sepanjang delapan meter tersebut, lima petugas menjalankan tugas dengan penuh khidmat. Tiga orang sebagai pendayung dan dua orang sebagai penolak bambu yang menjaga stabilitas perahu.

​Kristo Diaz (42), salah satu pendayung utama, tampak tegap memegang dayung. Bagi anggota Polri yang berdinas di Polres Jayapura ini, terpilih menjadi pendayung bukan sekadar tugas, melainkan nazar  bagi keluarganya.

 

Baca juga: Mendulang Berkah dari Sisa Lelehan Lilin di Kapela Tuan Ma, Ada Doa Peziarah yang Dirawat

 

 

 

​"Ini untuk anak-anak saya. Melawan arus Gonsalu yang sangat kencang tentu tidak mudah, tapi ini amanah. Saya sudah dua kali jadi pendayung perahu Tuan. Tahun lalu dan tahun ini," ujar Kristo dengan mata berkaca-kaca sesaat sebelum berok meluncur ke tengah laut.

Selain lima petugas Tuan Meninu itu, di dalam berok "Tuhan Adi" diwakili Anton Thomas Fernandes, seorang "Mama Do" (pelayan wanita).

Lautan Manusia dan Protokol Keselamatan

Saat berok bergerak, ribuan peziarah dari atas kapal motor mulai melantunkan doa serta lagu Laudate dalam bahasa Portugis dan Lamaholot. Suasana di darat pun tak kalah khusyuk, di mana lautan manusia menyaksikan iring-iringan ratusan perahu pengawal dan kapal motor yang mengiringi Tuan Meninu menuju Pantai Kuce.

​ Setelah menempuh perjalanan laut yang sarat makna, arca Tuan Meninu berlabuh di Armida Pantai Kuce (Armida Pohon Sirih).

​Menjaga Pakem Tradisi

​Di pelataran Taman Doa Tuhan Meninu, Damianus Bataona (72), sesepuh Kapela Tuan Meninu, mengatakan bahwa berok yang digunakan bukanlah sekadar alat transportasi, melainkan benda spiritual yang memiliki napas tersendiri.

​"Usia berok ini sudah 31 tahun. Kami mengambil kayu khusus dari hutan lindung di kaki Gunung Lewotobi sekitar tahun 1995," tutur Damianus.

​Ia menegaskan pentingnya menjaga pakem tradisional sebagai harga mati. Atap berok wajib menggunakan anyaman daun gebang (Corypha utan) dan bagian samping ditutup daun lontar—tanpa mesin, tanpa modifikasi. 

"Generasi penerus tidak boleh mengubah pakem ini. Jika dirubah, ada risiko yang harus ditanggung," tegasnya.(KAN)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.