TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Inilah suasana kegiatan umat Kristiani saat misa Jumat Agung di Gereja Paroki Santo Clemens Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (3/4/2026).
Ibadah ini menjadi bagian dari peringatan wafatnya Yesus Kristus menjelang perayaan Paskah.
Gereja Katolik dengan jumlah umat sekitar 3.500 orang ini berlokasi di Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga.
Pantauan TribunnewsSultra.com, misa dimulai sekitar pukul 15.00 hingga 17.00 Wita.
Jemaat terlihat mengikuti ibadah dengan suasana khidmat dan penuh penghayatan.
Baca juga: Peringatan Paskah 2025 Gereja St Clemens Kendari Sultra, Momentum Menerima dan Membagikan Berkat
Rangkaian ibadah terdiri dari memanjatkan doa bersama sebagai bagian dari permenungan pada peringatan Jumat Agung.
Kemudian, khotbah pastor yang mengangkat makna penyaliban Yesus sebagai bentuk pengorbanan bagi umat manusia.
Pemberian hosti kepada umat, hingga cium salib sebagai bentuk penghormatan atas cinta Yesus yang telah melakukan kehendak Bapa untuk menebus dosa manusia.
Pastor Paroki Santo Clemens Kendari, Stephanus Chandra, mengatakan wafatnya Yesus di kayu salib bukanlah simbol kekalahan.
Namun, bentuk pemberian diri yang dilakukan dengan penuh kesetiaan terhadap kehendak Allah.
Baca juga: GMKI dan 22 Warga Kristiani Binaan Lapas Kelas IIA Kendari Ikuti Ibadah Perayaan Paskah 2024
Menurutnya, pengorbanan tersebut menjadi teladan bagi umat Kristiani untuk tetap setia menjalankan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
“Penyaliban dan kematian Yesus bukan sebuah kekalahan, tetapi pemberian diri," kata Pastor Stephanus.
"Ketika seseorang menjalankan kebenaran dengan sungguh-sungguh, maka akan muncul rasa lega karena telah menyelesaikan tanggung jawab dengan baik,” jelasnya.
Dalam misa Jumat Agung ini, ia mengajak umat Kristiani untuk tetap teguh dalam melakukan kebaikan.
Meskipun menghadapi tekanan atau penolakan dari lingkungan sekitar.
Baca juga: Puluhan Umat Kristiani Jemaat Gereja Emmanuel Kendari Pawai Obor Peringati Hari Paskah 2023
“Kita mungkin berbeda dengan orang lain, bisa saja dicaci, diejek, atau bahkan dibully. Namun jika kita yakin berada di jalan yang benar, maka kita harus tetap menjalankannya,” jelasnya.
Dalam momentum Paskah tahun ini, pihak gereja juga menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat.
Sebanyak 190 paket bantuan dibagikan kepada warga yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang agama.
Pastor Stephanus pun mengajak umat untuk lebih peka terhadap sesama, terutama mereka yang berada dalam kondisi sulit.
“Jangan menunggu mereka meminta. Kita diajak melihat siapa yang paling membutuhkan dan berusaha membantu mereka,” jelasnya. (*)
(TribinnewsSultra.com/Dewi Lestari)