TRIBUN-MEDAN.COM, Medan - Ratusan jemaat memadati Jalan Jamin Ginting Medan pada peringatan Jalan Salib, Jumat Agung di GBKP Runggun Km 8 Padang Bulan Medan, Jumat (3/4/2026). Visual Jalan Salib tersebut bertujuan menghayati kembali penderitaan Yesus Kristus.
Dimulai pukul 13.30 WIB dari halaman gereja, iring-iringan jemaat dari kategorial Saitun, Mamre, Moria, Permata hingga KA/KR serta BPMR berjalan sejauh kurang lebih 5 kilometer. Sepanjang perjalanan, mereka menyaksikan secara langsung dramatika sengsara Kristus dari pengadilan yang tidak adil, cambukan brutal, hinaan, hingga puncaknya penyaliban di bukit Golgota.
Setiap adegan diperagakan dengan totalitas tinggi. Pemeran Yesus tampak memikul salib dengan langkah tertatih, tubuh penuh luka, menghadirkan gambaran nyata penderitaan yang harus ditanggung demi keselamatan manusia. Suasana pun berubah hening, beberapa jemaat terlihat menunduk, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata.
Peran Yudas Iskariot menjadi salah satu momen paling menggugah. Adegan penyesalan hingga bunuh diri yang ditampilkan dengan mendalam menghadirkan refleksi kuat tentang dosa, penyesalan, dan konsekuensi pilihan hidup.
Puncak kegiatan yakni penyaliban Yesus berlangsung di lapangan Liga Cafe, yang disulap menjadi Bukit Golgota. Dalam keheningan, adegan penyaliban berlangsung dramatis dan penuh penghayatan, menutup perjalanan iman yang berlangsung hingga pukul 17.30 WIB. Ketua Panitia Paskah 2026, Ferry Purba, mengapresiasi keterlibatan seluruh pihak dalam kegiatan tersebut.
"Mereka memaknai setiap peran dengan sangat baik. Kita melihat bagaimana jemaat benar-benar tersentuh, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata. Ini menunjukkan makna Jalan Salib itu sampai ke hati," ujarnya.
Sementara itu, Daniel Mura Ginting yang telah tiga tahun berturut turut memerani Yesus, mengaku bahwa peran yang ia jalani bukan sekadar akting, melainkan sebuah pengalaman iman yang mendalam.
"Peran ini sangat berat, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara batin. Saya mencoba membayangkan penderitaan Yesus yang sesungguhnya, dan itu membuat saya semakin sadar betapa besar kasih-Nya bagi kita," kata Daniel.
Ia juga menambahkan bahwa selama proses persiapan hingga pelaksanaan, dirinya banyak mengalami perenungan pribadi.
"Saya berharap jemaat yang menyaksikan tidak hanya melihat, tetapi benar-benar merasakan dan membawa makna pengorbanan itu dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Peringatan Jumat Agung tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menggugah kesadaran iman. Di tengah langkah kaki yang menempuh jarak berkilometer dan adegan yang menguras emosi, tersimpan satu pesan kuat, Kasih Yang Rela Berkorban Tidak Pernah Sia-sia.
(sir/tribun-medan.com)