TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hilirisasi mineral dinilai menjadi kunci strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menembus rantai pasok global industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengungkapkan bahwa selama ini sebagian mineral Indonesia masih diekspor dalam bentuk mentah, sehingga nilai ekonominya lebih banyak dinikmati oleh negara lain yang memiliki industri pengolahan lebih maju.
“Padahal, melalui hilirisasi, lonjakan nilai tambah sangat signifikan,” ujar Maroef saat penayangan film dokumenter The MINDJourney di Jakarta belum lama ini.
Ia mencontohkan, bijih bauksit yang semula hanya bernilai sekitar 40 dolar AS per ton dapat meningkat menjadi 400 dolar AS atau Rp600 ribu per ton setelah diolah menjadi alumina, bahkan mencapai 2.800–3.000 dolar AS atau Rp45 juta per ton dalam bentuk aluminium.
Menurutnya, potensi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pemain dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik yang tengah berkembang pesat.
Tak hanya meningkatkan nilai ekonomi, hilirisasi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.
“Kebijakan ini mampu memperkuat daya saing industri, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan usaha mikro dan kecil (UMK) di sekitar kawasan industri,” jelasnya.
Selain itu, kontribusi terhadap penerimaan negara juga meningkat melalui pajak, royalti, dan devisa ekspor.
Maroef menegaskan, hilirisasi bukan sekadar agenda industrialisasi, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun kemandirian ekonomi nasional di tengah dinamika global.
“Mengelola sumber daya mineral tidak cukup hanya dari sisi produksi, tetapi harus terintegrasi hingga ke industri hilir agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya mineral yang bertanggung jawab dengan mengedepankan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) guna memastikan keberlanjutan industri di masa depan.
“Kekayaan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia harus dapat dikelola secara optimal agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan mendukung pembangunan masa depan Indonesia,” tegasnya.
Indonesia memiliki cadangan bauksit yang tergolong besar dan strategis untuk mendukung pengembangan industri aluminium nasional.
Berdasarkan berbagai data industri, cadangan bauksit Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1 hingga 1,2 miliar ton.
Sementara itu, total sumber daya bauksit, termasuk yang belum ekonomis untuk ditambang, diperkirakan melampaui 3 miliar ton.
Sebaran cadangan bauksit tersebut terkonsentrasi di sejumlah wilayah, terutama di Kalimantan Barat yang menjadi daerah dengan cadangan terbesar.
Baca juga: PP Presisi Kantongi Kontrak Tambang Bauksit Antam Senilai Rp 870 Miliar
Selain itu, potensi bauksit juga ditemukan di Kepulauan Riau, khususnya di wilayah Bintan, serta di Kalimantan Tengah.