Alex Puasa Tiga Minggu Sebelum Perankan Yesus pada Visualisasi Jalan Salib
muslimah April 04, 2026 05:54 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Visualisasi jalan penyaliban berjudul Kisah Sengsara Tuhan Yesus berlangsung khidmat di Gereja Katolik Paroki St Theresia Bongsari, Kota Semarang, Jumat (3/4/2026) pagi.  

Hari itu, visualisasi jalan salib atau Via Dolorosa digelar secara kolosal menjadi puncak perenungan umat Katolik dalam rangkaian Tri Hari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah. 

Puluhan pemuda dan pemudi gereja menanggalkan identitas sehari-hari mereka, dan mengambil peran dalam drama rohani yang menyayat hati.

Mereka tidak sekadar tampil namun menghidupkan kembali kisah yang berusia lebih dari dua milenium.

Kisah yang menuturkan luka, penolakan, kejatuhan, dan cinta tanpa syarat.

Baca juga: Umat Katolik Batang Rayakan Paskah, Carolus Berlatih 2 Minggu Perankan Jalan Salib

Sebuah pengorbanan yang diyakini sebagai puncak kasih Tuhan bagi umat manusia.

Dalam rangkaian adegan yang disusun menyerupai kisah Injil, umat diajak menyaksikan kembali perjalanan sengsara dari deraan, ejekan, hingga penyaliban bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan pengalaman batin yang hidup.

Sosok Yesus berjalan tertatih, memanggul salib, dikelilingi sorakan dan tekanan yang terasa nyata.

Beberapa umat memilih diam, sebagian menunduk, dan melihat dengan mata yang berkaca-kaca lainnya mengikuti setiap langkah dengan mata yang tak lepas.

Persiapan

Peran Yesus dibawakan oleh Alex Devin Christoffels, mahasiswa sekaligus anggota teater di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata. 

Ini menjadi pengalaman pertama Alex memerankan tokoh sentral dalam kisah sengsara tersebut.

Alex mengaku, melakukan persiapan bukan hanya secara fisik, melainkan juga spiritual.

Ia menjalani puasa selama tiga minggu sebelum pementasan, sebagai bentuk penghayatan terhadap peran yang dibawakannya.

“Secara fisik saya puasa dan secara rohani juga berdoa. Puasanya sekitar tiga minggu,” ujar Alex kepada Tribun Jateng, Jumat.

Alex mengaku, tantangan terbesar dalam memerankan tokoh Yesus dalam visualisasi jalan salib bukan pada fisik, melainkan mental.

“Semua pukulan, ejekan, dan lemparan itu harus diterima dengan kasih. Itu yang sulit, karena saya manusia biasa,” kata Alex.

Selama sekitar satu bulan lebih, Alex menjalani proses latihan yang cukup intens.

Referensi yang ia gunakan beragam, mulai dari film The Passion of the Christ hingga bacaan teks religius.

Namun, menurutnya, yang paling menentukan tetap pada bagaimana ia bisa memahami makna pengorbanan itu sendiri.

“Awalnya ada rasa takut, kalau gagal akan mengecewakan banyak orang. Tapi setelah dijalani, saya merasa lega,” kata Alex.

Menyentuh

Visualisasi ini melibatkan sekitar 50 orang pemain lintas usia, mulai dari remaja hingga orang tua.

Sutradara Emmanuel Darryl Girvan menyebut, proses persiapan berlangsung sekitar dua hingga dua setengah bulan, terdiri dari tahap casting dan latihan.

Tahun ini, panitia membuka kesempatan lebih luas melalui sistem open casting.

Hasilnya, banyak peserta yang terlibat tanpa latar belakang teater.

“Sebagian besar memang bukan dari dunia teater. Itu jadi tantangan tersendiri, karena kami harus mengejar kemampuan akting mereka dalam waktu relatif singkat,” ujar Darryl.

Meski demikian, ia melihat antusiasme dan komitmen para pemain justru menjadi kekuatan utama dalam pementasan kali ini.

“Talenta mereka muncul selama proses. Itu yang membuat visualisasi tahun ini terasa lebih hidup,” tambahnya.

Bagi Kepala Paroki St Theresia Bongsari, Romo Synesius Suyitna, visualisasi Jalan Salib memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar peragaan cerita.

Menurutnya, selama ini umat telah akrab dengan kisah sengsara melalui bacaan.

Namun, ketika divisualisasikan, pengalaman itu menjadi lebih konkret dan menyentuh.

“Melalui visualisasi ini, umat tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan apa yang dialami Yesus,” jelasnya.

Ketika adegan penyaliban mencapai puncaknya, suasana sempat terdiam.

Beberapa umat bersimpuh dan berdoa, melipat tangannya di dada sambil menghadap salib yang sebelumnya digunakan untuk visualisasi.

Di momen itu, visualisasi tak lagi terasa sebagai pertunjukan, tetapi berubah menjadi cermin tentang pengampunan dan kasih yang tetap bertahan. 

Lebih hidup

Pada hari yang sama, umat Katolik di Kabupaten Batang juga menyaksikan visualisasi jalan salib di Gereja Paroki Santo Yusup.

Tahun ini, prosesi jalan salib dikemas lebih hidup dengan menghadirkan mini tablo, yakni adegan visual yang diperagakan oleh para pemeran.

Dalam visualisasi itu, Carolus Hero (19) dipercaya memerankan sosok Yesus.

Dia mengaku melakukan persiapan selama satu hingga dua minggu, termasuk latihan bersama romo dan tim liturgi.

“Ini kali pertama saya memerankan Yesus. Saya berusaha mendalami peran dan merasakan penderitaan Yesus,” kata Carolus. 

Dalam peragaan tersebut, Carolus harus menjalani adegan jatuh hingga tiga kali saat memanggul salib.

Adegan itu bukan sekadar simbolik, melainkan dilakukan secara nyata sebagai bentuk penghayatan.

“Karena Yesus memanggul salib itu berat, seperti memanggul dosa manusia. Jadi ada momen jatuh berkali-kali sampai tiga kali,” jelasnya.

Koordinator liturgi gereja, Yohanes Caesar Kriswanto Priatmaja menjelaskan, rangkaian Paskah telah dimulai sejak Minggu Palma sebagai penanda masuknya Pekan Suci.

“Lalu hari ini (Jumat kemarin—Red) Jumat Agung memperingati wafat Yesus, kemudian besok malam (malam ini—Red) tirakatan kebangkitan, dan puncaknya Hari Raya Paskah pada hari Minggu,” kata Yohanes, Jumat. 

“Harapannya semoga kita semakin mencintai bumi, rumah kita bersama, dan damai terwujud di tengah dunia,” tuturnya. (Rezanda Akbar D/Tito Isna Utama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.