BANJARMASINPOST.CO.ID - Kenaikan harga plastik saat ini tidak bisa dipandang sebagai fenomena biasa. Ini adalah gejala ekonomi global yang dampaknya terasa hingga ke level pelaku usaha kecil di daerah.
Dari sisi makro ekonomi, kenaikan harga plastik jelas membawa dampak negatif yang cukup serius. Plastik saat ini bukan lagi sekadar kantong belanja, melainkan sudah menjadi bagian penting dalam rantai produksi, mulai dari kemasan, logistik, hingga bahan baku industri. Ketika harga plastik naik, maka biaya produksi ikut terdorong naik.
Kondisi ini dalam teori ekonomi dikenal sebagai cost-push inflation, di mana produsen pada akhirnya akan membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui harga jual produk. Artinya, masyarakat luas akan ikut menanggung dampaknya.
Selain itu, ada efek berantai atau multiplier effect yang tidak bisa dihindari. Sektor jasa seperti laundry, hingga pelaku usaha makanan dan minuman, menjadi kelompok yang paling cepat merasakan tekanan. Jika kondisi ini terus berlanjut, daya beli masyarakat secara agregat bisa ikut tergerus.
Di sisi lain, fenomena ini juga mendorong pelaku industri masuk ke fase yang sering disebut sebagai survival mode. Produksi ditekan pada batas minimum agar tetap bertahan secara ekonomi. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menurunkan produktivitas nasional, bahkan berujung pada pengurangan tenaga kerja.
Namun demikian, di balik tekanan tersebut, saya juga melihat adanya peluang besar dari sisi positif, khususnya dalam percepatan ekonomi hijau.
Baca juga: Harga Kantong Plastik Naik Dampak Perang Timur Tengah, Pelaku Usaha di Banjarmasin Terbebani
Dalam perspektif ekonomi lingkungan, kenaikan harga justru menjadi sinyal paling efektif untuk mengubah perilaku pasar. Selama ini plastik dianggap murah karena biaya kerusakan lingkungan tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam harga pasar.
Ketika harga plastik naik, pasar secara alami dipaksa untuk “membayar” harga sebenarnya. Ini akan mendorong konsumen mencari barang substitusi, sekaligus membuka peluang bagi industri alternatif seperti bioplastik, kemasan berbahan kertas, hingga serat alam.
Bagi produsen, kondisi ini juga memaksa lahirnya inovasi. Mulai dari desain kemasan yang lebih minimalis, hingga model bisnis baru seperti sistem isi ulang (refill) untuk menekan biaya produksi.
Dalam konteks kebijakan, pemerintah daerah perlu cermat membaca momentum ini. Alih-alih melawan kenaikan harga plastik dengan subsidi, justru situasi ini bisa dimanfaatkan sebagai pendorong perubahan perilaku masyarakat.
Misalnya, di pasar tradisional seperti Pasar Sentra Antasari atau Pasar Lama, pedagang akan lebih terbuka untuk tidak lagi memberikan kantong plastik gratis karena beban biaya yang meningkat. Di sinilah pemerintah bisa masuk dengan mendorong alternatif lokal seperti tas berbahan purun.
Tidak hanya itu, pemerintah juga bisa memberikan subsidi atau pelatihan kepada perajin purun agar mampu memproduksi tas belanja dalam jumlah besar dengan harga yang kompetitif. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap plastik, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif berbasis UMKM lokal.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah pengembangan refill station untuk kebutuhan pokok seperti minyak goreng, sabun, dan deterjen di tingkat kelurahan. Ini bisa menjadi solusi yang lebih murah bagi masyarakat dibandingkan membeli produk dalam kemasan plastik yang harganya tengah melonjak.
Selain itu, penguatan infrastruktur bank sampah juga menjadi kunci. Jika rantai pasok sampah plastik dapat dikelola dengan baik, maka plastik tidak lagi menjadi limbah, melainkan komoditas ekonomi yang bernilai bagi masyarakat.
Dengan demikian, saya melihat situasi ini sebagai peluang. Pemerintah tidak perlu melawan kenaikan harga plastik, tetapi memanfaatkannya sebagai dorongan alami perubahan. (sul)