Harga Kantong Plastik Naik Dampak Perang Timur Tengah, Pelaku Usaha di Banjarmasin Terbebani
Ratino Taufik April 04, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Lonjakan harga bahan baku plastik mulai dirasakan pelaku usaha di Banjarmasin. Kenaikan yang disebut mencapai hingga dua kali lipat itu berdampak langsung pada biaya operasional, bahkan berpotensi memicu kenaikan harga ke konsumen.

Rizdan, pelaku usaha printing plastik seperti cup dan kantong, mengaku kenaikan harga sudah terasa sejak dua pekan setelah konflik internasional memanas.

“Iya, kenaikan harga sudah mulai berlangsung sejak dua minggu setelah perang itu. Bahan baku plastik naik signifikan,” ujarnya, Jumat (3/4).

Ia mencontohkan, untuk produksi 2.000 cup plastik yang sebelumnya hanya membutuhkan modal sekitar Rp 600 ribu, kini harus merogoh kocek hingga Rp 1 juta bahkan lebih. “Kenaikannya bisa 50 sampai 100 persen dari harga sebelumnya,” jelasnya.

Kondisi ini, kata Rizdan, tak hanya membebani pelaku usaha, tetapi juga mulai mengubah perilaku pelanggan. “Sekarang pelanggan juga bingung, bahkan ada yang lebih memilih bawa cup sendiri, meskipun kualitasnya lebih tipis,” tambahnya.

Tak hanya itu, harga plastik kemasan sederhana pun ikut merangkak naik. “Plastik bungkus pentol yang biasanya Rp 2.000, sekarang bisa sampai Rp 4.000 per pack,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Bayu Ade, pemilik usaha kopi di Banjarmasin. Ia mengakui kenaikan harga plastik cukup signifikan dan mulai memengaruhi perhitungan biaya usahanya. “Memang ada kenaikan, cukup terasa. Dari yang awalnya belasan ribu, sekarang sudah puluhan ribu,” katanya.

Menurut Bayu, kenaikan ini tidak hanya terjadi pada satu jenis plastik, melainkan hampir seluruh produk berbahan plastik. “Dari info supplier, semua bahan plastik naik. Katanya karena bahan baku yang ikut terdampak situasi perang,” ujarnya.

Meski begitu, Bayu mengaku belum menaikkan harga jual produknya. Namun, opsi tersebut mulai dipertimbangkan jika kondisi terus berlanjut.

Baca juga: Detik-detik Penusukan di Banjarmasin Barat, Saksi Ungkap Tiba-tiba Datang Langsung Tusuk Korban

Toko Paman Birin Plast di Kompleks 25, Paringin Timur, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, juga terdampak kenaikan harga produk plastik."Sekarang tidak berani ambil banyak untuk stok, takutnya harganya turun. Jadi setiap habis barang, beli lagi," kata pemilik toko, Muhammad Sabirin, Jumat (3/4).

Dua tahun sudah ia menjalani usaha dagang plastik tersebut dengan pelanggan dari berbagai latar belakang usaha. Kebanyakan di antaranya pada pedagang kuliner, dan ada pula pembeli yang berjualan sembako, atau pembeli yang butuh plastik untuk sampah. "Sudah beberapa kali pembelian stok plastik dan harganya selalu naik," tambahnya.

Kenaikan harga kantong plastik beragam, ada yang naiknya hampir 50 persen, bahkan ada pula yang 75 persen, seperti harga plastik merek Bawang. "Kantong plastik merek Bawang sebelumnya harga satu karungnya Rp 915.000, sekarang Rp 1.600.000 isi 30 pack," ungkapnya.

Pedagang kuliner, pelanggan Toko Paman Birin, Venny Hayati, merasakan dampak kenaikan harga kantong plastik. "Sebelumnya saya beli Rp 45 ribu, sekarang Rp 65 ribu," kata pedagang makanan tersebut

Muhammad Firdaus Ali, pemilik Toko Plastik Kaula Inayah, Jalan Karang Anyar 1, Banjarbaru, mengatakan kenaikan harga produk plastik terjadi sejak Ramadan, tepatnya sejak perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.

Pada Ramadan terjadi tiga kali kenaikan. Bahkan hari raya kedua merupakan puncak kenaikan. “Ada yang semula Rp 13 ribu menjadi Rp 21 ribu," jelas Firdaus.

Harga plastik Tinwal, papar Firdaus, semula Rp 23 ribu per 25 pieces, sekarang Rp 31 ribu dan mungkin naik lagi. Gelas plastik yang semula Rp 15 ribu menjadi Rp 30 ribu.

Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) menyebut kelangkaan bahan baku yang mengakibatkan harga plastik mahal. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas Fajar Budiono menjelaskan bahan baku plastik, nafta, sulit didapat karena Selat Hormuz ditutup imbas perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

Negara-negara Teluk yang menyuplai 70 persen pasokan nafta di dunia kini tidak bisa mengirimkan produk petrokimia tersebut. “Sekarang kita jaga di survival mode. Artinya di minimum kapasitas (produksi) secara ekonomi masih masuk,” kata Fajar, Kamis. (sul/ell/dea)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.