Harga Bahan Baku Melonjak, Asosiasi Laundry Persilakan Anggota Naikkan Tarif
Choirul Arifin April 04, 2026 12:17 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) mengimbau seluruh pelaku usaha laundry agar menyesuaikan harga layanan di tengah lonjakan biaya bahan baku yang kian menekan industri.

Kenaikan harga plastik, deterjen, parfum, hingga energi dinilai telah menggerus margin usaha laundry secara signifikan.

Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran ASLI Nomor 193/ASLI/SI-50/IV/2026 tentang Penyesuaian Harga dan Peningkatan Kualitas Layanan Laundry.

Kebijakan ini diambil menyusul kondisi ekonomi global dan dinamika geopolitik yang berdampak langsung pada biaya operasional pelaku usaha laundry di dalam negeri.

Ketua Umum ASLI Maria Eva Sriulina menyampaikan, tekanan yang dirasakan bukan hanya dialami oleh sebagian pelaku usaha, melainkan terjadi secara merata di seluruh sektor laundry.

"Bukan cuma bisnis laundry Anda yang tertekan, seluruh pengusaha laundry sedang mengalami hal yang sama," tutur Maria Eva, dikutip dari Instagram @mariaeva.asli dan @asosiasilaindry, Sabtu (4/4/2026).

ASLI mengungkap, kenaikan paling signifikan terjadi pada bahan baku plastik yang hampir mencapai dua kali lipat. Selain itu, harga parfum dan gas juga mengalami lonjakan, sehingga semakin membebani biaya produksi.

Dalam kondisi tersebut, ASLI meminta pelaku usaha segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya, mulai dari bahan baku, energi, hingga tenaga kerja.

Baca juga: Harga Toples Plastik Naik Rp40.000, untuk Laundry Melonjak 100 Persen

Langkah ini dinilai penting untuk mengetahui secara pasti kenaikan biaya produksi per kilogram maupun per layanan yang diberikan.

Jika margin usaha sudah tidak mampu menahan kenaikan biaya, ASLI mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian harga secara bertahap dan terukur. Dalam surat edaran tersebut, kenaikan tarif direkomendasikan berada di kisaran 10-30 persen.

Selain itu, pelaku usaha juga didorong untuk menerapkan strategi penyesuaian yang lebih fleksibel, seperti fokus pada layanan dengan konsumsi plastik tinggi atau menerapkan biaya tambahan untuk kemasan plastik.

Meski demikian, ASLI menekankan bahwa kenaikan harga tidak boleh dilakukan tanpa diiringi peningkatan kualitas layanan. Hal ini dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan pelanggan di tengah perubahan harga.

Baca juga: Harga Mobil Bakal Naik Imbas Melonjaknya Harga Plastik? Ini Kata Toyota

Beberapa aspek yang perlu ditingkatkan antara lain ketepatan waktu layanan, kualitas hasil cucian yang lebih bersih dan rapi, peningkatan layanan antar-jemput, hingga pengemasan yang lebih profesional.

ASLI juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang transparan kepada pelanggan terkait alasan penyesuaian harga. Pendekatan yang jujur dan edukatif dinilai dapat membantu menjaga loyalitas konsumen.

"Kalau kita diam, margin akan habis, kualitas turun dan bisnis bisa tergerus pelan-pelan," terang Maria Eva masih dalam unggahan yang sama.

Ia menambahkan, kondisi saat ini harus dilihat sebagai momentum bagi pelaku usaha untuk bertransformasi, bukan sekadar bertahan. Adaptasi dan inovasi menjadi kunci agar bisnis tetap sehat dan berkelanjutan.

"Ini bukan sekadar soal harga. Ini tentang bagaimana kita bertahan dan naik kelas. Jangan jadi korban kondisi. Jadilah pelaku usaha yang adaptif dan tetap profitable. Kita harus tetap bertahan, bertumbuh dan sejahtera bersama," imbuhnya.

ASLI berharap seluruh anggotanya dapat tetap tenang dan berpikir strategis dalam menghadapi situasi ini. Dengan langkah yang tepat, pelaku usaha laundry diyakini mampu menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus meningkatkan kualitas layanan di tengah tekanan ekonomi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.