TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Hinky Hindra Irawan Satari menyebut, campak bukan sekadar penyakit infeksi biasa yang ditandai dengan ruam merah pada kulit.
Baca juga: Wamenkes Sebut Pelaksanaan Imunisasi Campak untuk Nakes Tunggu Persetujuan BPOM
Penyakit ini dapat berkembang secara bertahap hingga berisiko memburuk dan memicu komplikasi serius, terutama pada anak-anak dan dewasa dengan daya tahan tubuh rendah.
Berikut penjelasan medis mengenai perjalanan gejala campak agar penanganan dapat dilakukan sejak dini dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Secara klinis, campak memiliki pola gejala yang khas.
Ia menyebut, gejala khas campak adalah dengan “3C”, yaitu:
“Karena demam plus ruam saja bukan hanya disebabkan oleh campak. Semua penyakit virus hampir menimbulkan gejala ruam juga,” kata dia dalam webinar UI, baru-baru ini.
Baca juga: Sekali Kena Campak, Benarkah Tidak Terinfeksi Lagi?
Gejala awal biasanya dimulai dengan demam tinggi disertai 3C hingga membuat anak tampak mengalami sakit berat.
Lalu muncul bercak Koplik atau bercak putih keabu-abuan di dalam mulut (di pipi bagian dalam).
“Tanda ini muncul 1 – 4 hari sebelum ruam dan menjadi indikator awal infeksi campak,” ungkap Prof Hingky.
Kemudian, ruam timbul dimulai dari wajah dan belakang telinga, menyebar ke seluruh tubuh, berlangsung sekitar 3 hari sampai mencapai puncaknya.
Setelah itu, ruam berubah warna menjadi kehitaman dan bekas ruam dapat bertahan hingga 1–2 minggu (fase konvalesen).
“Perjalanan penyakit campak ini berlangsung sekitar satu minggu sejak gejala muncul. Kalau hari Senin muncul gejala awalnya, biasanya akan sembuh di Senin berikutnya,” tutur dia.
Walaupun sering dianggap penyakit biasa, campak dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak usia di bawah 5 tahun, ibu hamil dan lansia.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain infeksi telinga, Pneumonia (radang paru), Ensefalitis (radang otak).
Dua komplikasi Pneumonia dan ensefalitis, menjadi penyebab kematian paling umum.
“1 dari 20 anak campak yang mengalami komplikasi pneumonia bisa menyebabkan kematian. Dan 1 dari 1000 anak yang terkena campak akan menderita radang otak. Sementara 1 dari 1.000 anak dengan campak dapat meninggal dunia,” tutur dia.
Prof Hinky juga membeberkan, salah satu komplikasi paling serius dari campak adalah Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), yaitu gangguan otak progresif.
Komplikasi ini muncul 7–10 tahun setelah infeksi campak. Ditandai dengan penurunan kesadaran, gangguan berjalan, kelumpuhan dan berujung kematian.
Biasanya risiko ini terjadi pada anak-anak yang terinfeksi campak pada umur kurang dari 2 tahun.
Risiko SSPE lebih tinggi pada anak yang terkena campak sebelum usia 2 tahun.
Campak juga berbahaya bagi ibu hamil, karena dapat menyebabkan kelahiran prematur dan bayi dengan berat lahir rendah
Mengutip Kementerian Kesehatan, jadwal vaksin campak anak yang kini umumnya menggunakan vaksin MR (Measles-Rubella), wajib diberikan dalam tiga tahap untuk perlindungan optimal.
Pertama, pada usia 9 bulan (dosis primer).
Kemudian pada 18 bulan (booster).
Lalu vaksinasi dilanjutkan pada kelas 1 SD/sederajat (sekitar 5-7 tahun) melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).