Cuma Rp 5 Ribu! Desa Bubohu Gorontalo Tawarkan Wisata Unik, Bisa Main dan Beri Makan Ratusan Merpati
Indry Panigoro April 04, 2026 12:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Saputri Suryono, warga Kolongan Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), memilih menghabiskan libur Lebaran 2026 di Gorontalo.

Selama berada di kampung halaman keluarganya, ia diajak berkunjung ke Desa Wisata Religi Bubohu yang berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Perjalanan menuju lokasi ini dapat ditempuh sekitar 20-30 menit dari pusat Kota Gorontalo.

Namun, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya mulus.

Meski jaraknya hanya sekitar 10 kilometer dari pusat kota, akses menuju kawasan wisata ini cukup menantang.

Pengunjung harus melewati jalan berkelok tajam yang mengikuti kontur perbukitan.

Di beberapa titik, tanjakan terasa cukup curam, lalu disusul turunan yang tajam, sehingga pengendara perlu ekstra waspada, terutama bagi yang baru pertama kali melintas.

Lebar jalannya pun relatif sempit, hanya cukup untuk dua kendaraan berpapasan dengan ruang yang terbatas.

Meski begitu, kondisi jalan sudah beraspal sehingga masih nyaman dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi pemandangan perbukitan dan pepohonan hijau yang membentang di sisi jalan.

Sesekali, dari sela-sela pepohonan tampak hamparan laut yang menambah daya tarik perjalanan.

Meski cukup menguji adrenalin, perjalanan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman menuju Desa Bubohu.

Rasa lelah selama di perjalanan seolah terbayar saat tiba di kawasan wisata yang tenang, sejuk, dan sarat nuansa religius.

Sejak pertama masuk kawasan wisata, Putri, sapaan akrabnya langsung tampak antusias. 

Senyumnya mengembang, menikmati suasana yang asri di tengah pepohonan rindang.

Meski matahari cukup terik pada Minggu 30 Maret 2026 siang, hal itu tak mengurangi semangatnya untuk menjelajah.

Ia terlihat santai berkeliling, berfoto, hingga ikut memberi makan burung merpati yang menjadi daya tarik utama di tempat tersebut.

Ratusan burung merpati tampak jinak, beterbangan rendah dan berkumpul di sekitar pengunjung, menciptakan suasana yang hidup sekaligus menyenangkan.

Putri pun tak melewatkan momen itu.

Ia membeli pakan burung seharga Rp 5 ribu per botol yang telah disediakan pengelola, lalu memberikannya sambil sesekali mengabadikan momen.

Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung hanya dikenakan tiket Rp 5 ribu per orang.

Harganya cukup terjangkau untuk pengalaman wisata yang ditawarkan.

Aturan yang harus ditaati pengunjung

Namun, sebagai kawasan wisata religi, pengunjung diingatkan untuk tetap menjaga sikap.

Sejumlah aturan diterapkan, mulai dari:

1. Mengucapkan salam.

2. Menggunakan pakaian yang menutup aurat.

3. Tidak melakukan maksiat dalam bentuk apapun.

4. Tidak melakukan hal-hal yang melanggar adat dan norma-norma yang berlaku.

5. Menjaga kebersihan.

6. Tidak merusak fasilitas taman.

7. Tidak mengambil batu fosil dan barang-barang ditaman. 

8. Saling menghargai dan menjaga kenyamanan bersama. 

9. Taman bisa dikunjungi mulai pukul 07.00-16.00 wita.

Suasana di Desa Wisata Religi Bubohu terasa tenang dan tertata.

Di beberapa titik, berdiri pondok-pondok walima yang menjadi ciri khas, berpadu dengan lanskap alam yang hijau.

Tempat ini bukan hanya cocok untuk berfoto, tetapi juga untuk bersantai dan menikmati suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Tak heran jika banyak pengunjung merasa betah berlama-lama.

Seperti yang dirasakan Daniel Manalip warga Manado Sulut.

Ia mengaku terkesan saat pertama kali datang.

“Bagus juga karena bisa memberi makan merpati langsung. Suasananya juga tenang,” ujar Daniel.

Desa Wisata Religi Bubohu Gorontalo wisata merpati pombo
LIPUTAN WISATA - Ratusan burung merpati tampak jinak, beterbangan rendah dan berkumpul di sekitar pengunjung, menciptakan suasana yang hidup sekaligus menyenangkan. Desa Wisata Religi Bubohu ini berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Menyusuri Desa Adat Bubohu, Wisata Religi Berbasis Alam di Gorontalo

Indonesia erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat muslim.

Hal tersebut juga terlihat dari banyaknya daerah yang dijadikan sebagai wisata religi.

Salah satunya terletak di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, di mana tak lain dikenal dengan nama Desa Adat Bubohu.

Dikutip dari Tribunnews.com, desa Adat Bubohu, lebih dari sekadar destinasi wisata religi. 

Desa yang berjarak 10 kilometer dari pusat kota ini memiliki wisata religi berbasis alam memperdalam ilmu agama sembari menikmati keindahan Sang Pencipta yang tiada tandingannya. 

Berkat pesona wisata budayanya, Desa Adat Bubohu telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Religius oleh Pemerintah Gorontalo pada 2004.

Bahkan, desa ini terpilih sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Sang Perintis

Mendiang Yosef Tahir Maruf atau yang dikenal dengan nama Yotama adalah sosok di balik lahirnya Desa Adat Bubohu. Ada keinginan kuat dalam diri Yotama menjadikan desa tersebut sebagai pusat pengkajian ilmu agama Islam, sekaligus sebagai tempat wisata yang menarik perhatian pengunjung. 

Menariknya, Yotama mulai merintis membangun desa wisata religi sejak masih duduk di bangun SMA. Keterbatasan dana untuk membangun infrastruktur yang memadai tak menyurutkan semangatnya.

Hingga akhirnya, Yotama berhasil menyulap wilayah yang semula gersang dan kering menjadi hijau rimbun dan berlimpah air, serta kental dengan wisata religi di dalamnya.

Saat memasuki Desa Adat Bubohu yang dipenuhi pohon mahoni dan rerimbunan berbagai jenis pohon lainnya, masyarakat setempat terbiasa mengucapkan salam yang menjadi ciri khas Muslim kepada siapa pun yang ditemui. Rupanya, ini menjadi tradisi yang sudah diajarkan Yotama sejak dulu.

”Saya mengajarkan tiga hal di sini, yaitu salam, jabat tangan, dan cium tangan dari yang muda kepada orang tua, selain menanam pohon,” kata Yotama, seperti dikutip dari laman Kompas. 

Pesantren Alam Bubohu

Salah satu wisata religi yang khas dari Desa Adat Bubohu tak lain adalah kehadiran pesantren alam Bubohu. Bukan hanya sekadar mendapatkan ilmu agama, siapa pun yang belajar di sana bisa melihat pemandangan yang begitu indah. 

Di lingkungan pesantren alam Bubohu, terdapat pemandangan khas berupa, yakni barisan gubuk Wombohe yang berjajar rapi dan juga menjadi ciri khas pesantren. Ada pula bangunan kayu menyerupai toyopo, wadah khas bungo yang biasa digunakan untuk menyimpan kue saat peringatan Maulid Nabi, di mana bangunan ini juga memiliki filosofi tersendiri yang tak kalah penting. 

Di lingkungan Wisata Religius Bubohu juga terdapat banyak koleksi kayu dengan taksiran usia sampai ratusan tahun. Bahkan, didalamnya berisi sejarah perkembangan peradaban islam pada masa lampau.

Ada pula Maa taduwolo, bangunan yang digunakan untuk menyimpan sejarah dari masa lampau beserta warisan adat dan budayanya.

Masjid Walima Emas

Masjid Walima Emas juga menambah keindahan panorama alam sekitar Desa Adat Bubohu. Dibangun di puncak bukit kapur yang tandus, masjid berukuran 8x8 meter ini memiliki kubah utama dan 4 kubah pendamping yang lebih kecil. Uniknya, kubah-kubah tersebut dibuat mirip kue kolombengi khas Gorontalo yang tersusun rapi.

Meskipun berada di puncak bukit kapur yang tandus, masjid ini justru berlimpah air bersih. Berlimpahnya air masjid ini menjadi berkah tersendiri bagi pengunjung, air ini bisa dinikmati kesegarannya saat mengambil air sembahyang atau berwudhu.

Di masjid ini, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan yang begitu indah. Mulai dari menikmati birunya teluk Tomini dan perbukitan kapur sekitarnya, hingga mata akan dimanjakan oleh bentuk gunung Dunalihe yang membujur seperti raksasa tidur. 

Selain Pesantren Alam dan Masjid Walima Emas, ada berbagai destinasi lain yang ditawarkan ketika berkunjung ke Desa Adat Bubohu. Salah satunya adalah wisata yang dikenal dengan nama Pantai Dulanga, tepatnya di Dusun Barat Desa Bongo.

Pantai berpasir putih ini dikelilingi perbukitan kapur, dan cocok untuk dijadikan tempat berburu sunset dan bisa menikmati pemandangan yang sangat indah. (Tribunmanado.co.id/Indri Panigoro/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.