Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) memprioritaskan kondisi kesehatan siswa korban diduga akibat keracunan setelah mengkonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada sejumlah sekolah, di Duren Sawit.
"Kalau Sudin Pendidikan itu, kami tidak punya kewenangan menyampaikan itu keracunan atau bukan. Yang jelas kami fokus kepada keselamatan anak-anak, terutama terkait kesehatannya," kata Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, M. Fahmi saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Fahmi menyebut, siswa dan guru yang diduga mengalami gejala keracunan langsung diarahkan ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur.
Fahmi menegaskan, pihaknya belum dapat memberikan pernyataan terkait dugaan keracunan karena proses pemeriksaan masih berlangsung dan berada di bawah kewenangan instansi kesehatan.
"Saat ini masih menunggu hasil dari pihak yang berwenang. Sambil kami juga terus mendata siswa yang dirawat atau sudah pulang, masih kami perbarui terus karena masih fluktuatif," ujar Fahmi.
Fahmi juga membenarkan bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan guna menangani situasi tersebut.
Pihaknya telah menggelar rapat bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk dari sektor kesehatan dan pihak terkait program MBG.
Namun, Fahmi kembali menegaskan bahwa kesimpulan terkait penyebab kejadian tidak dapat disampaikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium resmi keluar.
"Tidak bisa juga kita menyebut ini keracunan kalau datanya belum ada. Yang mengetahui hasilnya hanya laboratorium, jadi kita tunggu saja," tegas Fahmi.
Sementara itu, aktivitas penanganan di fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit masih berlangsung.
Sudin Pendidikan terus berkoordinasi untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan yang tepat.
Fahmi pun mengimbau semua pihak untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi dari pemeriksaan yang sedang dilakukan.
"Saat ini masih dalam proses pemeriksaan. Kami harap semua pihak menunggu hasilnya agar informasi yang disampaikan benar-benar akurat," ucap Fahmi.
Sebelumnya, salah satu orang tua siswa SDN Pondok Kelapa 01 berinisial Z menyebut, ratusan siswa dan guru diduga keracunan usai mengonsumsi menu dari program MBG di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur (Jaktim).
"Kami dapat informasi dari grup sekolah ada sekitar 135 siswa dan guru dari beberapa sekolah itu diduga keracunan setelah makan MBG dari sekolah," kata Z.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (2/4) sekitar pukul 11.00 WIB, bertepatan dengan waktu pembagian makanan kepada siswa.
Z menyebut, selama ini anak-anak cenderung tidak langsung memakan menu MBG yang umumnya berupa nasi.
Namun, menu spaghetti pada hari kejadian membuat banyak siswa tertarik untuk langsung mengonsumsinya di sekolah.
Lebih lanjut, Z menjelaskan, informasi yang dia peroleh dari grup komunikasi orang tua murid menunjukkan bahwa kasus serupa tidak hanya terjadi di satu sekolah.
Selain SDN Pondok Kelapa 01, sejumlah sekolah lain juga terdampak.
Berdasarkan laporan sementara dari Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Pendidikan Kecamatan Duren Sawit per 3 April 2026 pukul 11.18 WIB, jumlah korban diduga keracunan MBG mencapai 135 orang.
Rinciannya, di SDN Pondok Kelapa 09 sebanyak 33 siswa terdampak, tujuh di antaranya dirawat di RSUD Duren Sawit.
Lalu, di SDN Pondok Kelapa 01 sebanyak 37 siswa, di SDN Pondok Kelapa 07 ada 31 siswa dengan delapan di antaranya dirawat, dan di SMAN 91 ada 34 orang terdiri dari 28 siswa dan 6 guru serta tenaga kependidikan.
"Dari total tersebut, sebanyak 15 orang dilaporkan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara sisanya menjalani rawat jalan," ucap Z.
Z meminta harus adanya keterbukaan dari pihak terkait, mengingat jumlah korban yang cukup besar dan melibatkan lebih dari satu sekolah.





