BMKG Umumkan NTT dan 6 Wilayah Indonesia Ini Masuk Musim Kemarau, Ini Daftarnya
Adiana Ahmad April 04, 2026 01:19 PM

POS-KUPANG.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) baru saja mengumumkan NTT dan 6 wilayah di Indonesia ini masuk musim kemarau pada April 2026. 

Menurut penjelasan BMKG, pada April 2026 musim kemarau baru mulai berlangsung di sebagian daerah, terutama di wilayah Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur ( NTT ).

Dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 114 ZOM (16,3 persen) diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Berdasarkan prediksi BMKG, secara umum musim kemarau 2026 diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya, sementara sebagian wilayah lainnya berada pada kondisi normal.

Baca juga: Prakiraan Cuaca NTT Kamis April 2026: Cerah Berawan, Cocok untuk Beraktivitas

BMKG mencatat sebanyak 451 ZOM (64,5 persen) akan mengalami kondisi lebih kering, 245 ZOM (35,1 persen) normal, dan hanya 3 ZOM (0,4 persen) yang diprediksi lebih basah dari biasanya, yakni di Gorontalo bagian utara dan selatan serta sebagian kecil Sulawesi Tenggara.

Sebaliknya, wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih kering tersebar luas, meliputi sebagian Sumatera, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Berikut Daftar Wilayah Indonesia yang mulai memasuki musim kemarau April 2026:

Ardhasena mengungkapkan, sejumlah wilayah akan mulai bertahap memasuki musim kemarau pada April 2026, meliputi:

Pesisir utara Jawa bagian barat
Sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur
Sebagian kecil Bali
Sebagian besar Nusa Tenggara Barat (NTB)
Sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT)
Sebagian kecil Kalimantan Selatan
Sebagian kecil Sulawesi Selatan

Baca juga: BMKG Umumkan NTT Berada pada Musim Pancaroba, Masyarakat Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem

Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Peralihan

BMKG mengimbau masyarakat tertutama yang berada di Wilayah Jawa agar mewaspadai cuaca ekstrem pada masa peralihan.

BMKG menyebut peralihan musim dari hujan ke kemarau di Wilayah Indonesia belum merata.

Saat ini masih banyak daerah yang justru mengalami hujan lebat disertai angin kencang.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, bahwa musim kemarau di Indonesia memang tidak datang secara serenpak di seluruh wilayah.

BMKG menjelaskan beberapa Wilayah Indonesia seperti Jawa saat ini masih berada dalam fase peralihan atau pancaroba, sehingga belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.

“Saat ini wilayah Jawa masih berada dalam masa transisi dan belum memasuki musim kemarau. Pada April, musim kemarau mulai terjadi dari wilayah timur Indonesia, seperti NTT, dan tidak berlangsung secara serempak,” kata Ardhasena kepada Kompas.com, Jumat (3/4/2026).

Lebih lanjut, Ardhasena mengungkapkan bahwa hujan lebat yang disertai angin kencang dalam beberapa waktu terakhir merupakan hal yang wajar terjadi pada periode peralihan musim.

Kondisi ini memang menjadi karakteristik khas pancaroba, di mana cuaca cenderung berubah-ubah dan bisa berlangsung cukup ekstrem dalam waktu singkat.

“Demikian memang karakter periode peralihan,” jelasnya.

Baca juga: 3 Sirkulasi Siklonik dan Konvergensi Meluas, BMKG imbau Waspada Hujan Lebat-Sangat Lebat Hari Ini

Ia menambahkan, awal musim kemarau tahun ini berkaitan erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menuju Angin Timuran (Monsun Australia).

Memasuki Mei 2026, jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau diperkirakan meningkat menjadi 184 ZOM (26,3 persen), dengan cakupan:

Sebagian Sumatera
Jawa bagian barat
Sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur
Bali
Sebagian NTB
Kalimantan bagian selatan
Sebagian Sulawesi
Sebagian Maluku
Sebagian Papua

Sementara itu, pada Juni 2026, sebanyak 163 ZOM (23,3 persen) diprediksi mulai mengalami musim kemarau, meliputi:

Sebagian besar Sumatera
Sebagian kecil Jawa
Sebagian besar Kalimantan
Sebagian Sulawesi
Sebagian Maluku
Sebagian Papua

Adapun, jika dibandingkan dengan rerata klimatologis periode 1991–2020, awal musim kemarau 2026 diprediksi lebih maju di 325 ZOM (46,5 persen), tetap di 173 ZOM (24,7 persen), dan mundur di 72 ZOM (10,3 persen).

Kapan puncak musim kemarau 2026?

Ardhasena menjelaskan, puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi secara bertahap.

Pada Juli 2026, sekitar 88 ZOM (12,6 persen) diperkirakan mencapai puncak kemarau, meliputi:

Sebagian Sumatera
Sebagian kecil Jawa
Kalimantan bagian tengah dan utara
Sebagian Sulawesi
Sebagian Maluku
Sebagian Papua bagian barat

Puncak kemarau kemudian terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, yakni 429 ZOM (61,4 persen), mencakup:

Sumatera bagian tengah dan selatan
Jawa bagian tengah hingga timur
Sebagian besar Kalimantan
Sebagian besar Sulawesi
Bali
Nusa Tenggara
Sebagian Maluku dan Papua

Sementara itu, pada September 2026, sebanyak 100 ZOM (14,3 persen) diperkirakan mencapai puncak kemarau, terutama di:

Sebagian Lampung
Sebagian kecil Jawa
Sebagian besar NTT
Sulawesi bagian utara dan timur
Maluku
Maluku Utara
Sebagian Papua

“Awal musim kemarau pada 2026 diprediksi umumnya lebih maju dibandingkan kondisi normalnya. Curah hujan selama musim kemarau juga diperkirakan berada pada kategori bawah normal atau lebih kering, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.