Diperkenalkan Pertama Kali di Indonesia pada 1970-an, Apa yang Perlu Kita Tahu tentang Vasektomi?
Moh. Habib Asyhad April 04, 2026 03:34 PM

Karena belum tahu, banyak pria yang takut menjalani vasektomi. Yang harus dicatat, vasektomi tidak sama dengan pengebirian.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Pria, seperkasa apa pun dia, nampaknya selalu diliputi ketakutan bila kelelakiannya diusik. Buktinya, selama ini sasaran KB lebih banyak ditujukan pada kaum ibu. Berbagai alat kontrasepsi diciptakan para ahli semata-mata untuk wanita. Sementara untuk pria, selama ini kita cuma mengenal kondom.

Upaya menekan jumlah penduduk dengan melibatkan pria, baru belakangan ini bisa diterima kaum bapak. Padahal KB dengan cara mengikat atau memotong saluran sperma (vasektomi) sejak puluhan tahun yang lalu sudah diperkenalkan para ahli.

Menurut beberapa sumber, vasektomi mulai diperkenalkan di Indonesia pada 1970-an seiring dengan gencarnya kampanye program Keluarga Berencana (KB) Nasional.

Karena dianggap tabu, tentu banyak yang menentangnya ketika itu. Di antaranya, pada 1979, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan vasektomi karena dianggap sebagai pemandulan permanen.

Berbeda dengan kondom, vasektomi tergolong kontrasepsi mantap. Biayanya murah, mudah dikerjakan, tidak berisiko tinggi dan efektif. Itu sebabnya para dokter andrologi cenderung memilih cara ini untuk menunjang keberhasilan program KB.

"Kebanyakan pria membayangkan vasektomi sebagai operasi besar. Karena itu mereka lalu takut berakibat impoten atau setidaknya tidak bergairah lagi," ujar dr Prijono Hadiloewih, ahli andrologi dari Laboratorium Biologi Universitas Diponegoro, Semarang, dikutip dari Tabloid NOVA 30 Oktober 1988.

Untuk menghilangkan ketakutan itulah, di antaranya pemerintah Thailand pernah mengadakan vasektomi secara massal setahun sekali. Tepatnya setiap tanggal 5 Desember, sewaktu Raja Bhumibol Aduljadej merayakan hari jadinya.

Di tengah keramaian kota Bangkok ketika itu terdapat sebuah gedung khusus untuk acara itu. Untuk mengundang perhatian khalayak, di sana-sini dipasang bendera warna-warni. Tak lupa digantungkan spanduk tertuliskan: Hari Ulang Tahun Raja, Festival Vasektomi.

Pria yang berminat menjalani vasektomi harus mendaftar lebih dulu pada panitia. Setelah itu, mereka dipersilakan masuk ke dalam ruangan berisi enam meja operasi. Ruangan itu sendiri berjumlah delapan buah. Dengan demikian, sekali pelaksanaan vasektomi digarap sekitar 64 pria. Dan untuk ini mereka sama sekali tidak dipungut biaya.

Pada prakteknya dalam vasektomi sama sekali tidak terjadi pemotongan jaringan, seperti dibayangkan sebagian pria. Karenanya, semua "onderdil" dalam alat kelamin pria tetap utuh. Vasektomi juga tidak sama dengan tindakan pengebirian. Pengebirian berarti menghilangkan kedua buah zakar yang memproduksi hormon pria.

Alat reproduksi pria umumnya terdiri atas buah zakar (testis) yang memproduksi spermatozoa. Sperma ini mengalami pematangan dalam kantong yang disebut epididimis. Zat berupa cairan ini akan keluar melalui saluran sperma ke dalam uretra (saluran kencing) pada saat pria mencapai orgasme.

Dalam vasektomi dokter akan mengikat atau memotong saluran ini, sehingga sperma tersumbat. Namun tak perlu khawatir sperma itu akan menumpuk pada penis sehingga terjadi pembengkakan. "Sperma itu akan diserap kembali oleh tubuh," jelas satu-satunya androlog yang dimiliki provinsi Jawa Tengah saat itu tersebut.

Setelah menjalani pemotongan saluran sperma, air mani yang keluar pada saat sanggama bisa dikatakan tidak lagi mengandung spermatozoa. Untuk beberapa waktu, mungkin memang masih ada sisa-sisa sperma yang sudah terlanjur melewati tempat pemotongan saluran. Itu sebabnya, diperkirakan baru setelah melakukan ejakulasi selama 7-14 kalilah air mani itu terbebas dari kandungan spermatozoa.

Dulu untuk memotong atau mengikat saluran sperma, dokter masih harus membuat sayatan sekitar 3 cm pada buah zakar. Sekarang dengan semakin canggihnya penemuan di bidang kedokteran, dokter cukup menusukkan alat semacam gunting yang ujungnya dilengkapi semacam capit pada daerah seputar buah zakar. Vasektomi semacam ini lebih dikenal dengan sebutan vasektomi tanpa pisau.

Luka di buah zakar itu sangat kecil sehingga begitu selesai dilakukan vasektomi, dokter tidak perlu menjahitnya. Cukup dengan menempelkan plester obat. Waktu pengerjaan pun relatif singkat, sekitar 4-7 menit.

Kekhawatiran pasien vasektomi akan terjadinya kegemukan atau impotensi ternyata tidak terbukti. Dari 50 persen pria yang telah menjalaninya, justru mengatakan gairahnya menjadi lebih tinggi. "Bisa jadi karena saat itu mereka sudah terbebas dari rasa takut akan terjadinya kehamilan pada si istri," ujar Prijono.

Bagaimana kalau ingin punya anak lagi? Misalnya istrinya meninggal dan dia ingin bisa punya anak dengan istri penggantinya. Atau anak bungsunya meninggal, sehingga ia ingin seorang anak lagi.

Hal itu kini tidak lagi menimbulkan masalah. Penyambungan kembali saluran sperma sudah bisa dikerjakan. Tindakan ini disebut vasovasostomi atau rekanalisasi. "Hanya hasilnya mungkin kurang menggembirakan, karena sedikit banyak vasektomi mengganggu faktor kesuburan pria," ungkap dr Wimpie Pangkahila dalam kesempatan terpisah.

Sekalipun vasektomi mudah dikerjakan, namun tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan para dokter sebelum mengerjakannya. Vasektomi diharapkan dijalani pria yang bersangkutan secara sukarela, tanpa paksaan. Pria ini pun harus mendapat penjelasan seluk-beluk vasektomi secara gamblang, sehingga kelak mereka tidak akan mengalami kekecewaan. Sudah memiliki dua anak, yang bungsu sedikitnya berusia dua tahun.

Pasien juga harus sehat. Tidak menderita hernia (turun bero), hidrocele (buah zakar membesar), penyakit jantung berat, sakit gula atau perdarahan sulit berhenti. Di samping itu, tetap dibutuhkan bukti tertulis dari istri.

Mengetahui caranya yang begitu sederhana dan tidak adanya risiko berat, mestinya para suami tidak perlu diliputi ketakutan lagi menjalani vasektomi (TABLOID NOVA)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.