Prediksi BMKG soal Awal Musim Kemarau di DIY, Waspadai Potensi Kekeringan
Muhammad Fatoni April 04, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas IV Daerah Istimewa Yogyakarta memprediksi awal musim kemarau tahun 2026 di wilayah DIY akan dimulai pada akhir April.

Musim kemarau tahun ini diprakirakan memiliki curah hujan di bawah normal atau lebih kering dari biasanya, yang diperparah dengan potensi munculnya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi DI Yogyakarta, Reni Kraningtyas, dalam keterangan resminya tertanggal 2 April 2026, memaparkan bahwa awal kemarau akan masuk secara bertahap.

Sebanyak 5 Zona Musim (ZOM) atau 62,5 persen wilayah diprediksi memasuki musim kemarau pada dasarian III April 2026. 

Sementara 3 ZOM (37,5 persen) lainnya menyusul pada dasarian I Mei 2026.

Secara sifat hujan, musim kemarau 2026 diprediksi masuk kategori Bawah Normal (BN) yang melanda 7 ZOM (87,5 persen), dan hanya 1 ZOM (12,5 persen) yang masuk kategori Normal (N).

PUncak Musim Kemarau

Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi serempak pada bulan Agustus 2026 di seluruh wilayah atau 8 ZOM (100 persen).

"Jumlah curah hujan musim kemarau 2026 diprediksi antara 250 hingga 400 milimeter," bunyi rilis resmi BMKG Stasiun Klimatologi DIY.

Durasi kemarau di DIY bervariasi, didominasi oleh rentang 19–21 dasarian yang mencakup 7 ZOM (87,5 persen), sementara 1 ZOM (12,5 persen) akan mengalami kemarau selama 16–18 dasarian.

Musim kering ini diprediksi baru akan berakhir pada dasarian II Oktober hingga dasarian I November 2026.

Prediksi iklim ini didasarkan pada dinamika atmosfer-laut terkini.

BMKG mencatat angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator mulai bertiup dari timur, mengindikasikan aktifnya Monsun Australia.

Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY saat ini berada pada rentang -2.0°C hingga 0.5°C (kategori dingin–netral), dengan suhu berkisar antara 28°C hingga 29°C.

Indikator lain seperti Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam kategori netral hingga pertengahan 2026, dan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif.

Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini juga netral, namun terdapat perubahan proyeksi memasuki semester kedua.

Baca juga: Siap-siap! Cuaca DIY 3-5 April 2026 Bakal Diguyur Hujan, Simak Penjelasan Lengkap BMKG

Waspada Potensi Kekeringan

Dalam imbauannya, Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, meminta pemerintah daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi kekeringan.

Potensi kekeringan ekstrem perlu diwaspadai menjelang hingga sesudah puncak musim kemarau, tepatnya pada periode Juli–September 2026.

"Mewaspadai prediksi curah hujan selama musim kemarau 2026 di Bawah Normal (BN), yang artinya kondisi musim kemarau diprakirakan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Tindakan antisipasi diperlukan terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen dan wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis untuk mengambil langkah antisipasif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," ujarnya.

"Lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau yang bersamaan dengan fenomena El Nino intensitas lemah hingga moderat yang diprediksi mulai terjadi pada bulan Juli hingga akhir tahun 2026 dengan peluang 50-60 persen," tambahnya.

Mitigasi Masa Pancaroba

Sebelum memasuki puncak kemarau, BMKG juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi selama masa transisi atau pancaroba.

Masyarakat diminta untuk tidak lengah terhadap anomali cuaca harian yang bisa merusak infrastruktur.

"Meningkatkan kewaspadaan pada masa akhir musim hujan yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Melakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa pancaroba," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.