Kembali ke Pesantren Usai Lebaran, Perpisahan Santri di Pangkalpinang Penuh Rindu dan Air Mata
Asmadi Pandapotan Siregar April 04, 2026 08:03 PM

Laporan Wartawan Magang Rindu Venisa Valensia

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Suasana haru menyelimuti Masjid Pesantren Hidayatussalikin, Pangkalpinang, saat para santri kembali dari libur panjang, Jumat (3/4/2026).

Di antara kendaraan orang tua yang terparkir dan tumpukan bekal dari rumah, perpisahan kembali terjadi. Tangis mungkin tak selalu terdengar, namun rindu terasa jelas. di setiap sudut ruangan.

Sejak pukul 13.00 WIB, para santri mulai berdatangan secara bertahap hingga menjelang pukul 16.00 WIB, sesuai aturan pesantren. Waktu pagi sengaja dimanfaatkan untuk kebersamaan terakhir bersama keluarga sebelum kembali ke lingkungan pesantren.

Libur panjang yang dimulai sejak hari ke-20 Ramadan hingga dua pekan setelah Idulfitri kini berakhir. Para santri dari berbagai daerah di Bangka Belitung kembali menjalani rutinitas pendidikan mereka.

Di dalam masjid yang juga difungsikan sebagai aula, santri dan orang tua duduk berkelompok. Tas besar, kardus, serta bungkusan makanan tersusun rapi sebagai bekal kembali ke asrama.

Ririn Zafara Amelia (16), santri asal Belinyu, menjadi salah satu yang merasakan campur aduk perasaan saat kembali ke pesantren.

Ririn tampak duduk bersama orang tuanya sebelum akhirnya masuk ke asrama. Perjalanannya hari itu tidak langsung menuju pesantren. Ia sempat singgah ke rumah keluarga di Sungailiat dan Pangkal Arang, memperpanjang waktu kebersamaan sebelum benar-benar kembali.

“Pas sampai sini tadi rasanya ada senang, ada sedih. Senangnya karena ketemu teman, tapi sedih juga karena harus balik lagi ke sini,” ujarnya.

Memasuki tahun keempat di pesantren, Ririn mengaku dirinya mulai terbiasa dengan kehidupan jauh dari rumah. Bahkan, kini ia justru merasakan kerinduan yang berbeda saat kembali ke lingkungan pesantren.

“Kalau dulu awal masuk lebih senang di rumah, karena belum terbiasa. Tapi sekarang kalau balik ke sini juga senang, soalnya bisa kumpul sama teman-teman dari daerah lain,” katanya.

Meski tak lagi menangis, rasa berat tetap ada. Hal-hal sederhana di rumah justru menjadi yang paling dirindukan.

“Yang paling dikangenin itu kumpul sama orang tua, makan masakan emak, bangun siang, sama dimarahin emak,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Di sisi lain, orang tua justru sering kali lebih sulit menyembunyikan perasaan.

Deritawati (46) dan Riduan (51), orang tua Ririn, mengantar langsung putrinya ke pesantren. Dalam perjalanan, mereka bahkan menyempatkan singgah ke rumah keluarga sebelum akhirnya tiba di lokasi.

“Iya, tiap pulang dan pergi selalu kami antar jemput. Bahkan kalau ada jadwal kunjungan sebulan sekali, kami usahakan datang,” ujar Deritawati.

Ia mengakui, momen perpisahan seperti ini tidak pernah benar-benar terasa ringan.

“Berat pasti ada, tapi mau gimana lagi. Ini demi kebaikan dia juga, bekal untuk masa depan dan akhirat,” katanya.

Sementara itu, Riduan mengungkapkan bahwa dirinya justru lebih sering tak kuasa menahan emosi saat harus berpisah.

“Kadang yang nangis malah saya. Kalau sudah sampai rumah, sering kangen. Lihat kasur jadi ingat dia tidur di situ, lihat meja makan juga kebayang dia lagi duduk di situ,” ujarnya.

Rasa rindu itu bahkan ia obati dengan cara sederhana, seperti mendengarkan kembali rekaman suara dan melihat video anaknya saat di rumah.

Meski berat, keputusan menyekolahkan anak di pesantren tetap menjadi pilihan yang diyakini terbaik. Kekhawatiran terhadap pergaulan dan penggunaan gawai menjadi salah satu alasan utama.

“Sekarang anak-anak banyak yang fokus ke handphone. Takutnya nanti terpengaruh pergaulan, jadi lebih baik di pesantren supaya lebih terarah dan mandiri,” tambahnya.

Di dalam masjid, momen perpisahan berlangsung dalam berbagai cara. Ada yang berpelukan erat, ada yang mencium tangan, dan ada pula yang hanya saling menatap sebelum akhirnya beranjak pergi.

Santri baru terlihat masih kesulitan melepas orang tua, sebagian di antaranya menunduk sambil menyeka air mata. Sementara santri lama tampak lebih tenang, meski tetap menyimpan rasa yang sama, hanya saja tidak lagi ditunjukkan secara terang.

Tas-tas besar berisi pakaian, kardus berisi makanan, hingga perlengkapan sehari-hari menjadi bekal mereka kembali ke pesantren. Namun lebih dari itu, ada rindu yang ikut terbawa masuk, diam, tapi nyata.

Perlahan, satu per satu orang tua meninggalkan area masjid. Langkah mereka menjauh, sementara para santri mulai berbalik arah menuju kehidupan yang kembali mereka jalani.

Di ruang terbuka itu, perpisahan tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berulang, dengan rasa yang sama, tentang rindu yang harus ditahan, dan tentang cinta yang belajar untuk melepaskan. (Mg2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.