Fenomena "Hujan Darah" Terjadi di Eropa Barat, Apa Penyebabnya?
GH News April 04, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Fenomena "hujan darah" melanda warga Spanyol, Prancis, dan Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Pemandangan ini dianggap menyeramkan, dengan warna langit yang tampak kekuningan dan warna jingga pada matahari lebih pekat dari biasanya.

Hujan darah bukanlah darah dari organ makhluk hidup, melainkan butiran halus berwarna kemerahan. Istilah hujan darah mengacu pada debu yang mengandung karat, kemudian terbawa oleh angin dan kabut.

Biasanya, butiran halus debu-debu tersebut kerap mengotori kaca mobil dan jendela rumah warga setempat. Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya hujan darah?

Pemanasan Global dan Polusi Debu

Dikutip dari Phys.org, fenomena hujan darah dipicu oleh gumpalan debu dari Gurun Sahara yang terbang ribuan kilometer melewati wilayah Mediterania. Perubahan iklim membuat debu gurun berdampak bagi Eropa, yang tengah mengalami krisis lingkungan dan perubahan arah angin.

Selain Eropa, hampir semua benua di dunia juga merasakan emisi debu yang sebagian besar dihasilkan oleh Gurun Sahara. Partikel debu menyebar dengan mudah saat cuaca panas, kering serta berangin.

Oleh karena itu, emisi debu gurun di Afrika dapat sampai ke Eropa dan sebagian besar ke wilayah Amerika. Biasanya, musim ini terjadi antara bulan Februari dan Juni, yang membentuk gumpalan awan di wilayah tersebut.

Awan yang terbentuk dari angin yang bercampur pasir dan debu halus dari Gurun Sahara disebut 'calima'. Fenomena tersebut sering menyapa penduduk Spanyol dan juga telah meluas hingga Laut Utara dan Skandinavia.

Tanah mengering akibat peningkatan suhu menyebabkan terjadinya penyebaran partikel halus dengan cepat. Semakin panas cuacanya, jumlah debu Sahara yang terbang di udara juga semakin bertambah sekitar 40 hingga 60 persen pada akhir abad ini.

Akan tetapi, jumlah debu yang berterbangan juga bergantung pada pola angin di masa depan. Namun, dalam dua dekade terakhir badai pasir dan debu kian menurun akibat melemahnya angin permukaan dan peningkatan vegetasi di wilayah Sahel.

Ancaman Kesehatan dan Dampak Ekonomi

Kondisi ini juga membuat udara di benua Eropa menjadi tercemar oleh partikel halus PM10. Partikel yang dapat masuk ke paru-paru dan menimbulkan sejumlah penyakit seperti asma, dan gangguan kardiovaskular.

Studi pemodelan menunjukkan bahwa debu Sahara yang menyebarkan partikel halus PM10 di Spanyol dan Italia menyumbang 44 persen angka kematian. Selain itu, fenomena ini sekaligus berdampak pada estetika benua Eropa.

Di sektor ekonomi, pencemaran debu sahara kerap menutupi salju pegunungan Alpen. Akibatnya, permukaan salju yang menghitam kehilangan kemampuannya untuk memantulkan cahaya matahari sehingga salju lebih cepat cair. Debu juga mengurangi efisiensi panel surya, mengganggu lalu lintas penerbangan, dan mengurangi jarak pandang di jalan raya.

Bagi masyarakat di wilayah sekitar Sahara, disarankan untuk menjaga kesuburan tanahnya dengan mengurangi penggembalaan, pembangunan bendungan sungai, dan pengelolaan lahan dengan baik. Karena langkah-langkah tersebut berpotensi meningkatkan emisi debu yang menyebar ke berbagai benua.

Selain itu, pihak berwenang dan masyarakat juga diminta untuk menjaga kestabilan tanah di area tersebut dengan melakukan pemulihan vegetasi, menjaga aliran sungai, serta melindungi biokrust (bakteri, lumut, dan organisme) dan membentuk perisai alami untuk menghalau erosi angin.

Saat ini, di Eropa lebih fokus pada kesiapan seperti sistem peringatan dini setidaknya h-15 hari. Selain itu, beberapa langkah sederhana juga dapat dilakukan, seperti penambahan ventilasi bangunan dan pengadaan ruang terbuka hijau di perkotaan untuk mengurangi paparan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.