TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar bersama Pemerintah Kabupaten Gowa dan Maros menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) penyelenggaraan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) bersama Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel).
Penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) penyelenggaraan PSEL oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin dengan Bupati Gowa Husniah Talenrang, Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur, dan Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman disaksikan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Sabtu (4/4/2026).
Kolaborasi menjadi langkah konkret lintas daerah dalam mendukung implementasi PSEL di Makassar.
Ini bagian program nasional pengelolaan sampah berbasis energi (waste to energy).
Sekaligus menjawab tantangan timbulan sampah di tiga kawasan Mamminasata
Menteri Hanif mengatakan proyek nasional ini merupakan bagian dari proses panjang yang telah dirancang pemerintah pusat untuk mengatasi persoalan sampah secara sistemik di Indonesia.
Menurutnya pengembangan PSEL merupakan langkah penting dalam menjawab persoalan timbulan sampah yang terus meningkat diperkotaan dan mencapai timbulan 1.000 ton per hari.
"Ini suatu langkah panjang yang telah dilakukan, pelaksanaan kegiatan ini diharapkan mampu memotong generasi dari pengelolaan sampah sekarang ini," kata Hanif.
Munafri mengatakan kolaborasi dengan pendekatan aglomerasi bersama dua kabupaten tetangga dirancang untuk memastikan persoalan sampah tidak diselesaikan secara parsial, melainkan melalui kerja sama antarwilayah.
"Perjanjian kerjasama ini dibangun sistem algomerasi dengan daerah sekitar (Maros dan Gowa)," katanya.
Baca juga: Presiden Prabowo Perintahkan Danantara Ikut Investasi Proyek 3 Triliun PSEL Makassar
Timbulan sampah di Makassar saat ini mencapai sekitar 800 ton per hari dan dinilai masih dapat dioptimalkan.
Namun demikian, kapasitas pengangkutan yang dimiliki Pemerintah Kota Makassar baru berada di kisaran 67 persen, sehingga perlu dilakukan peningkatan untuk memaksimalkan layanan pengangkutan sampah.
Dengan tambahan pasokan dari Kabupaten Gowa sekitar 150 ton per hari dan Kabupaten Maros sekitar 50 ton per hari, fasilitas PSEL diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Ini menghasilkan energi listrik 20-25 MegaWatt, tergantung kualitas sampah yang masuk.
"Di Makassar hari ini sampah yang tercatat kurang lebih 800 ton per hari, ini sebenarnya masih cukup untuk kita maksimalkan," kata Appi, sapaan akrab Munafri.
Mantan Bos PSM ini juga memastikan teknologi PSEL yang digunakan merupakan teknologi modern yang telah teruji dan tidak akan menimbulkan dampak seperti yang dikhawatirkan.
Ia menepis kekhawatiran warga bahwa kawasan TPA akan berubah menjadi kawasan industri yang mencemari lingkungan.
Appi menjelaskan, fasilitas PSEL justru hadir untuk mengolah sampah agar tidak menggunung dengan pengolahan yang telah memenuhi standar keamanan.
"Jadi pembangkit listrik ini modern, yang sudah teruji, yang tidak mungkin pemerintah membangun kalau tidak proven (terbukti)," tegasnya.
Pemerintah Kota Makassar saat ini telah menyiapkan lahan 10 hectare di kawasan TPA Tamangapa untuk dipola memenuhi kebutuhan 7 hektare sebagai lokasi pembangunan fasilitas PSEL.
Lokasi ini dipilih karena memiliki potensi bahan baku tambahan dari timbunan sampah lama yang masih bisa dimanfaatkan.
"Karena 20 sampai 25 persen sampah yang ada di TPA masih bisa dipakai sebagai bahan baku," jelasnya.
Politisi Golkar ini menekankan PSEL merupakan bagian dari solusi hilir yang terintegrasi dengan pembenahan sistem pengelolaan sampah kota.
Termasuk peralihan dari open dumping menuju sanitary landfill serta penguatan pengelolaan dari hulu.
Ia bersama jajaran dinas terkait saat ini juga tengah membenahi menyeluruh sistem persampahan di Makassar, termasuk percepatan transisi dari metode open dumping menuju sanitary landfill.
Implementasinya diperkuat melalui pemilihan sampah berbasis RT/RW, penguatan bank sampah, optimalisasi TPS3R, pengolahan sampah organik melalui maggot dan kompos hingga pemanfaatan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel).
"Hari ini kita sudah memetakan semua blok-blok yang harus dilakukan cover soil setiap hari untuk memastikan bahwa tidak ada lagi open dumping yang bisa memberikan tingkat pencemaran yang tinggi di kota ini," tambahnya.(*)