FPN Dorong Prabowo Gelar KTT Darurat, Ingatkan Peran Indonesia di Konferensi Asia-Afrika
Bobby Wiratama April 04, 2026 08:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Free Palestine Network (FPN), Furqan AMC, mendorong pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil peran kepeloporan global melalui penyelenggaraan konferensi tingkat tinggi (KTT) darurat.

Hal ini terkait ketegangan konflik global seperti Palestina dengan Israel, serta Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.

Menurut Furqan, langkah tersebut penting untuk mengembalikan posisi strategis Indonesia dalam percaturan geopolitik dunia sekaligus mencegah eskalasi konflik global yang berpotensi mengarah pada perang dunia.

Furqan mengingatkan, sejarah mencatat Indonesia pernah menjadi pelopor melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar di Bandung pada 1955.

“Kita berharap Indonesia di bawah kepemimpinan Pak Prabowo Subianto mengambil kepeloporan historis sebagaimana kepeloporan yang telah diambil oleh Soekarno dan kawan-kawan mempelopori ya menginspirasi bangsa-bangsa Asia Afrika untuk bangkit dari kolonialisme dan imperialisme dengan cara bersolidaritas bahkan menggagas Konferensi Asia Afrika,” kata Furqan dalam dialog Overview Tribunnews, Rabu (1/4/2026).

Ia mengusulkan agar pemerintah segera menginisiasi forum internasional guna mengembalikan bandul geopolitik dunia ke Indonesia sehingga peran Indonesia menjadi lebih signifikan dalam menjaga perdamaian global.

Furqan menilai Indonesia memiliki rekam jejak historis dalam meredam konflik dunia, khususnya pada masa ketegangan bipolar antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. 

"Saya kira sekarang dunia sedang menunggu Indonesia kembali," ungkapnya.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, Furqan juga menyoroti sikap keras Presiden Prabowo terhadap imperialisme dalam berbagai forum internasional. 

Ia menilai sikap tersebut perlu diterjemahkan secara konkret oleh Kementerian Luar Negeri dalam langkah diplomatik di berbagai kawasan konflik.

Pemerintah Indonesia sendiri sebelumnya menegaskan pendekatan diplomasi yang realistis dan berhati-hati dalam merespons dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah dan isu Palestina.

Baca juga: Jet Tempur AS Jatuh di Iran, Pilot Diburu Lewat Sayembara Berhadiah

Kritik Keikutsertaan Board of Peace

Selain itu, Furqan juga meminta agar mempertimbangkan keterlibatan rencana penyiapan pasukan penjaga perdamaian di Gaza sebagai bagian dari Board of Peace (Dewan Perdamaian).

"Board of Peace itu sama sekali adalah bukan Dewan Perdamaian, dia adalah dewan perang. Buktinya para petinggi Board of Peace itulah yang memulai perang sekarang di kawasan."

"Ini momentum. Makanya saya katakan tadi terbunuhnya atau gugurnya tiga prajurit kita ini menjadi alarm untuk membangunkan pemerintah bahwa kita harus menarik garis tegas ya terhadap Israel," tegasnya.

Furqan menekankan pentingnya sikap tegas Indonesia terhadap Israel serta perlunya memperkuat solidaritas dengan negara-negara yang disebutnya masih mengalami penjajahan, seperti Palestina, Lebanon, Yaman, dan Iran.

Lebih lanjut, Furqan menilai momentum gugurnya prajurit Indonesia dalam misi internasional harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mengambil garis politik luar negeri yang lebih tegas.

“Indonesia harus kembali menjadi pelopor transformasi tatanan dunia dari unipolar menuju multipolar,” ujarnya.

(Tribunnews.com/Gilang P)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.