Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Puji Widodo
TRIBUNMADURA.COM, JOMBANG - 525 hektare lahan persawahan di Jombang, Jawa Timur, terdampak banjir.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M Rony, menjelaskan, ratusan hektare sawah yang terdampak tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kesamben, Ploso, dan Plandaan.
Dari total tersebut, Kecamatan Kesamben menjadi wilayah paling parah dengan luas terdampak mencapai 421 hektare.
Sementara itu, Kecamatan Ploso tercatat sekitar 84 hektare, dan Plandaan sekitar 20 hektare.
"Pendataan di lapangan masih terus kami lakukan untuk memastikan luas dampak secara menyeluruh," ucap Rony kepada Tribun Jatim Network pada Sabtu (4/4/2026).
Di Kecamatan Plandaan, genangan air merendam lahan pertanian di Desa Karangmojo dengan usia tanaman padi berkisar 20 hingga 25 hari.
Sedangkan di Kecamatan Kesamben, banjir meluas di sejumlah desa seperti Watudakon, Pojokrejo, Kesamben, Kedungbetik, Podoroto, Kedungmlati, hingga Carangrejo.
Menurut Rony, banjir dipicu tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir yang menyebabkan debit air meningkat.
Kondisi tersebut diperburuk oleh pendangkalan sungai, khususnya di aliran Sungai Marmoyo di wilayah utara Sungai Brantas serta Afvoer Watudakon di kawasan Kesamben.
Baca juga: BPBD Jombang dan Warga Bangun Jembatan Darurat di Jalan Desa yang Ambles Diterjang Banjir
"Debit air meningkat akibat hujan intensitas tinggi, sementara kondisi sungai yang dangkal membuat air mudah meluap ke area persawahan," ujarnya.
Meski demikian, pihaknya menyebut sebagian besar tanaman padi masih dapat diselamatkan. Hal ini karena banyak tanaman sudah memasuki fase menjelang panen, sehingga risiko gagal panen atau puso relatif kecil.
"Sebagian besar sudah mendekati panen. Kemungkinan besar tidak sampai puso, namun kualitas gabah berpotensi menurun jika dipanen dalam kondisi basah," ungkapnya.
Sebagai langkah penanganan, Dinas Pertanian menyiapkan sejumlah upaya, di antaranya normalisasi saluran tersier, pelaksanaan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), serta bantuan benih untuk lahan yang mengalami puso.
"Kami siapkan bantuan benih bagi petani yang lahannya benar-benar mengalami puso. Selain itu, normalisasi saluran juga terus didorong agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.
Baca juga: Banjir yang Merendam Ratusan Rumah di 3 Kecamatan Mojokerto Mulai Surut pada H+3 Lebaran 2026
Sementara itu, Kepala Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben, Supriadji, menyebut banjir di wilayahnya disebabkan kondisi sungai dan saluran air yang mengalami pendangkalan sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
Hingga Rabu (1/4/2026), genangan air masih terlihat di area persawahan dan permukiman warga.
"Air masih menggenang. Namun sudah ada tim BPBD Jombang yang datang meninjau lokasi," imbuhnya saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, wilayah Kesamben kerap dilanda banjir setiap musim hujan.
Baca juga: Pancaroba Picu Cuaca Ekstrem di Sampang, Potensi Banjir dan Longsor Mengintai
Namun, hingga kini penanganannya dinilai belum optimal. Banjir yang melanda Dusun Kandangan bahkan telah berlangsung hampir dua pekan.
Salah satu petani setempat, Erton, berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasi persoalan banjir yang terus berulang.
"Setiap tahun selalu banjir. Sudah sering disurvei, tapi belum ada solusi nyata. Kami berharap ada penanganan yang benar-benar tuntas," beber Erton singkat.