Ceng Beng 2026 Bangka :Sembahyang di Kawasan 14 Ribu Makam dan Sejarah Pekerja Tambang asal Tiongkok
Dedy Qurniawan April 05, 2026 12:24 AM

BANGKAPOS.COM - Momen Ceng Beng 2026 di Pulau Bangka, tepatnya di kawasan Perkuburan Cina Sentosa, Pangkalpinang tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang antara timah dan pekerja dari Tiongkok.

Ya, tradisi Ceng Beng yang puncaknya digelar pada Minggu (5/4/2026) ini telah dilaksanakan sejak berabad-abad silam.

Bangkapos.com menangkap fakta terkini dan sejarah masa lalu itu dengan mendatangi langsung Perkuburan Cina Sentosa, sejarawan dan Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan pada Sabtu (4/4/2026).

Pada H-1 puncak momen Ceng Beng 2026 ini, suasana hening terasa begitu kental, hanya sesekali suara angin menyapu pepohonan tua yang berdiri kokoh di antara ribuan nisan.

Kami mendapatkan kesempatan menelusuri langsung salah satu sudut paling bersejarah di kompleks pemakaman yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang tersebut. Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan, menjadi pemandu kami menyibak jejak masa lalu yang tersimpan di sana.

Langkah kami terhenti di sebuah makam yang tampak berbeda dari lainnya. Lebih luas, lebih terbuka, dan terlihat terawat. Di bagian tengahnya terdapat altar sederhana, dengan tulisan beraksara Tionghoa yang masih jelas terbaca.

"Inilah yang kami yakini sebagai makam tertua di sini," ujar Johan kepada Bangkapos.com, Sabtu (4/4/2026).

Makam itu diketahui milik Boen Ngin Foek. Berdasarkan penelusuran yayasan, angka tahun yang tertera menunjukkan 1911 dengan penambahan empat tahun, sehingga diperkirakan makam tersebut berasal dari tahun 1915.

"Bisa jadi ini yang pertama. Beliau juga diyakini sebagai pemilik lahan di kawasan ini yang kemudian dihibahkan untuk dijadikan area pemakaman," jelasnya.

Berdiri di hadapan makam tersebut, saya merasakan semacam jeda waktu, seolah sejarah panjang komunitas Tionghoa di Pangkalpinang terhimpun dalam satu titik. Meski usianya lebih dari satu abad, kondisi makam tetap terjaga. Area depannya lapang, susunan bangunannya kokoh, bahkan terlihat lebih besar dibandingkan makam-makam lain di sekitarnya.

Perkuburan Sentosa sendiri dipercaya mulai dibangun pada tahun 1935. Namun keberadaan makam Boen Ngin Foek menjadi penanda bahwa aktivitas pemakaman di kawasan ini telah dimulai jauh sebelumnya.

Saat ini, kompleks pemakaman tersebut memiliki luas sekitar 19,9 hektare, dengan jumlah makam diperkirakan mencapai lebih dari 14.000. Deretan nisan tersusun rapi mengikuti kontur lahan, sebagian besar mengusung arsitektur khas Tionghoa dengan ornamen melengkung dan detail simbolik yang sarat makna.

Menurut Johan, mayoritas makam tertua lainnya berasal dari era 1930-an, beriringan dengan peresmian kawasan pemakaman tersebut.

"Kalau yang lain rata-rata di tahun 1930-an, sekitar 1935. Tapi yang ini lebih dulu," katanya.

Beberapa keluarga tampak datang silih berganti, membersihkan area makam, menyiapkan perlengkapan sembahyang, hingga merapikan altar.

Johan menjelaskan, masyarakat Tionghoa akan melaksanakan ibadah Ceng Beng atau Chengbeng yang puncaknya jatuh pada Minggu, 5 April 2026.

"Sebetulnya sudah dimulai sejak beberapa hari lalu, sekitar tanggal 21 kemarin. Tapi puncaknya besok," ungkapnya.

Tradisi sembahyang Chengbeng biasanya dilakukan sejak pagi hari. Umat akan berziarah, membersihkan makam leluhur, serta mempersembahkan doa dan sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga yang telah meninggal.

Pantauan di lokasi, persiapan jelang puncak ibadah tersebut sudah mulai terasa. Beberapa makam tampak telah dibersihkan, rumput dipangkas, dan perlengkapan sembahyang seperti dupa, kertas sembahyang, mulai disiapkan. 

Tak hanya itu, saya juga melihat sejumlah makam yang telah lebih dahulu melaksanakan sembahyang. Hal itu ditandai dengan kertas berwarna yang diletakkan di atas pusara, menjadi penanda bahwa ritual telah dilakukan oleh keluarga.

Menurut Johan, pelaksanaan sembahyang Chengbeng memang bersifat fleksibel dan tidak harus dilakukan tepat di hari puncak.

"Boleh saja dilakukan lebih awal, tidak harus tanggalnya. Tapi puncaknya tetap di hari terakhir, besok 5 April," jelasnya.

Sejak Pekerja Tambang dari Tiongkok ke Bangka

Dato Akhmad Elvian,Sejarawan dan Budayawan.
Dato Akhmad Elvian,Sejarawan dan Budayawan. (Istimewa)

Sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebutkan bahwa tradisi Ceng Beng telah hadir di Bangka sejak awal kedatangan pekerja tambang timah dari daratan Tiongkok.

"Tradisi ini dibawa oleh pekerja tambang yang didatangkan secara resmi oleh Sultan Mahmud Badaruddin I sejak tahun 1724," ujarnya kepada Bangkapos.com, Sabtu (4/4/2026).

Secara historis, Ceng Beng sendiri telah dirayakan di Tiongkok sejak masa Dinasti Han sekitar tahun 206 sebelum masehi.

Dalam maknanya, "Ceng" berarti bersih atau cerah, sementara "Beng" berarti terang atau cemerlang.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 4 atau 5 April, atau tepatnya hari ke-104 setelah perayaan Imlek. Dalam praktiknya, Ceng Beng menjadi momentum bagi masyarakat Tionghoa untuk berziarah, membersihkan makam, serta memberikan penghormatan kepada leluhur.

"Di Bangka, ini sering disebut sebagai sembahyang kubur karena dilaksanakan langsung di makam leluhur," jelas Elvian.

Pada masa kolonial Hindia Belanda, tradisi ini bahkan menjadi bagian dari kalender sosial pekerja tambang. Dalam setahun, para pekerja Tionghoa mendapatkan jatah libur selama 15 hari, yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk merayakan Imlek dan menjalankan tradisi Ceng Beng.

Seiring berkembangnya komunitas Tionghoa di Pulau Bangka, terbentuklah pusat-pusat permukiman yang umumnya berada di kawasan tambang timah, seperti Mentok, Jebus, Belinyu, Sungailiat, hingga Pangkalpinang. Di setiap wilayah tersebut, biasanya terdapat kawasan pemakaman luas yang dikenal sebagai Tjhunghua Kung Mu Yen.

Khusus di Pangkalpinang, kawasan tersebut dikenal sebagai Perkuburan Sentosa.

Menurut catatan sejarah, sebelum resmi menjadi kompleks pemakaman, kawasan ini telah lebih dahulu digunakan sebagai lokasi pemakaman sejak akhir 1920-an. Dalam peta topografi tahun 1928–1929, di sekitar jalur menuju Distrik Koba, tepatnya di penanda kilometer tiga, telah ditemukan banyak makam orang Tionghoa.

Baru pada tahun 1935, di masa pemerintahan Residen Mann, kawasan tersebut diresmikan sebagai kompleks pemakaman Tionghoa Sentosa. Peresmian ini ditandai dengan pembangunan gerbang utama, paithin (rumah sembahyang), serta tugu pendiri.

Dalam prasasti yang terdapat di lokasi, tercatat empat tokoh pendiri kompleks tersebut, yakni Yap Fo Sun, Chin A Heuw, Yap Ten Thiam, dan Lim Sui Cian.

Kini, Perkuburan Sentosa membentang di sisi timur Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang. Kompleks ini dikenal juga dengan sebutan Ngi Cung, dengan luas mencapai sekitar 19,9 hektare dan menampung lebih dari 13 ribu makam.

Besarnya kawasan ini tak lepas dari dominasi jumlah penduduk Tionghoa di Bangka pada masa lalu. Berdasarkan sensus tahun 1920 oleh pemerintah kolonial Belanda, jumlah penduduk Tionghoa di Pulau Bangka mencapai 67.398 jiwa atau sekitar 44,6 persen dari total populasi.

Di Pangkalpinang sendiri, jumlah tersebut bahkan mendominasi. Dari total sekitar 15.666 penduduk, sebanyak 10.653 di antaranya merupakan warga Tionghoa.

"Ini yang membuat kawasan pemakaman menjadi sangat luas, karena memang kebutuhan masyarakat saat itu sangat besar," ujar Elvian.

Menariknya, Perkuburan Sentosa tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi satu kelompok kepercayaan saja. Kompleks ini mencerminkan kebinekaan, di mana terdapat makam dari berbagai latar agama seperti Khonghucu, Buddha, Katolik, Protestan, hingga Hindu.

Bahkan, terdapat pula dua makam Muslim di kawasan tersebut, menjadi simbol harmonisasi lintas budaya yang telah berlangsung lama di Bangka Belitung.

"Selain tradisi penguburan menggunakan peti kayu atau kerendak (koncoi), masyarakat Tionghoa di Bangka juga mengenal praktik kremasi, di mana abu jenazah disimpan dalam tempayan keramik. Jejak tradisi ini masih dapat ditemukan, bahkan beberapa di antaranya kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia," jelas Elvian.

Hari ini, ketika masyarakat Tionghoa kembali bersiap menyambut Ceng Beng, Perkuburan Sentosa bukan hanya menjadi tempat ritual. Ia menjelma sebagai ruang sejarah yang hidup, menyimpan narasi panjang tentang migrasi, kerja keras, hingga nilai-nilai penghormatan terhadap leluhur.

Di antara deretan nisan yang tersusun rapi, tersimpan cerita tentang asal-usul, identitas, dan keberagaman yang menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Bangka Belitung hari ini.

Perkuburan Sudah Penuh

Hamparan makam di Pekuburan Cina Sentosa, Pangkalpinang tertata rapi dengan ciri khas arsitektur Tionghoa, Sabtu (4/4/2026). Sejumlah makam terlihat telah diberi tanda kertas seusai pelaksanaan sembahyang Chengbeng oleh keluarga, menjelang puncak peringatan yang jatuh pada 5 April.
Hamparan makam di Pekuburan Cina Sentosa, Pangkalpinang tertata rapi dengan ciri khas arsitektur Tionghoa, Sabtu (4/4/2026). Sejumlah makam terlihat telah diberi tanda kertas seusai pelaksanaan sembahyang Chengbeng oleh keluarga, menjelang puncak peringatan yang jatuh pada 5 April. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Fakta terkinininya, kompleks Perkuburan Sentosa yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, kini tak lagi mampu menampung pemakaman baru.

Keterbatasan lahan membuat pengelola mengalihkan seluruh pemakaman ke lokasi baru, yakni Sentosa 2 di Desa Jeruk, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.

Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan, mengungkapkan, kawasan Perkuburan Sentosa yang memiliki luas sekitar 19,6 hektare dengan lebih dari 14.000 makam tersebut saat ini telah terisi penuh.

"Kalau di Sentosa 1 yang kita kenal sekarang ini sudah full, tidak ada lagi space atau lahan kosong," kata Johan kepada Bangkapos.com, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, jika pun masih terdapat ruang di beberapa titik, hal tersebut umumnya sudah merupakan bagian dari pemesanan keluarga sebelumnya, bukan untuk pemakaman baru.

Ia menjelaskan, tradisi pemakaman Tionghoa umumnya menggunakan ukuran makam yang cukup besar dan seringkali diperuntukkan bagi pasangan suami istri dalam satu lokasi.

"Biasanya satu makam itu bisa untuk dua, misalnya suami dan istri. Kalau sekarang baru suaminya yang dimakamkan, nanti istrinya akan menyusul. Jadi itu sudah termasuk pesanan, bukan lahan baru," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, pihak yayasan kini sepenuhnya mengarahkan pemakaman baru ke kawasan Sentosa 2 yang berlokasi di Desa Jeruk.

"Kalau ada masyarakat Tionghoa yang meninggal sekarang, langsung kita arahkan ke Sentosa 2 di Kampung Jeruk," ujarnya.

Sentosa 2 disebut menjadi solusi atas keterbatasan lahan di kawasan lama. Johan menyebutkan, area tersebut saat ini telah tersedia belasan hektare lahan, dengan ratusan hingga ribuan makam yang sudah mulai digunakan.

Meski demikian, potensi pengembangan di lokasi baru tersebut masih sangat terbuka lebar.

"Di sana lahannya masih luas sekali, masih sangat memungkinkan untuk dilakukan perluasan ke depan," katanya.

Keberadaan Sentosa 2 diharapkan mampu menjadi kawasan pemakaman jangka panjang bagi masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang dan sekitarnya, seiring terus bertambahnya kebutuhan lahan pemakaman.

Sementara itu, Perkuburan Sentosa yang lama tetap dipertahankan sebagai kawasan pemakaman bersejarah yang menyimpan jejak panjang perjalanan komunitas Tionghoa di daerah tersebut.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.