TRIBUNBATAM.id - Iran balas mengancam akan meratakan seluruh infrastruktur militer Amerika Serikat dan Israel.
Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi menyatakan, ancaman Trump adalah bukti ketidakberdayaan dan kebodohan AS.
Ia pun balik mengancam akan meratakan seluruh infrastruktur militer AS-Israel.
“Jika musuh AS-Zionis melakukan agresi apa pun, kami akan, tanpa batasan, menjadikan semua infrastruktur yang digunakan oleh tentara teroris AS, serta infrastruktur rezim Zionis, sebagai sasaran serangan terus-menerus dan dahsyat,” ancam Aliabadi, dikutip dari Al Jazeera.
"Makna sederhana dari pesan ini adalah bahwa pintu neraka akan terbuka untukmu," sambungnya.
Ancaman ini sebagai balasan atas ultimatum Presiden Amerika Donald Trump.
Diketahui, Trump sebelumnya melontarkan ultimatum kepada Iran dengan memberi batas waktu 48 jam untuk membuka kesepakatan dan membuka Selat Hormuz.
“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz,” tulis Trump di Truth Social. "Waktu hampir habis, 48 jam sebelum semua malapetaka menimpa mereka," sambungnya.
Meski demikian, ancaman Trump selama perang dengan Iran kali ini bukan yang pertama.
Pada 21 Maret 2026, Trump memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat.
Namun, dua hari setelah ancaman tersebut, presiden ke-47 AS itu sempat melunak dengan menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan positif.
Menurutnya, sedang berlangsung percakapan yang sangat baik dan produktif dengan otoritas Iran.
Trump juga memutuskan untuk menunda rencana serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari.
Penundaan itu kemudian diperpanjang kembali hingga batas waktu terbaru yang ditetapkan pada pukul 20.00 pada Senin (23/3/2026).Meski ditekan dengan ancaman militer, laporan intelijen terbaru AS, dilansir Reuters, mengindikasikan bahwa Iran tidak akan menyerah begitu saja.
Berdasarkan keterangan tiga sumber yang memahami masalah tersebut, Teheran menilai kendalinya atas jalur nadi minyak dunia tersebut merupakan satu-satunya alat penekan nyata yang mereka miliki terhadap AS. Temuan ini mengindikasikan bahwa Teheran akan terus mencekik jalur pelayaran tersebut guna menjaga harga energi tetap tinggi.
Strategi ini dilakukan guna menekan Trump agar segera menghentikan perang dan mencari jalan keluar diplomatik.(*)