Laporan Reporter TRIBUNFLORES. COM, Cristin Adal
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Misa kedua Malam Paskah, Sabtu (4/4/2026) di Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere, dipimpin langsung Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.
Misa dihadiri umat Katolik Paroki Katedral Maumere dan para peziarah Semana Santa di Larantuka yang singgah di Kota Maumere sebelum kembali ke tempat asal.
Pada perayaan ini Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu menyampaikan pesan Paskah. Ia mengatakan bahwa kebangkitan Kristus tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari keberanian memeluk luka dan penderitaan dengan kasih yang setia.
Bagi Uskup, pendar lilin di tangan umat harus menjadi simbol kesiapan Gereja untuk masuk ke dalam "dunia yang terluka".
Baca juga: Ribuan Umat Hadiri Misa Paskah di Gereja Longko Manggarai Timur
Pesan Paskah bertajuk "Komunitas Basis Gerejawi: Komunitas Harapan dan Perjuangan di Tengah Dunia yang Terluka", Mgr. Edwaldus mengingatkan bahwa Paskah adalah pengakuan iman bahwa Allah bekerja di dalam kegelapan. Allah yang diimani tidak berdiri di luar penderitaan manusia, melainkan mengubah kematian menjadi kehidupan dari dalam.
"KBG tidak cukup dimengerti hanya sebagai tempat berkumpul untuk doa dan ibadat. KBG adalah komunitas perjuangan komunitas yang berani masuk ke dalam realitas hidup umat, dengan segala suka dan dukanya," tegas Mgr. Edwaldus.
Uskup secara gamblang menunjuk realitas di Keuskupan Maumere: keluarga yang berjuang secara ekonomi, saudara yang sakit, relasi yang retak, hingga ketidakadilan sosial. Baginya, semua itu bukan sekadar tantangan, melainkan panggilan iman.
"Gereja tidak hanya berbicara, tetapi hadir. Tidak hanya mengajar, tetapi menyentuh. Tidak hanya berdoa, tetapi bertindak," tambahnya.
Buah Pertumbuhan
Sebagai bukti nyata dari iman yang berakar di tingkat basis, momentum Paskah ini ditandai dengan penetapan tiga kuasi paroki menjadi paroki definitif, yakni Paroki St. Arnoldus Janssen Wairita, Paroki Maria Mater Orphanorum Teluk Maumere dan Paroki Simon Petrus Masebewa
Uskup menggarisbawahi bahwa peristiwa ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan tanda pertumbuhan iman. Paroki-paroki baru ini diharapkan menjadi pusat kehidupan yang menggerakkan KBG untuk semakin nyata dalam karya kasih.
Harapan yang Tangguh
Mgr. Edwaldus menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa harapan Paskah bukanlah optimisme yang instan. Harapan itu adalah kekuatan iman yang lahir dari kesetiaan untuk tidak meninggalkan siapa pun dalam penderitaannya.
"Tidak ada kegelapan yang terlalu pekat yang tidak dapat ditembus oleh terang Kristus. Tidak ada luka yang terlalu dalam yang tidak dapat disentuh oleh kasih-Nya," pungkasnya.