Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Penanganan enceng gondok di wilayah Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, dinilai belum tuntas.
Upaya pembasmian yang dilakukan setiap musim penghujan hanya mampu memberikan hasil sesaat.
Baca juga: Tak Semua Lahan Pertanian Sumenep Dijangkau Jalan Usaha Tani, DKPP Akui Kewenangan Ada di Pokir DPRD
Enceng gondok yang semula menutupi permukaan anak sungai memang sempat mengering setelah disemprot menggunakan obat pembunuh rumput.
Namun, tumbuhan yang mati tersebut justru dibiarkan begitu saja mengambang di atas permukaan air.
Akibatnya, sisa-sisa enceng gondok yang telah mengering berubah menjadi persoalan baru.
Sebagian membusuk dan memenuhi ruas anak sungai, sementara sebagian lainnya kembali tumbuh dengan cepat.
"Kondisi itu terlihat jelas di sepanjang aliran anak Sungai Kaliotik-Dlanggu hingga ke perbatasan Kecamatan Karangbinangun dan Kalitengah," gerutu warga Deket, Sabikhin, Minggu (5/4/2026).
"Hampir seluruh permukaan sungai kembali dipenuhi hamparan enceng gondok, meski sebelumnya telah dilakukan penyemprotan," imbuh dia.
Warga sekitar menyebut, kondisi tersebut terjadi hampir setiap tahun.
Setiap memasuki musim penghujan, pemerintah desa maupun pihak terkait kembali melakukan penyemprotan dengan harapan enceng gondok bisa hilang.
Namun, langkah tersebut dinilai tidak pernah menyelesaikan masalah hingga ke akar.
"Setelah disemprot memang mati dan kering. Tapi hanya beberapa minggu saja. Setelah itu tumbuh lagi karena sisa-sisanya tetap ada di sungai," ujar seorang warga di wilayah Deket lainnya.
Menurutnya, penyemprotan tanpa diikuti pengangkatan enceng gondok yang telah mati hanya membuat sungai dipenuhi tumpukan sampah organik.
Sisa enceng gondok yang membusuk menempel di tepi sungai dan tersangkut di berbagai titik.
Dalam kondisi tertentu, material tersebut juga menahan sampah lain yang terbawa arus.
"Akibatnya, aliran air menjadi semakin sempit dan terhambat, " tambahnya
Pada saat debit air meningkat di musim penghujan, kondisi tersebut dikhawatirkan memperbesar potensi luapan air ke area persawahan maupun permukiman warga di sekitar bantaran sungai.
Tidak hanya itu, sisa batang dan akar enceng gondok yang masih tertinggal di permukaan air juga menjadi media tumbuh baru.
Dalam waktu singkat, tunas-tunas baru kembali muncul dan menyebar ke seluruh permukaan sungai.
Praktik penanganan dengan cara penyemprotan ini disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bahkan, hampir setiap musim penghujan anggaran kembali digelontorkan untuk membeli obat pembasmi rumput dan biaya operasional.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya penyemprotan dilakukan menggunakan alat semprot padi secara manual, dan alat semprot padi electrik, tahun ini metode tersebut berkembang dengan menggunakan drone.
Penggunaan drone dinilai lebih cepat karena mampu menjangkau area sungai yang luas dalam waktu singkat.
Namun di sisi lain, metode tersebut juga menambah biaya pelaksanaan.
Meski teknologi yang digunakan semakin modern, hasil di lapangan dinilai belum berubah.
Enceng gondok memang sempat layu dan berubah warna menjadi kecokelatan beberapa hari setelah disemprot.
Akan tetapi, karena tidak diangkat dari permukaan sungai, tumbuhan tersebut tetap menumpuk di sepanjang aliran.
Beberapa pekan kemudian, permukaan sungai kembali tertutup hijau oleh enceng gondok baru.
Warga berharap penanganan tidak berhenti pada penyemprotan saja.
Mereka meminta agar sisa enceng gondok yang telah mati segera diangkat dan dibersihkan dari aliran sungai.
Menurut warga, langkah tersebut jauh lebih efektif dibanding hanya menyemprot berulang kali setiap tahun.
Selain mengurangi penyumbatan aliran air, pengangkatan enceng gondok juga dinilai dapat mencegah tumbuhan tersebut tumbuh kembali dengan cepat.
"Kalau hanya disemprot terus dibiarkan, ya sama saja. Mati sebentar lalu tumbuh lagi. Harusnya setelah kering langsung diangkat," kata warga lainnya.
Warga juga berharap ada evaluasi terhadap penggunaan anggaran penanganan enceng gondok.
Sebab, setiap tahun biaya terus dikeluarkan, tetapi kondisi sungai tidak pernah benar-benar bersih.
Mereka menilai, penanganan akan lebih efektif apabila dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembasmian, pengangkatan, hingga pembersihan sungai secara berkala.
Tanpa langkah tersebut, enceng gondok diperkirakan akan terus menjadi persoalan rutin di wilayah Kecamatan Deket, terutama di sepanjang anak Sungai Kaliotik-Dlanggu hingga perbatasan Karangbinangun dan Kalitengah.