Sendirian di Gurun Iran, Cerita Penyelamatan Pilot AS: Insiden Black Hawk Down Nyaris Terulang
TRIBUNNEWS.COM - Laporan media Amerika Serikat (AS) dan pernyataan resmi lembaga berwenang, terus mengungkap detail dari apa yang digambarkan sebagai "salah satu operasi penyelamatan paling berani dan kompleks" dalam sejarah operasi khusus Amerika.
Operasi ini diklaim sukses mengevakuasi seorang perwira sistem senjata AS, dari jantung wilayah Iran, dua hari setelah jet tempur F-15E-nya ditembak jatuh.
Baca juga: AS Kian Getol Mengebom: Komandan Unit Fatehin IRGC Iran Tewas, Mantan Menlu Luka-luka
Pilot tersebut adalah anggota kru kedua dari pesawat yang diumumkan Iran telah ditembak jatuh oleh pertahanan udaranya,
Adapun Washington mengumumkan penyelamatan anggota kru pertama pada Jumat lalu, hari yang sama ketika pesawat itu ditembak jatuh.
Axios mengutip pernyataan pejabat AS yang mengatakan bahwa pasukan khusus (komando) berhasil menyelamatkan perwira kedua dalam awak pesawat tempur yang ditembak jatuh oleh Teheran di wilayah barat daya negara itu.
Menurut sumber-sumber tersebut, perwira yang berpangkat kolonel itu terluka setelah terjun payung.
Dia berhasil bersembunyi di daerah pegunungan terjal selama lebih dari 24 jam.
Sendirian di gurun Iran, dia mampu lolos dari kejaran unit-unit yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran yang berpacu dengan waktu untuk menemukannya.
Menurut laporan pers Amerika, perwira tersebut mengandalkan perangkat komunikasi yang aman dan sangat terenkripsi untuk berkoordinasi dengan tim komando dari lokasinya di pegunungan Iran.
"Sumber-sumber mengkonfirmasi bahwa awak pesawat melakukan kontak langsung melalui sistem darurat canggih setelah terjun payung, yang memungkinkan Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Pentagon untuk secara akurat menentukan lokasi mereka meskipun operasi kamuflase dan pengejaran yang sedang berlangsung oleh Garda Revolusi," tulis laporan tersebut, dikutip dari Khbrn, Minggu (5/4/2026).
New York Times melaporkan bahwa operasi yang berlangsung pada Sabtu malam itu melibatkan ratusan pasukan operasi khusus, puluhan pesawat tempur dan helikopter, serta kemampuan intelijen, siber, dan luar angkasa tingkat lanjut untuk menentukan lokasi perwira tersebut.
Dalam rincian konfrontasi di lapangan, sumber-sumber menyatakan bahwa pesawat-pesawat Angkatan Udara AS melancarkan serangan intensif terhadap konvoi dan pasukan Iran yang mencoba mendekati area tempat perwira itu bersembunyi.
Sementara itu, Wall Street Journal mengindikasikan bahwa helikopter HH-60 melakukan sorti di ketinggian rendah di medan pegunungan di tengah tembakan darat Iran.
Laporan mengkonfirmasi bahwa sebuah helikopter Black Hawk terkena tembakan pertahanan Iran.
Namun, helikopter mampu menyelesaikan misinya dan kembali dengan selamat, membuat insiden yang terjadi di Somalia pada 1993 -juga di misi penyelamatan personel AS di garis musuh, bisa dielakkan.
Wall Street Journal juga mengutip sumber yang mengatakan bahwa pasukan AS menggunakan drone untuk menyerang warga Iran yang mendekati pilot sebelum ia diselamatkan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump melalui platform "Truth Social" miliknya menggambarkan operasi tersebut sebagai "salah satu operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah Amerika,".
Trump menekankan bahwa petugas "pejuang pemberani" itu selamat dan sekarang sedang menerima perawatan.
Trump dan anggota senior timnya mengikuti detail operasi tersebut dari waktu ke waktu dari Ruang Situasi Gedung Putih, pada saat Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan jatuhnya sebuah pesawat tak berawak Amerika di selatan Isfahan yang ikut serta dalam upaya pencarian.
Operasi ini menimbulkan pertanyaan tentang pernyataan sebelumnya dari Departemen Perang (Pentagon) mengenai "kontrol absolut" atas wilayah udara Iran.
Perlu dicatat, ini adalah pertama kalinya pesawat berawak Amerika ditembak jatuh oleh tembakan musuh sejak dimulainya kampanye militer terbaru pada 28 Februari.
Menurut New York Times, operasi tersebut bukannya tanpa kerugian materiil, karena pasukan Amerika terpaksa meledakkan dua pesawat angkut yang mengalami kerusakan selama operasi di pangkalan sementara di dalam Iran, untuk memastikan kalau teknologi mereka tidak jatuh ke tangan pasukan Iran, sebelum semua pasukan khusus meninggalkan wilayah udara Iran.
Prosedur ini dilaporkan media Iran, Tasnim mengutip sumber militer Iran, kalau pasukan AS "berusaha membunuh pilot mereka" setelah kehilangan harapan untuk menemukannya.
Sementara itu, Garda Revolusi mengumumkan bahwa mereka menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak Amerika tadi malam di selatan Isfahan, yang menurut mereka membantu dalam pencarian pilot Amerika tersebut.
Reuters melaporkan pada hari Jumat bahwa dua helikopter Black Hawk yang terlibat dalam operasi pencarian terkena tembakan Iran, tetapi berhasil keluar dari wilayah udara Iran.
Dalam insiden terpisah, para pejabat melaporkan bahwa sebuah jet tempur A-10 Warthog tertembak dan jatuh di atas Kuwait, dan pilot berhasil melontarkan diri.
Jenis cedera yang dialami oleh awak pesawat belum jelas.
(oln/khbrn/axs/rtrs/*)