SBY Pasang Badan Dukung Prabowo, Desak PBB Investigasi Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon
Adi Suhendi April 05, 2026 06:19 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendesak investigasi menyeluruh atas gugurnya 3 prajurit TNI di Lebanon.

SBY menyatakan bahwa Indonesia memiliki hak penuh untuk menuntut pertanggungjawaban Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait insiden yang menimpa pasukan perdamaian (peacekeeper) tersebut.

"Secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu," tulis SBY melalui akun X resminya, Minggu (5/4/2026).

Mantan Kepala Pengamat Militer PBB di Bosnia ini meminta UNIFIL menjelaskan secara transparan mengapa insiden maut tersebut bisa terjadi secara beruntun.

Ia menilai hasil investigasi nantinya harus masuk akal bagi publik dan keluarga korban.

Baca juga: Momen Haru Presiden Prabowo dan SBY Beri Penghormatan Terakhir 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

"PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka 'peacekeeper' dari Indonesia itu terjadi," tegasnya.

SBY mengingatkan bahwa pasukan TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda XXIII/S mengemban mandat peacekeeping atau penjagaan perdamaian berdasarkan Chapter 6 Piagam PBB, bukan tugas pertempuran atau peacemaking.

Kondisi di lapangan saat ini dinilai sudah sangat menyimpang, di mana wilayah Blue Line yang seharusnya aman kini telah berubah menjadi zona perang atau war zone akibat konfrontasi Israel dan Hizbullah.

Baca juga: Jubir Ungkap Alasan Anies Baswedan Hadiri Halalbihalal di Kediaman SBY Meski Tak Diundang

"Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi 'peacekeeper' karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung," ungkap SBY.

Lebih lanjut, ia mendesak Dewan Keamanan PBB segera mengeluarkan resolusi untuk memindahkan lokasi pasukan ke luar medan pertempuran guna menghindari jatuhnya lebih banyak korban jiwa.

Sebagai inisiator pengiriman pasukan awal ke Lebanon pada 2006, SBY merasa memiliki kewajiban moral untuk bersuara. 

Ia mengenang bagaimana dirinya mengusulkan pengiriman satu batalyon plus setelah perang Israel-Libanon pecah 20 tahun silam.

"Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini," pungkasnya.

Tiga prajurit Satgas Kontingen Garuda (Konga) TNI yang gugur dalam tugas dan delapan lainnya terluka.

Mereka menjadi korban serangan Israel di Lebanon.

Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar gugur setelah sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan di Lebanon Selatan pada 30 Maret 2026.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung Jawa Barat, Minggu (5/4/2026).

Kemudian, Sertu Nur Ichwan gugur akibat sebuah ledakan yang menghantam kendaraan United Nations Interim Force In Lebanon Atau UNIFIL yang mengangkut dirinya bersama rombongan pada Senin (30/3/2026).

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giridharmoloyo Kota Magelang pada Minggu (5/4/2026).

Selanjutnya, Praka Farizal Rhomadhon gugur pada Minggu (29/3/2026) setelah proyektil meledak di dekat tempat pasukan perdamaian PBB di dekat Desa Adchit al-Qusayr di Lebanon Selatan.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giripeni di Kapanewon Wates, Kulonprogo, Yogyakarta pada Minggu (5/4/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.