Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pemkot Malang menegaskan agar investor yang masuk memprioritaskan warga Kota Malang sebagai pekerja.
Lantaran dalam dua tahun terakhir, serapan tenaga kerja belum berbanding lurus dengan nilai investasi.
Baca juga: Antusiasme Rakyat Masih Tinggi, Pasar Malam Alun-alun Ponorogo Diperpanjang sampai 11 April 2026
Dalam dua tahun terakhir, investasi Kota Malang terus meningkat.
Pada 2024, nilai investasi yang masuk sebanyak Rp2,8 triliun.
Pada 2025, nilainya naik menjadi Rp3,1 triliun.
Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang, Arif Tri Sastyawan menjelaskan, pada tahun 2026 ini, target investasi yang masuk mencapai Rp3,2 triliun.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Malang pada Agustus 2024 mencapai 6,10 persen.
Pada tahun 2025, TPT di Kota Malang per Agustus 2025 berhasil turun menjadi 5,69 persen.
"Kami sudah meminta investor yang masuk harus menyerap tenaga kerja lokal. Jangan sampai ambil dari luar daerah. Tahun ini kami menargetkan angka pengangguran di bawah 5,5 persen," tegasnya, Minggu (5/4/2026).
Untuk mencapai target tersebut, Pemkot Malang mengintensifkan pendampingan kepada pelaku usaha.
Khususnya dalam pelaporan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), sekaligus aktif memburu investor baru agar percepatan investasi tetap terjaga.
Intensifikasi ini menyasar sektor perhotelan dan kuliner yang selama ini menjadi penyumbang terbesar investasi sekaligus penyerap tenaga kerja di Kota Malang.
Pemkot meminta agar kebutuhan tenaga kerja, termasuk posisi dasar seperti cleaning service hingga staf operasional, diprioritaskan bagi warga lokal, terutama lulusan SMA dan SMK.
"Hotel itu kan paling banyak. Kami minta jangan ambil tenaga dari luar, padahal kebutuhan seperti cleaning service, ballroom, itu bisa diisi tenaga lokal," katanya.
Selain sektor perhotelan dan kuliner pemerintah juga mulai melirik ekonomi kreatif sebagai mesin baru pencipta lapangan kerja.
Meski begitu, kontribusi sektor ini dinilai belum optimal dan masih perlu didorong lebih serius.
"Ekonomi kreatif ini jadi salah satu yang bisa menekan TPT, makanya akan digenjot juga. Tapi untuk data resminya memang belum masuk ke kami," tandasnya.
Pemkot Malang berharap kombinasi antara percepatan investasi, kewajiban serapan tenaga kerja lokal, serta penguatan sektor ekonomi kreatif mampu menekan angka pengangguran yang masih menjadi sorotan.
Anggota DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika menilai, penciptaan lapangan kerja harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja.
Di sisi lain, Made mengingatkan bahwa angka anak tidak sekolah di Kota Malang juga masih tinggi.
Ia menambahkan, lulusan SMK dan perguruan tinggi mendominasi tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 68 persen lebih, tetapi justru menyumbang pengangguran tertinggi.
Oleh karena itu, upgrading keterampilan menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan mampu bersaing dengan tuntutan teknologi dan industri modern.
"Pertumbuhan investasi Kota Malang memang bagus, tapi tidak sebanding dengan kapasitas penyerapan tenaga kerja."
"Makanya harus ada kebijakan untuk menjembatani kebutuhan industri dengan keterampilan tenaga kerja," imbuhnya.
Saat ini pola minat kerja kalangan terdidik mulai bergeser.
Banyak yang memilih sektor informal seperti content creator, influencer, atau pekerja lepas berbasis digital.
Meski demikian, sektor tersebut tetap diakui sebagai bagian dari kegiatan ekonomi produktif.