TRIBUN-BALI.COM - Hidup tak selalu memberi jalan mulus. Bagi Wayan Tantra (35) warga asal Lingkungan Galiran, Kota Amlapura, Karangasem.
Kerasnya kehidupan justru menjadi titik awal perjalanan panjang yang mengubah nasibnya dari seorang tukang suwun di pasar, hingga kini mampu membantu banyak orang bekerja ke luar negeri.
Perjalanan hidup Wayan Tantra mulai berubah drastis saat ia berusia 15 tahun. Di usia yang seharusnya masih bergantung pada orangtua, ia justru harus menerima kenyataan pahit ditinggal kedua orangtuanya.
Saat itu, keluarganya berada dalam kondisi ekonomi sulit. Bersama dua adik dan satu kakak, ia berjuang bertahan hidup.
Untuk tetap bisa sekolah di SMK, Wayan Tantra rela menjadi tukang suwun di beberapa pasar. Ia juga harus berpindah-pindah tempat tinggal karena tak mampu membayar kos.
Baca juga: PULUHAN Rumah Warga Terendam Banjir, Hujan Deras Picu Luapan Air Sungai, Paling Parah Tegalcangkring
Baca juga: AMBISI Poin Penuh, Goppel Siap Tempur Laga BU vs PSBS, Misi Jansen Raih Kemenangan Lawan Juru Kunci!
"Orangtua saya tidak punya rumah dulu nyakap tanah (penggarap). Setelah kedua orangtua tidak ada, saya tinggal di kos. Itupun pindah-pindah karena tidak bisa bayar," ujar Wayan Tantra.
Hidupnya sempat terlunta-lunta di jalanan, namun ia bersama kaak dan adiknya tetap bertekad untuk terus bertahan.
"Saat SMK saya sampai malu karena sering ditrakir oleh teman-teman. Karena saking seringnya, saya sempat beralasan usus buntu biar tidak ditraktir bakso sama teman," ungkap Tantra, Minggu (5/4).
Setelah lulus sekolah pada 2012, ia sempat mencoba kuliah di salah saru universitas swasta di Denpasar sambil bekerja sebagai SPG di sebuah pusat perbelanjaan.
"Kalau saya pokoknya coba dulu, walau tidak punya uang saya nekat kuliah. Nanti kalau sudah tidak kuat, ya berhenti. Seperti itu saya jalani saat itu," jelasnya.
Namun, kondisi ekonomi kembali memaksanya harus berhenti di semester lima. Kemudian ia kembali ke Karangasem dan mendapatkan kesempatan menjadi resepsionis hotel di Candidasa. Sampai akhirnya ia mendapat tawaran sebagai terapis.
"Pada tahun itu tidak ada terapis laki-laki. Saya terima tawaran itu, sampai saya belajar terapis di salah satu LPK," ungkapnya.
Kesempatan besar datang pada 2015 ketika ia mendapat tawaran bekerja di Turki. Tanpa banyak bekal dan pengalaman, ia berani mengambil risiko besar tersebut.
Namun, kenyataan tak sesuai harapan. Setibanya di sana, ia justru terlantar karena diberangkatkan dengan visa yang tidak sesuai. Ia bahkan sempat lontang-lantung dan hidup tanpa kepastian selama hampir satu tahun.
"Saya ternyata diberangkatkan dengan visa holiday. Saya hubungi agen yang memberangkatkan saya, nomor hp saya diblokir," jelasnya.
Rasa malu untuk pulang menjadi alasan ia tetap bertahan. Dalam kondisi serba sulit, ia mencoba berbagai cara untuk bangkit. Hingga akhirnya, pada 2016 ia mendapatkan pekerjaan di bidang spa.
"Setelah setahun itu saya lontang-lantung, tahun 2016 akhirnya saya bisa kerja sebagai terapis. Saat itu saya sudah bisa mengurus izin tinggal dan visa kerja secara mandiri," ungkapnya.
Dari sana, ia mulai membangun jaringan pertemanan dengan banyaknya PMI asal Bali yang bekerja di Turki. Melihat peluang, pada 2017 ia membuka jasa pengiriman uang bagi pekerja Indonesia di Turki.
Usaha tersebut berkembang pesat karena dibangun atas dasar kepercayaan.
"Atas dasar kepercayaan, bisnis saya itu lancar. Penghasilan dari sana bisa tiga kali lipat dari gaji saya saat itu sebagai terapis," ungkapnya.
Tak berhenti di situ, ia juga merambah bisnis penjualan kebutuhan makanan Indonesia di Turki pada 2018 hingga 2019. Namun pandemi COVID-19 mengubah segalanya.
"Pada saat itu bisnis saya di sana (Turki) masih berkembang. Tapi datang Covid-19, saat itu PMI diminta pulang. Saya berpikir mungkin sampai di sini rezeki saya di sana (Turki). Saya akhirnya kembali ke Karangasem," ungkap dia.
Sesampainya di Bali, kondisi pariwisata belum pulih. Ia pun mencoba berbagai usaha, mulai dari berjualan buah hingga nasi jinggo. Seiring berjalannya waktu, pasca Covid-19 ia menemukan peluang baru untuk membantu pekerja Indonesia agar bisa berangkat ke luar negeri secara legal dan aman.
Dari pengalaman pahitnya diberangkatkan dengan visa tidak sesuai, ia bertekad mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Global Briliant College di Karangasem.
Ia ingin membuktikan tidak semua jalur kerja ke luar negeri itu ilegal, serta membantu orang lain agar tidak mengalami nasib serupa.
Kini, Wayan Tantra tak hanya berdiri untuk dirinya sendiri. Ia menjadi jembatan bagi banyak orang yang ingin memperbaiki hidup lewat kerja di luar negeri, dengan cara yang legal. (mit)