SURYA.co.id – April 2026 menjadi bulan yang mencekam bagi ekonomi global.
Laporan terbaru menyebut hanya empat kapal yang berhasil menembus blokade di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini memasok hampir sepertiga energi dunia.
Mengutip laporan media internasional, satu kapal kontainer milik perusahaan Prancis serta tiga kapal tanker terkait Oman berhasil keluar dari Teluk meski risiko keamanan masih tinggi.
Financial Times melaporkan kapal CMA CGM Kribi menjadi kapal pertama dari perusahaan pelayaran Barat yang melintasi selat sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Kapal berbendera Malta tersebut terdeteksi mengaktifkan transponder di dekat Dubai sebelum melintas melalui rute sekitar Pulau Larak di dekat pantai Iran.
Tiga kapal tanker lainnya, termasuk LNG Sohar milik Mitsui OSK Lines, juga dilaporkan berhasil melewati jalur tersebut.
BBC menegaskan kapal ini menjadi yang pertama dari perusahaan besar Eropa Barat yang menembus jalur vital sejak konflik Iran dengan AS–Israel memanas.
Efeknya bisa langsung terasa di dompet masyarakat Indonesia, mulai dari harga BBM, tarif listrik, hingga harga bahan pokok di pasar.
Baca juga: Fantastis, Mengintip Harga 2 Jet Tempur AS yang Rontok Ditembak Jatuh Iran, Segini Kerugian Trump
Selat Hormuz bisa disebut sebagai “leher botol” distribusi energi dunia.
Jalur sempit ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global setiap harinya.
Bagi Indonesia, dampaknya sangat nyata.
Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah dan BBM, stabilitas pasokan global sangat menentukan harga energi dalam negeri, termasuk menjaga beban subsidi tetap terkendali.
Bayangkan jalur laut selebar beberapa kilometer yang harus dilalui jutaan barel minyak setiap hari.
Ketika jalur ini terganggu, pasokan tersendat dan harga otomatis melonjak di pasar global.
Data menunjukkan kapal-kapal kini memilih jalur dekat pantai Oman untuk menghindari ancaman keamanan, menandakan situasi masih jauh dari normal.
Kenaikan harga minyak tidak berhenti di SPBU. Dampaknya menjalar ke seluruh rantai ekonomi.
Saat harga BBM (terutama solar industri) naik, biaya logistik otomatis meningkat.
Ongkos distribusi beras, daging, hingga bahan pokok lain ikut terdorong naik.
Selain itu, sekitar sepertiga perdagangan bahan baku pupuk dunia melewati jalur Selat Hormuz.
Gangguan distribusi membuat harga pupuk naik, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi pangan.
Laporan Lloyd’s List mencatat sekitar 200 kapal sempat terjebak saat konflik memuncak, sementara lalu lintas pelayaran turun hingga 95 persen dari kondisi normal.
Meski begitu, data BBC Verify menunjukkan sekitar 100 kapal masih berhasil melintas hingga akhir Maret dalam jumlah terbatas.
Kondisi ini berpotensi memicu inflasi global yang imbasnya akan dirasakan hingga pasar tradisional di Indonesia.
Jika blokade Selat Hormuz berlanjut, berikut potensi dampaknya terhadap “isi dompet” masyarakat:
Di tengah situasi ini, ketahanan energi nasional menjadi kunci. Pemerintah biasanya mengandalkan cadangan BBM nasional untuk menjaga pasokan dalam jangka pendek.
Namun, jika krisis berlangsung berbulan-bulan, tekanan terhadap anggaran negara akan meningkat, terutama untuk menjaga subsidi energi agar harga tetap stabil.
Di sisi lain, diversifikasi sumber impor menjadi opsi penting.
Indonesia berpotensi mengalihkan pasokan dari negara lain di luar kawasan konflik, seperti Rusia atau Amerika Serikat, meski dengan konsekuensi harga yang lebih mahal.
Tekanan internasional terhadap Iran juga terus meningkat. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyatakan diperlukan langkah internasional terkoordinasi untuk menekan Iran membuka kembali selat.
Ia juga menolak wacana pungutan biaya tinggi bagi kapal yang melintas, yang disebut sebagai “gerbang tol Teheran”.
Sementara itu, PBB kini mempertimbangkan pembukaan koridor kemanusiaan untuk memastikan distribusi pupuk tetap berjalan dan mencegah krisis pangan global.
Blokade Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi global sangat rentan terhadap konflik geopolitik.
Meski saat ini masih ada kapal yang berhasil melintas, jumlahnya sangat terbatas dan belum mampu memulihkan arus perdagangan secara normal.
Selagi dunia menunggu hasil diplomasi internasional dan rencana pengamanan jalur, masyarakat Indonesia perlu mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan harga.
Jika krisis ini berlarut-larut, dampaknya bukan hanya terasa di pasar global, tetapi juga di struk belanja harian kita.