WFH dan Burnout Society
Abdul Azis Alimuddin April 06, 2026 12:05 AM

Oleh: Muhammad Suryadi R
Direktur Eksekutif Parametric Development Center

TRIBUN-TIMUR.COM -  Dalam upaya meningkatkan efisiensi energi, pemerintah Indonesia mulai mendorong kebijakan Work From Home (WFH) selama satu hari dalam seminggu bagi sebagian aparatur dan sektor tertentu.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi mobilitas harian, menekan konsumsi bahan bakar, serta mengurangi beban lalu lintas di kota-kota besar.

Secara sepintas, langkah ini tampak sebagai solusi rasional yang tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga pada kualitas hidup pekerja.

Tetapi, di balik kebijakan yang tampak progresif ini, muncul pertanyaan mendasar, apakah WFH benar-benar menghadirkan kenyamanan, atau justru memperluas ruang kelelahan dalam kehidupan modern.

WFH pada awalnya dipandang sebagai solusi ideal di tengah perubahan dunia kerja modern terutama di era Covid-19.

Banyak orang membayangkan bekerja dari rumah adalah bentuk kebebasan baru, dimana pekerjaan tidak lagi dilakukan dari rumah panjang ke kantor, tanpa tekanan suasana formal, dan dengan waktu yang lebih fleksibel.

Rumah yang selama ini menjadi ruang istirahat, tiba-tiba berubah menjadi pusat aktivitas produktif.

Meski demikian, di balik kenyamanan itu, fleksibilitas WFH seringkali berubah menjadi ilusi.

Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi kabur.

Laptop yang selalu terbuka, notifikasi yang terus berdatangan, serta tuntutan untuk selalu siap membuat banyak orang sulit beristirahat.

Alih-alih bekerja lebih santai, banyak pekerja justru merasa jam kerjanya semakin panjang.

Rumah tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat pulang, tetapi perpanjangan dari ruang kerja.

Burnout Society dan Paradoks Birokrasi

Fenomena kelelahan ini dijelaskan melalui konsep burnout society, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, dalam bukunya The Burnout Society.

Han menjelaskan bahwa masyarakat modern telah bergeser dari masyarakat disiplin menjadi masyarakat prestasi.

Jika dulu manusia dikendalikan oleh aturan dan larangan eksternal, kini manusia terdorong oleh ambisi internal untuk terus berprestasi.

Dalam konteks ini, seseorang tidak lagi ditindas oleh orang lain, tetapi oleh dirinya sendiri.

Kita merasa harus selalu produktif, selalu aktif, dan selalu berhasil.

Tapi tanpa disadari, kita menjadi subjek yang mengeksploitasi diri sendiri.

Kelelahan yang muncul bukan lagi diakibatkan oleh paksaan, tetapi karena dorongan internal yang tidak pernah berhenti.

Dalam konteks birokrasi, kita justru melihat dua logika yang saling bertabrakan.

Di satu sisi, birokrasi berupaya menghadirkan efisiensi melalui pengurangan mobilitas dan fleksibilitas kerja.

Di lain sisi, birokrasi tetap mempertahankan budaya administrasi yang kaku, target kinerja yang tinggi, serta tuntutan pelaporan yang berlapis-lapis.

Akibatnya, alih-alih mengurangi beban kerja, WFH seringkali justru menambah tekanan administratif yang harus diselesaikan dari rumah.

Dalam situasi ini, aparatur atau pekerja tidak hanya menghadapi tuntutan eksternal berupa aturan dan target, tetapi juga tekanan internal untuk tetap terlihat produktif meskipun bekerja dari rumah.

Para pegawai harus membuktikan bahwa WFH tidak mengurangi kinerja, tetapi harus justru menunjukkan kinerja yang lebih tinggi.

Inilah logika Self Exploitation yang dijelaskan oleh Han, yakni individu bekerja lebih keras bukan karena dipaksa secara langsung, tetapi karena dorongan untuk memenuhi ekspektasi sistem sekaligus membuktikan dirinya.

WFH dalam konteks ini menjadi ruang di mana kontrol birokrasi tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk -dari pengawasan fisik menjadi pengawasan dalam bentuk digital dan administratif: absensi online, laporan harian, hingga respons cepat terhadap pesan menjadi indikator baru kedisiplinan.

Tanpa disadari, rumah berubah menjadi perpanjangan dari sistem birokrasi yang terus bekerja tanpa jeda.

Mencari Keseimbangan di Tengah Tuntutan

Dampak dari kondisi ini tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga secara sosial.

Burnout dapat menyebabkan kelelahan mental, kehilangan motivasi, hingga menurunnya kualitas hubungan dengan keluarga.

Hal ini suatu ironi tentu saja. Produktivitas yang diharapkan justru bisa menurun dalam jangka panjang.

Karena itu, menurut penulis, penting untuk menemukan kembali batas antara kerja dan kehidupan pribadi.

Individu perlu berani menetapkan jam kerja yang jelas dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Di sisi lain, organisasi juga perlu menciptakan budaya kerja yang lebih manusiawi, yang tidak menuntut ketersediaan tanpa batas.

Selain itu, kita juga perlu merenungkan ulang cara kita memaknai kerja itu sendiri.

Apakah kerja semata-mata tentang pencapaian dan produktivitas, ataukah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang dan bermakna?

Dalam logika burnout society, manusia cenderung mengukur dirinya dari seberapa banyak yang ia hasilkan.

Padahal, nilai hidup tidak selalu terletak pada output yang terlihat, tetapi juga pada kemampuan untuk merasakan, beristirahat, dan hadir secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, rumah seharusnya tetap menjadi tempat pulang, dimana rumah menjadi ruang untuk memulihkan diri, refleksi diri, bukan sebagai tempat kerja tanpa akhir.

Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat, mungkin yang paling kita butuhkan justru adalah kemampuan untuk jeda sejenak dan melepaskan lelah dari sebuah pekerjaan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.