TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Harga plastik naik akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini dinilai dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke produk guna ulang (daur ulang).
Ketua Komunitas Sarkaspace, Ahmad Quraysi, mengatakan lonjakan harga plastik seharusnya menjadi pengingat, agar masyarakat didorong mulai mengubah pola konsumsi menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
“Plastik naik, saatnya tolak plastik sekali pakai dan beralih ke sistem guna ulang,” kata Quraysi saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Ratusan Pelajar SMPN 2 Tamanan Bondowoso Bersih-Bersih Sampah Plastik di Alun-Alun
Quraysi menjelaskan, kenaikan harga plastik tidak terlepas dari gangguan pasokan minyak dan nafta akibat konflik di Timur Tengah. Kedua bahan tersebut merupakan komponen utama dalam produksi plastik.
Ketika distribusi energi terganggu, pasokan bahan baku plastik ikut menyempit sehingga memicu kenaikan harga di pasar global.
Menurut pria yang akrab disapa Uyes itu, kondisi ini menunjukkan plastik memiliki ketergantungan kuat terhadap energi fosil.
Lebih dari 99 persen plastik diproduksi dari bahan bakar fosil, yang sepanjang siklus hidupnya juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dan memperburuk krisis iklim.
Baca juga: Mayat Bayi Dibungkus Plastik Hebohkan Warga Desa Tamansari Situbondo
Selain berdampak pada lingkungan, plastik juga dinilai berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Quraysi menyebut terdapat sekitar 16 ribu bahan kimia yang terkandung dalam plastik.
Dari jumlah tersebut, setidaknya 4.200 bahan kimia diketahui berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Ia juga menyinggung temuan bahwa 23 bahan kimia plastik telah terdeteksi dalam darah pekerja perempuan yang bekerja di sektor pengelolaan sampah plastik.
“Plastik sudah meracuni kesehatan dan lingkungan,” ujarnya.
Baca juga: Tinggalkan Kantong Plastik, Warga Desa Mrawan Bondowoso Pakai Daun untuk Wadah Daging Kurban
Quraysi menilai kenaikan harga plastik dapat menjadi titik awal perubahan menuju sistem guna ulang yang lebih stabil dan tidak bergantung pada fluktuasi harga minyak.
Menurutnya, sistem ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan.
Masyarakat dapat memulai dari langkah sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri atau menggunakan wadah isi ulang saat berbelanja.
“Sebagai konsumen kita bisa mulai dengan hal sederhana membawa tas belanja sendiri, dan wadah isi ulang,” katanya.
Di sisi lain, industri diharapkan mulai mendesain ulang kemasan produk serta menyediakan sistem refill yang mudah diakses masyarakat. Pemerintah juga dinilai perlu memperkuat kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.
“Pemerintah juga harus mendorong sistem guna ulang yang lebih masif di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Komunitas Sarkaspace mencatat sepanjang tahun 2025 telah mengelola sekitar 1,5 ton sampah plastik dari berbagai kegiatan pengumpulan dan pengolahan di wilayah Bondowoso.