Oleh: Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Situasi terkini telah menimbulkan suasana dalam masyarakat dan dunia merasa kepanikan.
Perang antara Amerika Serikat (AS) bersekutu dengan Israel melawan Republik Islam Iran (RRI) masih terus berlangsung.
Kebrutalan AS yang didukung Israel telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.
Korban-korban jiwa di pihak Iran terus berjatuhan akibat hantaman rudal dari AS bersama Israel.
Sebaliknya Iran pun tidak tinggal diam menanggapi agresi perilaku brutal AS bersama Israel.
Republik Islam Iran puluhan tahun diembargo oleh Amerika Serikat (AS).
AS adalah aktor utama yang mengembargo Iran sejak revolusi 1979.
Embargo mencakup sanksi ekonomi, perdagangan, minyak, dan militer.
Sanksi ini bertujuan menekan program nuklir dan militer Iran.
Walaupun demikian, tampaknya Republik Islam Iran mampu meningkatkan dirinya dalam banyak sektor, termasuk dalam dunia militer dengan persenjatannya.
Perang yang berkecamuk antara AS + Israel melawan RRI mengandalkan pertempuran jarak jauh.
Peluru kendali dan drone menjadi andalan utama peperangan ini.
Pertempuran telah berlangsung hingga beberapa pekan belum juga usai.
Padahal AS telah berbangga diri bahwa menghadapi RRI tidak membutuhkan waktu yang berlama-mana.
Ternyata RRI mampu bertahan dan membalas dengan penuh heroik gempuran pasukan musuh.
Ketangguhan RRI dengan ‘memogokkan’ pergerakan kapal induk AS.
Berdasarkan laporan Maret 2026, kapal induk AS yang dilaporkan mengalami kerusakan dan ditarik mundur dari wilayah operasi dekat Iran adalah USS Gerald R. Ford (CVN-78) dan USS Abraham Lincoln (CVN-72).
USS Gerald R. Ford mengalami kebakaran, sementara USS Abraham Lincoln diklaim dihantam rudal balistik Iran.
Keberanian RRI melawan Agresor AS + Israel patut diacungi jempol.
RRI dengan kemandiriannya terus menunjukkan taji perlawanan yang kokoh.
Beberapa pangkalan militer AS yang ‘menumpang’ di negara-negara Timur Tengah dihajar oleh RRI.
Negara-Negara di Timur Tengah belum menunjukkan keberaniannya untuk membantu RRI.
Sejumlah kelompok perlawanan tampaknya turut meramaikan suasana perang ini.
Kelompok yang membantu Iran melawan AS dan Israel, yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan”, terutama terdiri dari milisi regional seperti Hizbullah (Lebanon), Houthi (Yaman), Hamas dan Jihad Islam (Palestina), serta berbagai milisi Syiah di Irak dan Suriah.
Rusia dan China juga memberikan dukungan strategis/diplomatik tidak langsung.
Perang melebar ke mana-mana di wilayah Timur Tengah. Kelihatannya negara-negara tersebut dikondisikan untuk saling serang.
Kecerdikan dan keculasan AS + Israel sengaja menghantam wilayah di situ.
Kemudian menuduh RRI yang menyerangnya.
Perang yang diinisiasi AS + Israel menyerang RRI telah mengguncang dunia.
RRI telah menutup selat Hormuz sebagai jalan utama distribusi minyak.
Indonesia pun terkena dampak tersebut.
Timbul kepanikan atas isu keterbatasan stok minyak.
SPBU diserbu oleh pengguna bahan bakar.
Hantaman pedis untuk Indonesia, karena TNI telah diserbu oleh tentara Israel.
Mereka telah menjadi korban sia-sia sebagai pasukan perdamaian PBB di Libanon.
Kecaman terhadap Israel tidak menyurutkan keberingasan mereka.
Seharusnya Pemerintah Indonesia menarik saja pasukan tersebut dari wilayah konflik.(*)