Nurul Diduga Hanyut saat Bikin Konten Debit Air di Demak
M Syofri Kurniawan April 06, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK – Banjir besar kembali melanda Kabupaten Demak.

Banjir terjadi karena tanggul Sungai Tuntang jebol di tiga lokasi, pada Jumat (3/4/2026) lalu.

Banjir serupa sebelumnya terjadi, pada 16 Februari silam.

Banjir setinggi 100 hingga 150 sentimeter merendam sepuluh desa di empat kecamatan, meliputi Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung.

Wilayah paling terdampak banjir Demak berada di Kecamatan Guntur. 

Data terakhir yang diterima dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, ada Sabtu malam, belasan ribu orang dan ribuan rumah terdampak.

"Dampak 13.106 jiwa atau 3.529 KK, kurang lebih 3.529 rumah terdampak," kata Kepala Pelaksana BPBD Demak, Agus Sukiyono, Sabtu.

Tanggul Sungai Tuntang yang melintasi Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, jebol di tiga titik.

Dua titik tanggul jebol berada di Dukuh Solondoko sepanjang 30 meter dan Dukuh Solowire sepanjang 10 meter, keduanya masuk Desa Trimulyo, dan satu titik jebol sepanjang 15 meter, masuk Desa Sidoharjo, keduanya masuk Kecamatan Guntur. 

"Tanggul jebol di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo 30 meter, di Desa Sidoharjo jebol 15 meter," ujar Agus Sukiyono.

Terseret arus

Selain merendam rumah, banjir di wilayah Demak juga menimbulkan korban tewas.

Hingga Minggu (5/4/2026) kemarin, tercatat dua orang tewas dalam peristiwa banjir Demak, di Kecamatan Bonang dan Guntur. 

Nurul Huda Musahadi (33), warga Desa Gebangarum, Kecamatan Bonang, Demak, ditemukan meninggal di Sungai Tuntang, di Dukuh Pidodo, Desa Karangrejo, Sabtu (4/4/2026).

Korban yang dikenal sebagai seorang konten kreator itu, diduga terseret arus saat membuat konten terkait tingginya debit air Sungai Tuntang di Desa Karangrejo, pada Jumat (3/4/2026).

"Jumat 3 April, sekitar pukul 16.00, korban yang seorang konten kreator diduga membuat konten di tanggul Sungai Tuntang yang mengalami debit air," ujar Agus, Sabtu malam. 

Diketahui, pada hari Jumat debit air tanggul Sungai Tuntang meningkat hingga mengakibatkan tanggul di Kecamatan Guntur jebol di tiga titik.

Agus menambahkan, korban ditemukan tim gabungan pada pukul 09.48 WIB dalam kondisi meninggal dunia. 

"Tim melakukan pencarian dengan membawa perahu dan pelampung dan korban berhasil ditemukan pada Sabtu pagi," katanya. 

Kapolsek Bonang, AKP Miftahun Nur juga menyampaikan, korban dikenal tetangganya sebagai seorang vlogger.

"Keterangan dari tetangganya itu vlogger, istilahnya ngevlog-ngevlog itu, terkenalnya di desa seperti itu," kata Miftah, melalui sambungan telepon, Sabtu sore. 

"Mungkin (membuat konten), kan airnya tinggi waktu itu, alirannya kan deras ke arah laut, sana dekat muara," sambung dia, saat ditanya dugaan aktivitas sebelum insiden. 

Dia juga memastikan, dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban.

"Tidak ada, intinya dia tenggelam, paru-parunya kena air," jelas Miftah. 

Lebih lanjut, Miftah menjelaskan, kronologi kejadian penemuan korban bermula saat salah seorang warga setempat melihat kendaraan sepeda motor yang terparkir di tanggul Sungai Tuntang, Desa Karangrejo, pada Jumat sore.

Tidak jauh di lokasi juga ditemukan satu sandal jepit. 

Oleh karena merasa curiga motor tetap di lokasi hingga Jumat malam, saksi akhirnya melaporkan ke perangkat desa setempat hingga Polsek Guntur.

"Kan curiga, ketakutan lapor ke perangkat desa, perangkat ke Polsek," katanya. 

Anggota Polsek Guntur lantas mendatangi lokasi dan mencari keberadaan pemilik kendaraan tapi tidak membuahkan hasil.

Hingga akhirnya, polisi disaksikan warga membuka jok motor dan menemukan fotokopi KK. 

Anak hanyut

Sementara itu, seorang anak umur tujuh tahun, Anita Rahmawati, hanyut saat banjir bandang melanda Desa Trimulyo, pada Jumat siang.

Banjir tersebut terjadi sebagai dampak jebolnya tiga titik tanggul Sungai Tuntang di kawasan tersebut.

Jenazah Anita ditemukan keesokan harinya, pada Sabtu (4/4/2026).

Sejumlah warga terpantau mengiringi pemakaman jenazah anak tersebut dalam kondisi banjir menuju pemakaman umum setempat. 

Warga setempat, Samsul Hidayat (38), mengonfirmasi adanya kejadian anak hanyut diterjang banjir.

"Iya Solondoko Wetan, anaknya Pak Jalil," ujar Samsul singkat, Sabtu siang. 

"Itu sedang dimakamkan," imbuhnya. 

Komandan Koramil Guntur, Kapten Inf Suyitno, mengonfirmasi adanya anak hanyut terbawa banjir, tepatnya dari Dukuh Solowire, Desa Trimulyo.

"Di Dukuh Solowire ada satu orang yang korban, meninggal anak-anak, kejadiannya kemarin," kata Suyitno, ditemui di Dukuh Solondoko, Sabtu siang. 

Menurutnya korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

"Alhamdulillah. jenazahnya sudah ditemukan dan insyaallah jam-jam sekarang dimakamkan," ujarnya. 

Sebelum kejadian anak tersebut masih bersama orang tuanya di rumah.

Namun karena banjir terus meninggi, ayah korban mengecek kondisi luar rumah.

Tanpa disadari oleh ayahnya, sang anak mengikuti dari belakang hingga akhirnya terbawa arus. 

"Kemudian saat banjir bapaknya kan keluar, ternyata anaknya mengikuti bapaknya tidak melihat, jadi memang saat itu airnya naik," imbuhnya. (Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.