TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kecelakaan lalu lintas melibatkan truk TNI dan sepeda motor di Jalan Utan Jati, Kalideres, Jakarta Barat terjadi pada Jumat (3/4/2026).
Insiden itu mengakibatkan satu orang penumpang sepeda motor meninggal dunia di lokasi kejadian.
Baca juga: Kadispenad Ungkap Truk TNI yang Terlibat Kecelakaan Maut di Kalideres Sedang Angkut Siswa SD
Sementara pengendara motor mengalami luka ringan.
Berdasarkan CCTV, posisi sepeda motor di lajur kiri agak ke tengah.
Baca juga: Investigasi Kecelakaan Pesawat di Bandara LaGuardia, Pengendali Udara Diduga Tinggalkan Pos
Pengemudi sepeda motor K (38), yang berboncengan dengan AM (51).
Di Jalan Utan Jati, Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (3/6/2026) melintas truk dari arah barat ke timur.
Setibanya di lokasi kendaraan tersebut menabrak sepeda motor yang berada di depannya yang melaju searah.
Akibat kecelakaan itu, korban K mengalami luka memar di bagian dahi serta lecet pada kaki.
Ia sempat mendapatkan perawatan di RSUD Kalideres dan diperbolehkan pulang.
Sementara itu, pemboncengnya, AM mengalami luka berat di bagian kepala dan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Kabupaten Tangerang.
Selain menimbulkan korban jiwa, sepeda motor yang ditumpangi keduanya juga mengalami kerusakan.
Petugas kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengamankan barang bukti, serta mencari keterangan saksi di sekitar lokasi.
Koalisi Masyarakat Sipil, Imparsial mengutuk keras insiden truk TNI yang diduga menabrak pemotor wanita di Kalideres, Jakarta Barat hingga mengakibatkan korban tewas di lokasi kejadian pada Jumat (3/4/2026).
Mereka menilai kasus ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan bagian dari persoalan yang lebih besar dalam tubuh institusi militer.
"Insiden ini menambah daftar panjang korban sipil akibat kelalaian maupun tindakan brutal aparat militer," tulis Imparsial dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (4/4/2026).
Menurut Ardi Manto Adiputra selaku Direktur Imparsial, insiden di Kalideres ini menunjukkan adanya kelalaian fatal yang berujung pada hilangnya nyawa warga sipil.
Mereka menegaskan aparat seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan justru menjadi ancaman di ruang publik.
Selain kasus tabrakan tersebut, Imparsial juga menyoroti sejumlah peristiwa lain yang melibatkan anggota TNI, di antaranya kasus pembunuhan bos rental mobil di rest area Tol Jakarta-Merak yang menyeret oknum TNI AL, serta insiden peluru nyasar di Gresik yang menimpa seorang pelajar.
Tak hanya itu, kasus penganiayaan di Sanana, Maluku, hingga penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, turut memperkuat kekhawatiran publik terhadap maraknya kekerasan yang melibatkan aparat militer.
Imparsial menilai rangkaian kejadian ini menunjukkan adanya pola berulang yang mengindikasikan kegagalan sistemik, bukan sekadar pelanggaran individu.
“Maraknya kasus ini merupakan bentuk penyimpangan serius dari mandat TNI sebagai alat pertahanan negara yang tunduk pada prinsip negara hukum dan supremasi sipil,” lanjut Imparsial.
Baca juga: Santri Jadi Korban Kecelakaan, Alumni Gontor Desak Pemkab Ponorogo Segera Perbaiki Jalan Rusak
Imparsial menilai rentetan peristiwa kekerasan yang melibatkan anggota TNI tersebut tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga menebarkan benih ketakutan dan rasa tidak aman di tengah masyarakat.
Ketika aparat bersenjata yang seharusnya melindungi, namun terlibat dalam tindakan yang merenggut nyawa warga sipil, maka yang muncul bukan hanya duka, melainkan teror psikologis kolektif.
"Dapat memunculkan kekhawatiran warga sipil terkait keselamatan dirinya sendiri di ruang-ruang publik, bahkan dalam aktivitas sehari-hari," ujarnya.
Imparsial pun mendesak Panglima TNI untuk bertanggung jawab secara institusional atas kejadian tersebut, termasuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem internal TNI.
Selain itu, pemerintah dan DPR juga diminta segera merevisi regulasi terkait peradilan militer agar tidak lagi membuka celah impunitas.
"Semua kasus kekerasan yang melibatkan militer, wajib diadili melalui peradilan umum," tegas Imparsial.
TNI Angkatan Darat (AD) akhirnya buka suara soal kecelakaan yang melibatkan rombongan truk TNI hingga menyebabkan seorang pemotor ibu-ibu berinisial AM tewas di kawasan Kalideres, Jakarta Barat.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (AD) Brigjen TNI Donny Pramono membenarkan jika truk itu dari satuan Kima Menzikon/CRK Pusziad yang tengah membantu masyarakat.
"Bahwa kejadian tersebut melibatkan kendaraan dinas TNI AD dari satuan Kima Menzikon/CRK Pusziad yang pada saat itu sedang melaksanakan tugas membantu masyarakat, yakni mengantar siswa SDN 05 Kalideres untuk kegiatan LDKS Pramuka ke wilayah Cisarua, atas permintaan resmi dari pihak sekolah," kata Donny dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
Ia mengatakan dari indikasi awal, tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut.
Hal itu berdasarkan penyelidikan di lokasi kejadian.
"Kami perlu menegaskan bahwa dari indikasi awal, tidak terdapat unsur kesengajaan dalam peristiwa ini, melainkan murni kecelakaan lalu lintas," ungkapnya.
Donny mengatakan kecelakaan bermula saat sebuah sepeda motor berusaha menyalip kendaraan truk dari sisi kiri.
Kemudian, pengendara motor itu kehilangan kendali hingga terjatuh dan menimbulkan korban.
"Namun demikian, untuk memastikan penyebab pasti kejadian, proses pendalaman masih terus dilakukan oleh aparat berwenang," ucapnya.
Lebih lanjut, Donny mewakili institusi TNI mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya pengendara sepeda motor tersebut.
"Kami turut berbelasungkawa kepada keluarga almarhumah, serta mendoakan agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini," tuturnya.
Di sisi lain, TNI juga meminta maaf kepada seluruh korban baik luka dan tewas.
Donny menyebut pihaknya siap bertanggung jawab atas insiden tersebut. (Tribunnews.com/TribunJakarta.com)