Dua Orang Terseret Ombak di Pantai Purnama Gianyar Bali, Satu Orang Belum Ditemukan
Putu Dewi Adi Damayanthi April 06, 2026 07:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Perayaan Banyupinaruh di Pantai Purnama, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar riuh, Minggu 5 April 2026. 

Dua orang warga asal Desa Sukawati terseret ombak, yakni Agus Suarsa Dharma (28) asal Banjar Telabah dan Kadek Aditya (19) asal Banjar Kebalian.

Aditya berhasil selamat dan saat ini mendapatkan penanganan medis di RSU Kasih Ibu Saba. Sedangkan Agus belum ditemukan tergulung ombak. 

Bahkan pencarian Agus akan dilanjutkan hari ini pada Senin 6 April 2026.

Baca juga: Kronologis 2 Orang Terseret Ombak di Pantai Purnama Bali, Agus Ingin Menolong Namun Malah Tergulung

Seorang saksi, Kadek Wahyu saat ditemui di Pantai Purnama menjelaskan, sebelum kejadian terjadi, ia bersama dua orang korban, serta sejumlah warga lainnya sempat berenang di pantai sekitar pukul 07.00 Wita. Saat itu, kondisi ombak masih tenang.

Setelah puas berenang, Wahyu naik ke daratan. Saat itu ia melihat temannya, Aditya tergulung ombak. Ia juga melihat Agus berusaha menolong Aditya.

“Aditya dan Agus ini tidak saling kenal. Sementara Aditya sendiri teman saya. Saat kami berenang ombaknya tenang, tapi tiba-tiba saja ombaknya tinggi, lalu menarik teman saya. Saat itu Agus berusaha menolong,” ujar Wahyu.

Dijelaskan bahwa saat keduanya tergulung ombak, teman Wahyu yang lainnya berusaha menolong dengan melemparkan tali pancing. 

Namun tali pancing ini hanya bisa diraih oleh Aditya. Sementara Agus yang jaraknya jauh dari tali pancing tidak bisa menggapai tali tersebut. 

Karena itu, Aditya berhasil dievakuasi keluar, sementara Agus hilang tergulung ombak.

“Aditya saat dievakuasi masih sadar, hanya saja dia lemas, sekarang sudah dibawa ke RSU Kasih Ibu,” ujar Wahyu.

Beberapa saat kemudian, warga Banjar Telabah berdatangan ke Pantai Purnama. 

Mereka datang dengan harapan Agus Suarsa Dharma (28) yang tenggelam saat berusaha menyelamatkan orang tenggelam, segera ditemukan. 

Warga Banjar Telabah sangat dekat dengannya, karena Agus selama ini dikenal sebagai sosok yang baik, suka menolong.

Seorang warga, I Wayan Sudarma membenarkan hal tersebut. 

Kata dia, saat mendengar kabar Agus tenggelam, dirinya tanpa pikir panjang, langsung menuju Pantai Purnama. 

Ia pun berharap bisa ikut membantu proses pencarian. Sebab ia mengenal sosok Agus selama ini sangat baik.

“Sosok Agus, anteng dan rajin. Sosoknya memang baik hati, suka menolong. Dia tinggal di Banjar Telabah sudah lebih dari 14 tahun. Saat saya mendengar adanya kabar Agus tenggelam, langsung ke sini (Pantai Purnama). Berharap agar Agus segera ditemukan,” ujarnya.

Informasi dihimpun Tribun Bali, Agus bukan warga Banjar Telabah, karena orangtuanya tinggal di Sulawesi sebagai transmigran. 

Di Banjar Telabah, Agus tinggal bersama bibinya. Selama ini, Agus bekerja di tempat usaha catering. Ia merupakan anak tunggal.

“Orangtuanya transmigrasi ke Sulawesi, Agus merupakan anak tunggal. Katanya orangtuanya sudah berangkat dari Sulawesi ke sini,” ujar Sudarma.

Pantauan di lokasi, aparat telah datang ke lokasi untuk melakukan pencarian terhadap Agus. 

Mereka terdiri dari Balawista Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gianyar, Polsek Sukawati, Satpolairud Polres Gianyar dan anggota TNI. 

Pejabat yang hadir dalam pencarian kemarin, mulai dari Kasi Ops Basarnas Bali, Wayan Juni Antara, Kabid Kedaruratan BPBD Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta, dan Kapolsek Sukawati Kompol I Nyoman Wiranata.

Dibya mengatakan, proses pencarian korban dilakukan dengan melakukan patroli di laut menggunakan rubber boat Polairud Polres Gianyar dan jukung milik Balawista. 

“Korban terseret ombak sekitar 50 meter dari pesisir. Masih dilakukan pencarian terhadap korban Agus,” jelasnya.

Dibya mengatakan proses pencarian terkendala cuaca. 

“Ombak saat ini cukup tinggi, sehingga proses pencarian relatif sulit,” katanya.

Pencarian Agus terpaksa dilanjutkan hari ini, Senin 6 April 2026. 

Hal tersebut dikarenakan tim masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Agus. 

Dalam pencarian di hari pertama, tim gabungan menurunkan drone, dengan harapan dapat melacak keberadaan korban dari atas udara. Namun hasilnya nihil.

“Hari pertama, pencarian korban terseret arus belum membuahkan hasil. Pencarian akan dilanjutkan besok (hari ini),” ujar Ngurah Dibya.

Ia mengatakan bahwa pencarian pada Senin besok akan dimulai dari  pukul 07.00 Wita dengan penyisiran darat-laut. 

Dukungan alutsista Polair bila tersedia, serta standby lifeguard, PMI, Polri, TNI, Basarnas.

Peristiwa di Pantai Cucukan

Peristiwa pemuda terseret arus juga terjadi di Pantai Cucukan, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. 

Korban I Wayan Putra (28) berhasil tertolong anggota Balawista BPBD Gianyar, namun kondisinya lemas.

Ngurah Dibya membenarkan hal tersebut. Kata dia, saat itu korban mandi bersama tiga orang temannya. Tiba-tiba korban terseret arus, beruntung saat itu ada anggotanya di lokasi. 

“Di sana ada anggota yang stand by di lokasi sehingga korban berhasil diselamatkan. Saat dievakuasi, korban dalam keadaan lemas. Sudah dievakuasi oleh ambulans PMI untuk dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Di tempat berbeda, BPBD Gianyar juga melakukan pencarian orang hilang di Banjar Bentuyung Sakti, Kelurahan/Kecamatan Ubud pada, Minggu 5 April 2026. 

Korban hilang bernama I Wayan Saja (60) dan berstatus belum menikah. Korban dikatakan hilang pada Jumat 3 April 2026, pukul 13:00 Wita.

Ngurah Dibya mengatakan, berdasarkan keterangan dari pihak keluarga diperkirakan korban jatuh di sebelah timur rumah warga yang berupa jurang. 

Diketahui bahwa sebelum dinyatakan hilang, korban mengalami sakit anemia dan sedang dalam fase pengobatan.

Sebelum laporan masuk ke BPBD, pihak keluarga dan warga adat setempat telah melakukan berbagai upaya pencarian, namun tidak membuahkan hasil. 

“Keluarga dan warga sudah berusaha mencari korban, namun belum mendapat hasil sehingga melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Ubud dan diteruskan ke Tim BPBD Gianyar,” ujar Dibya.

Kata Dibya, setelah laporan diterima Tim BPBD, pihaknya langsung menerjunkan enam orang anggota. 

“Anggota telah melaksanakan penyisiran di lokasi pada Sabtu yang diperkirakan korban terjatuh, namun hingga pukul 18.00 Wita, belum ditemukan hasil sehingga penyisiran akan dilanjutkan,” ujar Dibya.

Adapun proses pencarian pada Minggu 5 April 2026 ini, tim yang tergabung dalam pencarian korban ini, di antaranya, Polsek Ubud, TRC BPBD, Bimas dan Babinsa Ubud, Relawan RAPI Ubud dan K9 Polda Bali. 

“Anggota yang ada kita bagi, karena selain orang hilang di Bentuyung Sakti, kita juga atensi pencarian orang terseret ombak di Pantai Purnama,” ujarnya. (weg)

BMKG Rilis Peringatan Gelombang Tinggi

Kabid Kedaruratan BPBD Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati saat beraktivitas di pantai. Sebab kondisi ombak saat ini tidak menentu.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan April ini kondisi ombak cukup tinggi, dan biasanya sering memakan korban. Karena itu kami pun meminta agar masyarakat lebih waspada, ketika ombak terlihat besar, lebih baik jangan mandi. Sebab sangat berbahaya,” tegasnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini gelombang tinggi yang berpotensi mencapai hingga 2,5 meter, kondisi yang bisa membahayakan aktivitas pelayaran, terutama bagi nelayan dan kapal kecil pada pekan kedua April 2026.

Berdasarkan informasi BMKG, peringatan gelombang tinggi ini berlaku mulai 6 April 2026 pukul 07.00 WIB hingga 9 April 2026 pukul 07.00 WIB.

Dalam periode tersebut, tinggi gelombang laut di sejumlah wilayah Indonesia diprakirakan berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter.

BMKG menjelaskan, kondisi gelombang tinggi ini dipicu oleh pola angin yang cukup aktif di wilayah Indonesia. 

Di bagian utara, angin umumnya bergerak dari Barat Laut hingga Timur Laut dengan kecepatan berkisar 2 hingga 20 knot. 

Di wilayah selatan Indonesia, angin bergerak dari Timur hingga Tenggara dengan kecepatan yang juga berkisar 2 hingga 20 knot.

Kombinasi arah dan kecepatan angin ini berkontribusi terhadap pembentukan gelombang di sejumlah perairan. 

Kecepatan angin tertinggi terpantau di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa serta Samudra Pasifik utara Papua, yang menjadi faktor utama meningkatnya tinggi gelombang di kawasan tersebut.

BMKG memprakirakan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di sejumlah wilayah perairan Indonesia, baik di bagian barat, selatan, maupun timur. 

Di wilayah barat, potensi gelombang tinggi terpantau di Samudra Hindia barat Aceh, Kepulauan Nias, Kepulauan Mentawai, Bengkulu, hingga Lampung.

Seperti dilansir Kompas.TV, di sepanjang Samudra Hindia selatan Pulau Jawa, wilayah yang perlu diwaspadai meliputi perairan selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. 

Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di wilayah Samudra Hindia selatan Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain itu, gelombang tinggi juga berpotensi terjadi di kawasan timur Indonesia, seperti Laut Sulawesi bagian timur, Laut Maluku, serta Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua, termasuk Papua Barat Daya dan Papua Barat. (weg/ali)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.