Saat Jenderal Dipensiunkan Dini
Fitriadi April 06, 2026 07:03 AM

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

ESKALASI perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tak hanya panas di Teluk.

Sebulan lebih perang berlangsung di Timur Tengah, mendadak Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memensiunkan dini Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Randy George.

Tak ada penjelasan resmi. Namun, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menorehkan catatan kecil di X pada Kamis, 2 April 2026.

"Jenderal Randy George akan pensiun dari posisinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41, efektif segera. Kami mendoakan yang terbaik untuknya di masa pensiun," tulis Sean Parnell.

Begitulah Pentagon membahasakan peristiwa tersebut. Randy George jelas dipensiunkan dalam bahasa kekuasaan. Kata kerja yang halus untuk sebuah keputusan yang mungkin keras. Sebab, Pete Hegseth tidak sendirian. Di belakangnya, bayang yang lebih besar membersamainya, yakni Presiden AS Donald Trump.

Peristiwa ini sekaligus menjadi penanda bahwa perang bukan sekedar hilang nyawa. Dalam perang, soal kepastian juga menjadi tanda tanya.

Kita tidak pernah tahu apakah seorang jenderal jatuh karena strategi yang gagal, loyalitas yang salah atau sekedar karena salah berdiri di waktu yang tak tepat. Sebab, ada sederet dugaan yang menjadi latar George terkena pensiun dini. 

Dari rangkaian perombakan sebelumnya, George diduga tidak sejalan dengan proyek Hegseth untuk mengendalikan promosi, struktur dan kepemimpinan militer negeri Uwak Sam. Ada juga yang menduga kedekatan George dengan Llyod Austin disebut-sebut sebagai beban. 

Untuk diketahui, Lloyd Austin adalah seorang jenderal purnawirawan Angkatan Darat Amerika Serikat yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS ke-28 (2021–2025) di bawah Presiden Joe Biden.

Ia lahir pada 8 Agustus 1953 di Alabama dan memiliki karier militer panjang lebih dari 40 tahun. Austin dikenal sebagai perwira dengan pengalaman tempur dan komando strategis yang luas, terutama di Timur Tengah.

Austin dikenal sebagai sosok yang relatif tenang, profesional, dan tidak terlalu politis dibanding beberapa pejabat pertahanan lainnya. Namun, posisinya tetap sangat strategis karena ia berada di persimpangan antara militer dan kebijakan politik luar negeri AS. 

Kedekatannya dengan kalangan pemerintahan sebelumnya, terutama dengan Presiden Biden, membuatnya menjadi figur penting dalam jaringan elite pertahanan AS. 

Kembali ke nasib George. Dalam politik, kedekatan dengan Austin ini bisa menjadi ambigu. Ia bisa menjadi modal, atau alasan George untuk disingkirkan. 

Lihat peristiwa militer sebelumnya. Dalam perang Vietnam, jenderal-jenderal diganti bukan hanya karena medan perang, tetapi bisa juga disebabkan tekanan politik di Washington. Begitu juga ketika perang Irak terjadi. Strategi berubah cepat daripada peristiwa di lapangan. 

Carl von Clausewitz, seorang jenderal dan pemikir militer asal Prusia jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa dalam teori perang modern, perang bukan tindakan acak atau semata kekerasan.

Perang menjadi alat mencapai tujuan politik. Negara berperang bukan hanya untuk menang, tetapi untuk memaksakan kehendaknya. Dan ketika perang beririsan dengan politik, kambing hitam diperlukan sebagai pijakan.

Kemungkinan-kemungkinan ini terus bekerja dalam alam kekuasaan. Melalui apa yang bisa dilakukan, atau yang tidak boleh dilakukan. Itu berarti dalam situasi seperti ini, keputusan mengganti orang sering kali bukan soal benar atau salah, tetapi soal kesesuaian dengan arah. 

Masalahnya, ada ironi yang dalam soal arah tersebut. Perang yang terjadi bukan lagi soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang bisa bertahan. Saat itu berlangsung, apesnya penonton justru ikut membayar tiket paling mahal. 

Yuk, kita lihat saat Selat Hormuz terganggu. Dampaknya tidak lokal, melainkan global. Saat kapal tanker berhenti sejenak, harga energi langsung naik, biaya produksi meningkat dan tekanan merembet ke negara-negara nan jauh dari Timur Tengah, termasuk Indonesia. 

Sistem global tiba-tiba bekerja seperti tubuh. Jika satu arteri utama mampet, seluruh organ merasakan dampak.

Atas hambatan di Selat Hormuz, Indonesia menanggung biaya produksi yang kian meningkat, inflasi energi yang menekan rumah tangga dan sektor riil yang kian terjepit.

Hadirnya pun beragam. Ia hadir dalam harga bensin, ongkos logistik dan keputusan-keputusan efesiensi di sederet perusahaan. 

Begitulah sistem bekerja. Entah sedih atau gembira, atas peristiwa perang itu, negara berkembang sering menjadi pihak yang paling terdampak.

Dan dalam jalinan konektivitas global yang kerap dibangga-banggakan, kita justru paling sedikit mengendalikan. Hal ini bukan karena tahu apa yang akan terjadi, tetapi karena terlalu banyak yang tidak diketahui. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.