TRIBUNMANADO.CO.ID, TERNATE – Hingga Senin pagi (6/4/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat akumulasi gempa susulan yang terjadi di kawasan laut Maluku Utara telah menyentuh angka 1.101 kejadian.
Angka tersebut merupakan hasil pemantauan intensif sejak gempa uberkekuatan Magnitudo 7,3 mengguncang pada 2 April 2026 lalu, yang dampaknya turut dirasakan hingga Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Teranyar, wilayah Ternate kembali diguncang gempa tektonik pada Senin (6/4) pukul 05:18 WIB.
Hasil analisis menunjukkan gempa ini memiliki kekuatan Magnitudo 4,4 dengan pusat getaran (episenter) berada di laut, tepatnya 110 km arah Barat Ternate pada kedalaman 35 km.
Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya, menjelaskan penyebab di balik guncangan yang terus berulang ini.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, ini merupakan jenis gempabumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas deformasi batuan Lempeng Laut Maluku," ujar Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya, S.Si., M.T sebagaimana yang dikutip Tribun Manado dari akun facebook BMKG Sulut.
Meskipun frekuensi gempa susulan sudah menembus angka seribu kali, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun jatuhnya korban jiwa akibat rentetan gempa tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada.
Warga diminta tidak mudah memercayai isu-isu liar yang tidak jelas sumbernya. Untuk mendapatkan data yang akurat, pastikan Anda hanya mengakses kanal resmi BMKG melalui:
Website: bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id
Media Sosial: @infoBMKG (Instagram/X)
Aplikasi: InfoBMKG atau WRS-BMKG (iOS & Android)
Telegram: t.me/InaTEWS_BMKG.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi merilis data kerusakan akibat gempa tektonik berkekuatan 7,6 Skala Richter yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut).
Peristiwa gempa bumi yang juga menimbulkan kepanikan tersebut terjadi pada Kamis (2/4/2026)
Berdasarkan laporan terbaru, dampak kerusakan di Sulawesi Utara tersebar di beberapa titik.
Di Kota Manado, guncangan hebat mengakibatkan kerusakan pada satu unit hotel, lima gedung perkantoran, serta fasilitas umum Gedung KONI Sario.
Sementara itu, di Kabupaten Minahasa, tercatat 17 rumah warga, satu kantor pemerintahan, dua rumah ibadah, dan satu akses jalan mengalami kerusakan.
Peristiwa memilukan terjadi di kawasan Gedung KONI Sario, Manado.
Kanopi di sisi sebelah barat gedung tersebut runtuh total dan menelan korban jiwa.
Seorang warga bernama Deice Lahia (69) dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara satu warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Seorang saksi mata, Rasid Poli, menceritakan detik-detik mencekam saat gempa terjadi.
Kala itu, ia sedang beraktivitas mencangkul di samping gedung ketika bumi mulai berguncang hebat.
Dalam kepanikan, ia melihat korban berusaha menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya yang berada tepat di bawah naungan kanopi.
"Ia tertimpa bangunan di bagian tengah kanopi," ujar Rasid yang tampak masih trauma dengan kejadian tersebut.
Deice Lahia dikenal sebagai sosok yang sehari-harinya berdagang di sekitar lapangan KONI Sario.
Korban juga diketahui merupakan kakak kandung dari petinju kawakan asal Sulawesi Utara, Ilham Lahia.
Menurut keterangan saksi lain di lokasi, warga sebenarnya sempat memperingatkan Deice untuk segera berlari menjauh saat getaran mulai terasa.
Namun, korban diduga masih sibuk mengurus tanaman cabai (rica) miliknya sehingga terlambat menyelamatkan diri saat struktur bangunan ambruk.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih terus melakukan pendataan dan mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
Di lokasi kejadian, Rasid Poli hanya bisa terduduk lemas sambil menyesap air putih dan rokok untuk menenangkan diri setelah menyaksikan tragedi yang menimpa kerabat dekatnya tersebut.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini