Disebut Tembak Pasukan PBB, Israel Hilangkan Bukti, Hancurkan 17 Kamera UNIFIL di Lebanon Selatan
Rusaidah April 06, 2026 11:03 AM

 

BANGKAPOS.COM -- Pasukan Israel dilaporkan telah menghancurkan 17 kamera pengawas milik markas utama Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon Selatan dalam kurun waktu 24 jam terakhir. 

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah sejak (2/3/2026). 

Sejak perang Israel-Hezbollah pecah pada 2 Maret, Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) terjebak di tengah pertempuran yang berlangsung di wilayah selatan negara itu.

"17 kamera markas besar telah dihancurkan oleh tentara Israel di kota pesisir Naqura," kata pejabat keamanan PBB yang meminta namanya dirahasiakan, dikutip dari Kompas.com via AFP, Minggu (5/4/2026).

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel mengatakan, kamera-kamera tersebut tampaknya telah dihancurkan menggunakan semacam senjata laser.

Baca juga: Trump Masuk RS Beredar Luas, Gedung Putih Bongkar Kondisi Presiden, Akses Media Dibatasi

Menurutnya, tentara Israel telah melakukan pembongkaran besar-besaran terhadap bangunan-bangunan di wilayah tersebut minggu ini.

Awal pekan ini, Ardiel mengatakan kepada AFP bahwa Israel tidak hanya menghancurkan rumah dan bisnis warga sipil, tetapi kekuatan ledakan menyebabkan kerusakan pada markas UNIFIL.

Tiga Penjaga Pasukan PBB Gugur

Tiga personel pasukan penjaga perdamaian Indonesia dari pasukan PBB gugur dalam dua insiden terpisah selama pekan lalu.

UNIFIL juga melaporkan sebuah ledakan di salah satu pangkalan mereka dekat Odaisseh di Lebanon selatan yang melukai tiga personel pada Jumat (3/4/2026).

GUGUR DI LEBANON - Tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas di Lebanon yaitu (kiri ke kanan) Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Jenazah tiga prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian PBB untuk Lebanon (UNIFIL) ini akan tiba di Indonesia pada Sabtu (4/4/2026) sore.
GUGUR DI LEBANON - Tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas di Lebanon yaitu (kiri ke kanan) Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Jenazah tiga prajurit yang tergabung dalam misi perdamaian PBB untuk Lebanon (UNIFIL) ini akan tiba di Indonesia pada Sabtu (4/4/2026) sore. (Kolase Tribunnews.com)

Namun, mereka belum mengetahui asal ledakan tersebut. Kantor PBB di Jakarta mengatakan bahwa korban luka adalah warga negara Indonesia.

Indonesia pun mengutuk insiden tersebut dan mendesak adanya perlindungan pasukan UNIFIL.

"Peristiwa ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

Israel Disebut Tembak Pasukan PBB

Sebelumnya, sumber keamanan PBB juga mengatakan kepada AFP dengan syarat anonim pada Selasa (31/3/2026), tembakan dari tank Israel adalah penyebab dari gugurnya prajurit Indonesia.

"Puing-puing dari peluru tank telah ditemukan di lokasi kejadian," kata sumber itu.

Baca juga: JK Bakal Polisikan Rismon, Disebut Sosok Pendana di Balik Dugaan Kasus Ijazah Jokowi 

Namun, militer Israel membantah bertanggung jawab atas insiden hari Senin itu.

"Pemeriksaan operasional komprehensif menunjukkan bahwa tidak ada alat peledak yang ditempatkan di area tersebut oleh pasukan IDF," demikian bunyi siaran pers tersebut.

"Tidak ada pasukan IDF yang hadir di area tersebut sama sekali," sambungnya. Dalam pernyataan sebelumnya, disebutkan bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif.

Penugasan di Lebanon Sangat Berisiko Tinggi

Tiga anggota TNI yang bertugas sebagai anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meninggal dunia dalam misi perdamaian dunia di Lebanon.

Jenazah ketiga anggota TNI itu telah tiba di tanah air pada Sabtu (4/4/2026) malam.

Lalu bagaimana sebenarnya kondisi di media tempur, mengapa pasukan perdamaian PBB masalah sering diserang di Lebanon?

Eks Anggota UNIFIL 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian. 

Ia menyebut Israel merupakan pihak yang sering tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006 dan menyulut perang dengan Lebanon.

Baca juga: Deretan Sanksi ASN yang Ketahuan Keluyuran saat WFH Hari Jumat

Menurut informasi dari laman PBB, Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 bertujuan mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel.

Dewan Keamanan menyerukan gencatan senjata permanen yang didasarkan pada pembentukan zona penyangga.

Muhtar menceritakan drone-drone dari Israel selalu masuk ke wilayah Lebanon yang digunakan untuk memantau warga Lebanon.

Pasukan PBB juga tak lepas dari pantauan pasukan Israel.

"Sudah barang tentu drone ini diterbangkan oleh Israel. Selain untuk memantau kegiatan daripada masyarakat Lebanon, juga memplotting dan memapping posisi-posisi atau titik-titik koordinat daripada pasukan-pasukan PBB yang sedang bertugas di Lebanon," ungkap Serma (Purn) Muhtar Efendi dikutip dari Kompas.TV, Senin (6/4/2026). 

Terkait gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas di Lebanon, Muhtar menyampaikan bela sungkawa dan duka mendalam. 

Muhtar mengatakan tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memang memiliki risiko tinggi.

"Penugasan di Lebanon itu memang sangat mengandung risiko yang tinggi walau katakanlah kita sudah dibekali dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) atau rules of engagement (aturan keterlibatan) yang jelas dan nyata," tuturnya. 

Ia mengatakan risiko itu tidak bisa dihindari karena pasukan UNIFIL berada di tengah-tengah dua wilayah yang sedang berkonflik yaitu Israel dengan Lebanon. 

Muhtar juga menjelaskan dalam menjalankan misinya, pasukan penjaga perdamaian tidak boleh memihak kepada salah satu blok, baik ke Israel maupun Lebanon. 

"Karena memang kita misinya murni menjaga perdamaian, bagaimana caranya supaya perdamaian yang sudah dibuat berdasarkan Resolusi (Dewan Keamanan) PBB nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006 itu betul-betul bisa dijalankan oleh kedua belah pihak," katanya. 

TNI Terpilih Sudah Terlatih

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal Maruli Simanjuntak meminta para keluarga dari prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL yang bertugas dalam misi perdamaian dunia di Lebanon untuk tidak risau atau khawatir. 

Ia menyatakan para prajurit terpilih tersebut sudah terlatih dan paham apa yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi di tengah konflik. 

Hal ini disampaikan Maruli usai menjadi Inspektur Upacara penyerahan tiga jenazah TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur dalam tugas misi perdamaian di Lebanon, di apron Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026) malam.

"Nggak usah risau. Sebetulnya mereka juga sebetulnya tahu apa yang harus dilakukan," kata Maruli.

Baca juga: Sejumlah Tokoh Nasional Terseret Isu Ijazah Jokowi, Terbaru JK Dituding Danai Roy Suryo Cs Rp5 M

Ia menjelaskan bahwa setiap penugasan negara, apalagi dalam misi perdamaian dunia di bawah naungan PBB, ada prosedur operasional standar (SOP) mengenai apa yang harus dilakukan di tengah kondisi ketidakpastian.

Namun Maruli tak memungkiri bahwa pasukan TNI yang terpilih bergabung dalam misi menjaga perdamaian dunia tidak lepas dari risiko.

Kendati begitu ia meminta keluarga dari anggota prajurit terpilih tersebut untuk mendoakan segala sesuatunya berjalan dengan baik. 

"Tapi apapun juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut. Yang penting doakan saja, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik," katanya

(Kompas.com/Ahmad Naufal Dzulfaroh/Tribunnews.com/Bangkapos.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.