TRIBUN-PAPUA.COm, JAYAPURA – Kelestarian ekosistem bawah laut di perairan Negeri Laha, Ambon, Maluku, kini menghadapi tantangan serius akibat timbulan sampah dan kerusakan karang.
Guna mengantisipasi degradasi yang lebih luas, Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura meluncurkan program restorasi terumbu karang bertajuk "Harmoni Laut Ambon".
Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) ini dipusatkan di Dusun Air Manis, Negeri Laha.
Dalam pelaksanaannya, Pertamina berkolaborasi dengan Spice Island Resort dan komunitas penyelam lokal untuk mengonservasi keragaman hayati di salah satu destinasi selam mikro (macro diving) terbaik dunia tersebut.
Baca juga: Pertamina Pastikan Harga BBM Tidak Naik, Pasokan Energi Dijamin Aman
Raja Negeri Laha, Yasir Mewar, mengungkapkan wilayahnya merupakan desa wisata unggulan yang menjadi habitat bagi biota endemik, salah satunya ikan kodok atau frogfish.
Namun, keasrian habitat tersebut kian terancam.
"Sayangnya, ekosistem laut di sini semakin terancam oleh banyaknya sampah dan kerusakan terumbu karang," ujar Yasir dalam rilis diterima Tribun Papua, Minggu (5/4/2026).
Ketua Pelaksana Harmoni Laut Ambon, Afik Tuasikal, menambahkan bahwa kerusakan mekanis menjadi penyebab utama merosotnya kualitas terumbu karang.
Salah satu pemicunya adalah aktivitas lego jangkar kapal yang tidak terkendali di area sensitif.
"Jangkar kapal kerap dijatuhkan tanpa titik tambat yang jelas, sehingga menghancurkan struktur karang yang sudah ada," kata Afik.
Untuk memulihkan kerusakan tersebut, tim ahli menggunakan pendekatan teknis dengan memasang modul buatan.
Instruktur selam dari Spice Island Resort, Anwar Madea, menjelaskan bahwa restorasi dilakukan dengan dua metode, yakni spider web dan umbrella web.
"Modul-modul ini diletakkan pada kedalaman sekitar 20 meter dari garis pantai. Kami menanam sedikitnya 50 bibit terumbu karang pada media tersebut sebagai langkah awal pemulihan ekosistem," papar Anwar.
Selain fokus pada konservasi fisik, program ini juga berupaya membangkitkan kembali gairah pariwisata melalui kompetisi foto bawah laut.
Baca juga: Warga Nabire Tidak Perlu Khawatir, Pertamina Pastikan Pasokan BBM Melimpah Usai Lebaran 2026
Sebanyak 18 penyelam, termasuk empat penyelam mancanegara, turut berpartisipasi untuk mendokumentasikan keunikan biota mikro di perairan tersebut.
Keberlanjutan Lingkungan
Manager AFT Pattimura, Febri Nur Faizin, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung keanekaragaman hayati.
Pihaknya berencana memperluas area restorasi di masa mendatang.
"Harapannya, dengan terumbu karang yang sehat, rumah bagi berbagai biota laut akan tetap terjaga. Hal ini secara otomatis akan mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata di Negeri Laha," tutur Febri.
Upaya ini diharapkan mampu mengintegrasikan perlindungan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan warga lokal, sekaligus mempertahankan posisi Ambon sebagai salah satu pilar wisata bahari di Indonesia Timur. (*)