Julin Tukang Becak Percaya Pendidikan Sangat Penting, Bangga saat Anak Diundang Tri Rismaharini
Ignatia Andra April 06, 2026 12:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Julin seorang tukang becak yang sudah bertahun-tahun bekerja di Wonokromo, Surabaya, memiliki pemahaman yang berbeda dari kebanyakan tukang becak.

Jika tukang becak lain hanya punya target bertahan hidup, Julin tidak sekedar itu.

Jarum jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 12.18 WIB, tepat matahari berada tegak lurus di atas kepala.

Seorang pria berteduh di bawah rindangnya pepohonan Jalan Taman Bintoro, Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (5/4/2026).

Di atas kursi becak kayuh, Julin duduk di sadel yang telah usang dimakan usia.

Matanya awas memandang jalan.

Sedikit harapan ada penumpang yang membutuhkan jasanya di tengah maraknya becak listrik dan ojek online.

Meski nominal penghasilan dalam sehari tak menentu, pagi hari menjadi rutinitas keseharian pria berusia 64 tahun itu.

Pembantu rumah tangga, pedagang, dan bakul-bakul sayuran telah menjadi pelanggan setia Julin selama 10 tahun terakhir.

“Kalau di Pasar Pakis mesti dapat, yang naik itu kayak pembantu, orang belanja, dan bakul-bakul yang sudah menjadi langganan saya,” ujar Julin kepada Kompas.com, Minggu (5/4/2026), seperti dilansir TribunJatim.com, Senin (6/4/2026).

Pendapatan dalam sehari

Dalam sehari, jika keberuntungan berpihak, ia bisa mengantongi sekitar Rp 100.000.

Selain itu, tidak ada lagi tempat bagi Junil untuk berharap besar.

Ojek online, becak listrik, hingga becak motor, telah mengikis sedikit demi sedikit pundi-pundi pendapatannya.

Tapi, itu semua bukan halangan bagi dirinya untuk tetap bertahan hidup.

“Kalau di kampung-kampung ya enggak ada. Zaman sekarang ketinggalan sama yang ojek online. Mau makan bakso ae pesan online, langsung datang ke rumah. Kalau saya, ini sudah cukup,” jelasnya sambil tersenyum tipis.

Baca juga: Pengembala Sapi Dilaporkan Hilang di TN Baluran Situbondo, TIM SAR Langsung Turun Tangan

Terkadang, pekerjaan Julin itu tidak sekadar menarik becak.

Ia juga merangkap pekerjaan di sebuah toko bahan bangunan, tempat ia menumpang tidur.

Di sana, ia membantu penjual toko untuk mengangkat semen, pasir, dan bahan-bahan bangunan.

Baca juga: Tak Kuat Menanjak, Truk Tabrak Mundur 2 Kendaraan di Ngawi, 1 Orang Kehilangan Nyawa 

Selain itu, bermodal Surat Izin Mengemudi (SIM) A, biasanya ia juga merangkap sebagai sopir untuk mengirimkan bahan-bahan bangunan yang telah dipesan sang pembeli.

Tidak ada pekerjaan yang ia tolak, selagi halal ia akan lakukan.

“Narik becak ini kalau pagi. Saya kerjanya serabutan, kadang angkat-angkat bahan bangunan dan sopir juga, buat ngantar bahan-bahan bangunan. Siang ini karena enggak ada, saya istirahat di sini,” imbuhnya.

Tetapi, dua pekerjaan itu jauh dari kata abadi.

Kerja serabutan lain

Julin bisa melakukan keduanya itu saat pemilik toko bangunan membutuhkan tenaganya.

Oleh karena itu, pendapatanya pun jadi tak menentu.

Menurut Julin, besar kecil pendapatan di hari itu tidak akan pernah kalah dengan rasa syukurnya.

Di samping itu, satu prinsip kuat yang telah mengakar dalam benak Julin, yaitu tetap berusaha.

“Manusia itu asal berusaha ya orang itu bisa hidup. Ada awan (siang), ada bengi (malam), ada pangan. Makanya kalau masih mau bekerja, manusianya ya bisa hidup. Setelah itu, baru bersyukur dengan yang didapat,” katanya.

Anak bikin bangga

Di balik punggung Julin yang membungkuk, tersimpang kebanggaan seorang ayah.

Anak semata wayangnya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, meski hingga Diploma 3 (D3) Perpajakan.

Sesuatu yang mustahil jika diukur dari latar belakang ayahnya yang bahkan tidak sempat lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD).

Julin memiliki arti tersendiri bagi dunia pendidikan.

Keterbatasan untuk menyelesaikan sekolah yang menimpa dirinya dulu, bukan berarti dirasakan pula oleh anaknya.

“Orang tuanya SD aja enggak lulus. Makanya, punya anak harus berpendidikan. Kita usahakan untuk anak saya tidak merasakan apa yang saya rasakan dulu, pendidikan itu penting,” katanya.

Baca juga: Media Iran Roasting Misi Penyelamatan Pilot Jet F-15: Didramatisasi Bergaya Seperti Hollywood

Selain itu, pada tahun 2015, nama anaknya sempat disebut di tingkat kota.

Kala itu sang anak masih berseragam SMA, terpilih dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).

Ia sempat diundang oleh Wakil Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini.

“Saya pernah diundang Bu Risma, pas anak saya dulu masuk jadi paskibraka,” kenangnya dengan bangga, meski detail peristiwanya kini agak kabur dalam ingatannya.

Di kota yang terus bergerak cepat, Julin tetap mengayuh becaknya.

Tidak berlomba, tidak mengeluh, hanya perlu terus bergerak.

Sebab baginya, hidup adalah soal berusaha.

Meski sang anak dan istrinya tinggal di tepi Kota Surabaya, bukan berarti mereka berpisah.

Julin harus tetap bekerja, untuk hidup dan kesembuhan sang istri yang harus menjalani cuci darah setiap dua kali dalam sepekan.

Pendapatan tukang becak

Berdasarkan rangkuman berbagai laporan media dan penelitian, pendapatan tukang becak di wilayah Surabaya dan sekitarnya tergolong rendah dan tidak stabil.

Sejumlah kisah di media menunjukkan bahwa penghasilan harian mereka umumnya berada pada kisaran puluhan ribu rupiah.

Misalnya, ada tukang becak yang menyebut dahulu hanya memperoleh sekitar Rp15.000–Rp20.000 per hari dan kini meningkat menjadi sekitar Rp60.000–Rp70.000, itupun sering harus ditambah pekerjaan lain seperti memulung untuk mencukupi kebutuhan hidup .

Bahkan dalam kondisi tertentu yang sepi penumpang, penghasilan bisa turun drastis hingga hanya belasan ribu rupiah per hari, sebagaimana dilaporkan media lain .

Pendapatan tersebut bersifat tidak menentu karena sangat bergantung pada jumlah penumpang harian, kondisi cuaca, serta lokasi mangkal.

Ketidaksejahteraan tukang becak terutama disebabkan oleh faktor struktural dan perubahan sosial ekonomi di perkotaan.

Penelitian akademik menunjukkan bahwa mereka termasuk pekerja sektor informal yang tidak memiliki perlindungan kerja, jaminan sosial, maupun kepastian pendapatan.

Persaingan ini diperparah oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi atau layanan berbasis aplikasi, sehingga permintaan terhadap jasa becak terus menurun .

Di sisi lain, banyak tukang becak tidak memiliki keterampilan alternatif, sehingga sulit beralih ke pekerjaan lain.

Faktor lain yang menyebabkan mereka tidak sejahtera adalah keterbatasan akses terhadap modal dan kebijakan yang kurang berpihak.

Banyak tukang becak tidak memiliki legalitas kendaraan atau dukungan kebijakan yang kuat, sehingga posisi mereka semakin terpinggirkan dalam sistem transportasi kota .

Untuk bertahan hidup, mereka sering melakukan strategi “survival” seperti mengurangi konsumsi harian, mengandalkan jaringan sosial sesama tukang becak, atau mencari pekerjaan sampingan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami bukan sekadar akibat malas atau rendahnya produktivitas, tetapi lebih karena tekanan struktural, persaingan modernisasi, dan minimnya perlindungan sosial terhadap pekerja sektor informal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.