Cristiano Ronaldo lagi-lagi viral di dunia sepakbola. Bukan soal gol spektakuler, namun ucapan kata yang diduga 'Bismillah' sebelum mengeksekusi penalti dan mencetak gol untuk Al Nassr.
Momen itu terlihat dalam pertandingan Al Nassr melawan Al Najma dalam lanjutan Saudi Pro League, Sabtu (4/4/2026) dini hari WIB. Ronaldo membantu timnya menang 5-2.
Banyak netizen meyakini bahwa bintang Timnas Portugal tersebut benar-benar mengucapkan 'Bismillah'. Namun, sebagian lain berpendapat berbeda, dan mencoba menerka-nerka gerak bibir Ronaldo.
Tekanan dalam Eksekusi Penalti
Banyak yang masih salah menyangka bahwa penalti hanya sekadar menendang bola mati dari jarak tertentu, sehingga semua pemain sepakbola akan dengan mudah melakukannya.
Lebih dari itu, dikutip dari laman , membuat banyak pemain kesulitan untuk mengatur tubuh dalam keadaan normal. Bahkan, Michael Owen dan David Beckham mengaku kesulitan berpikir normal dan bernapas dengan benar.
Pikiran dan perasaan ini biasanya mewakili kecemasan kognitif pikiran (misalnya, kekhawatiran) dan kecemasan somatik tubuh (misalnya, peningkatan pernapasan, detak jantung, ketegangan otot).
Fight or Flight Saat Eksekusi Penalti
Terlepas apa yang sebenarnya diucapkan oleh Ronaldo, kata-kata yang keluar dari mulutnya merupakan cara untuk membangkitkan fokus, percaya diri, dan mencoba keluar dari tekanan pertandingan.
Saat Ronaldo berdiri di titik putih, ia tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Hasil tendangannya tidak hanya menentukan pertandingan, namun bagaimana publik menilainya, sehingga otak membaca ini sebagai situasi yang penting banget.
Di saat-saat ini peran mekanisme pertahanan diri biasanya aktif, yaitu bernama 'fight or flight response' dan Ronaldo memilih untuk 'fight' dengan menjadi algojo.
Respons fisiologis ini memicu pelepasan adrenalin, meningkatkan detak jantung, ketegangan otot, dan kewaspadaan, yang bertujuan untuk bertahan hidup, baik dengan menghadapi bahaya atau melarikan diri.
Pelepasan hormon secara tiba-tiba mengaktifkan sistem saraf simpatik tubuh sebagai respons terhadap stres akut. Hormon fight or flight meliputi hormon adrenokortikotropik dan hormon pelepas kortikotropin.
Meskipun respons fight or flight terjadi secara otomatis, bukan berarti respons tersebut selalu akurat. Terkadang kita merespons dengan cara ini bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.





