TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Inflasi bulanan (month-to-month) pasca lebaran 2026 di DIY menyentuh angka 0,45 persen pada Maret 2026.
Kelompok pangan hingga transportasi menjadi pemicu utama inflasi, lantaran Februari hingga Maret bertepatan momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Sementara untuk inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) DIY tercatat sebesar 4,08 persen, kemudian inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 0,97 persen.
“Angka ini menunjukkan tekanan harga masih relatif terkendali sepanjang kuartal pertama 2026,” kata Plt Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi DIY, Endang Tri Wahyuningsih, Senin (6/4/2026).
Dia menyampaikan ada lima komoditas yang menjadi penyumbang inflasi terbesar.
BBM menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi, karena termasuk komoditas dengan harga yang diatur pemerintah (administered price) sehingga berdampak luas terhadap komponen inflasi lainnya.
Setelah itu, komoditas daging ayam ras, emas perhiasan, bayam, dan tomat turut menjadi pendorong utama inflasi pada Maret 2026.
"Tekanan serupa juga datang dari kelompok transportasi, seiring dengan fluktuasi harga bahan bakar dan tarif angkutan," ujarnya.
Baca juga: Cara Beli Tiket Kereta Api Go Show,Naik Kereta Eksekutif Dapat Diskon Besar
Sementara secara tahunan, tekanan inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan tarif listrik dan harga pangan.
Kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dari sisi komoditas, lanjutnya, tarif listrik menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar, diikuti emas perhiasan yang terdampak tren harga global.
Beras, daging ayam ras, dan buncis juga masuk dalam lima besar komoditas yang mendorong inflasi sepanjang tahun.
Di sisi lain perbandingan wilayah juga menentukan adanya perbedaan dinamika harga di DIY.
Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi bulanan lebih tinggi sebesar 0,55 persen, dibandingkan Kota Yogyakarta sebesar 0,33 persen.
Namun secara tahunan, Kota Yogyakarta mencatat inflasi lebih tinggi, yakni 4,19 persen, sementara Gunungkidul sebesar 3,98 persen.
"Gunungkidul lebih tinggi secara bulanan, Yogyakarta lebih tinggi secara tahunan. Dua wilayah ini yang menjadi cakupan pemantauan inflasi di DIY menunjukkan pola yang berbeda pada Maret 2026," ungkapnya.
Lebih lanjut, Endang menyoroti komoditas telur ayam ras yang biasanya menjadi pemicu inflasi menjelang Lebaran, namun kali ini relatif terkendali.
"Menarik sekali, telur ayam ras yang biasanya itu kalau lebaran ini kan biasanya banyak buat kue, kemudian permintaan juga tinggi, tapi sudah bisa diantisipasi dengan baik," ujarnya. (hda)