TribunGayo.com, TAKENGON - Ratusan penonton memadati Taman Inen Mayak Teri, Sabtu (4/4/2026) malam.
Baca juga: Sengkewe Sepanjang Musim: Dari Kebun Pegayon, Tama Inen Mayak Teri hingga Meja Sangrai Ortega Coffee
Di sebuah taman kota yang berada di jantung Takengon ruang publik yang sehari-hari menjadi tempat warga berjalan santai dan berkumpul, malam itu berubah menjadi arena teater puisi Tanah Gayo: “Sengkewe Sepanjang Musim.”
Pertunjukan yang digagas Komunitas Desember Kopi Gayo ini bukan sekadar panggung seni.
Ia hadir sebagai kesaksian budaya, sebagai suara dari tanah yang baru saja melewati luka bencana hidrometeorologi, sekaligus sebagai tanda bahwa masyarakat Gayo memilih bangkit melalui seni.
Sesaat setelah pertunjukan dimulai, listrik tiba-tiba padam. Taman menjadi gelap gulita. Sound system berhenti. Para pemain berhenti bergerak. Penonton terdiam.
Namun jeda itu justru menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan itu sendiri.
Seperti bencana yang datang tanpa aba-aba. Seperti gelap yang sempat menutup harapan.
Pertunjukan dihentikan sejenak, menunggu listrik menyala kembali. Setelah cahaya kembali hadir, panggung hidup lagi dan penonton tetap bertahan hingga akhir.
Pemanfaatan ruang publik menjadi kekuatan utama pertunjukan ini.
Para seniman kreatif Tanah Gayo sengaja memilih Taman Inen Mayak Teri, taman yang menabalkan nama seorang pejuang perempuan Gayo dari Sembuang, sebagai lokasi pementasan. Pilihan ini bukan kebetulan.
Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim memang didominasi oleh seniman perempuan.
Dan di dalam seluruh mata rantai kopi Gayo dari menanam, merawat, memanen, hingga menyajikan kopi, perempuan adalah tulang punggung yang sering tak disebut dalam sejarah resmi.
Di taman yang berdekatan dengan Pendopo Bupati Aceh Tengah itu, seni dan sejarah seperti dipertemukan dalam satu malam.
Hadir mewakili Bupati Aceh Tengah, Asisten II Setdakab Aceh Tengah Jauhari, turut menyaksikan pertunjukan yang berlangsung di atas lanskap panggung yang justru dibangun dari simbol-simbol bencana: batang kayu tumbang, reruntuhan material, dan sisa-sisa alam yang ditata ulang menjadi ruang ekspresi.
Penataan artistik digarap oleh Achrial Aman Ega bersama tim artistik, menghadirkan visual kebun kopi pascabencana yang terasa nyata sekaligus puitik.
Pertunjukan dimulai dengan prolog tentang Tanah Gayo sebagai tanah kopi tanah tempat manusia menanam harapan di batang-batang yang tumbuh di lereng berkabut.
Baca juga: Empat Tokoh Budaya Tanah Gayo Ini jadi Pemeran Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim
Kemudian hadir Munalo, ritus masuk ke arena pertunjukan. Lalu canang berbunyi. Dan kabar bencana disampaikan.
Suara itu datang dari kampung. Dari gunung. Dari ingatan.
Adegan bergerak ke Sebuku perempuan Gayo yang dilantunkan Zuhra, ratapan panjang tentang kebun tertimbun, tentang perempuan yang tetap bekerja di ladang, tentang kehilangan yang tidak selalu terlihat.
Empat tokoh lelaki Salman Yoga, Yus Oloh Guwel, Azzam Pegayon dan Win Gemade masuk membawa cerita tentang kebun yang hancur, rumah yang hanyut, beras yang langka, dan perjalanan kaki yang panjang.
Namun mereka tidak berhenti pada kehilangan.
Mereka memilih bekerja. Membersihkan kayu. Mengangkat batu. Menata tanah kembali. Dan akhirnya: ngopi bersama. Di situlah harapan muncul.
Salah satu bagian paling kuat dari pertunjukan ini adalah Tari Kopi perempuan Gayo yang dibawakan Sanggar Tajuk Kepies. Gerak menampi.
Memetik. Menyangrai. Mengolah kopi. Semua menjadi bahasa tubuh tentang ekonomi keluarga Gayo.
Selama ini, perempuan bekerja hampir di seluruh rantai produksi kopi.
Namun peran itu kerap tidak disebut sebagai kekuatan utama ekonomi keluarga.
Melalui pertunjukan ini, perempuan ditempatkan kembali di pusat narasi sengkewe.
Pertunjukan ini melibatkan banyak komunitas seni lintas generasi:
Pertunjukan ditutup oleh Maestro Didong Ceh M Din, yang menghadirkan jangin tentang bencana, perjuangan, dan harapan ditutup dengan doa yang dibacakan secara artistik dalam suasana khusyuk.
Struktur pertunjukan bergerak seperti perjalanan masyarakat Gayo sendiri: bencana, ratapan, kerja bersama, pemulihan, perayaan, sunyi, harapan.
Dan di akhir pertunjukan, empat lelaki berjalan pulang membawa alat kebun di tangan. Hari sudah senja. Namun pekerjaan belum selesai.
Karena kebun kopi Gayo seperti masyarakatnya akan terus hidup sepanjang musim.
Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim diselenggarakan Komunitas Desember Kopi Gayo atas dukungan Dana Indonesiana, LPDP dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai bagian dari upaya pemanfaatan ruang publik dan pemulihan ingatan kolektif masyarakat melalui seni. (***Fikar W Eda***)
Baca juga: Tiga Seniman Gayo Perkuat Tim Artistik Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim